Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Benar dia


__ADS_3

Setelah beberapa saat dokter mengatakan bahwa Alia bisa langsung di bawa pulang karena sudah baik\-baik saja. Dosennya pun langsung menuju ke ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran, sementara Alia di tuntun untuk berjalan menuju ke mobil oleh Vani.


"Kak maaf yah, aku jadi merepotkan" ucap Alia yang masih merasa tidak enak.


"Ngga papa kok, tapi emang kamu beneran ngga ada riwayat penyakit apapun gitu?" tanya Vani yang masih penasaran.


Alia hanya menggelengkan kepalanya dan terdiam.


Setelah menyelesaikan semua urusan di rumah sakit, mereka bertiga langsung kembali menuju ke kampus.


Setibanya di kampus Vani kembali mengantar Alia untuk istirahat di ruang kesehatan.


"Jadi sementara kamu istirahat aja dulu di sini yah, ngga usah ikut kegiatan dulu ngga papa" ucap Vani.


Alia mengangguk, dia duduk di sebuah tempat tidur matras kecil layaknya bed yang berada di rumah sakit.


Vani mulai membuka pembicaraan dengan menanyakan alamat rumah dan asal sekolah Alia supaya tidak terlalu canggung. Mereka mulai mengobrol banyak.


"Jadi kenapa kamu ngga tinggal di asrama aja?" tanya Vani.


"Ngga kak..."


"Tapi rumah kamu cukup jauh loh? dan kamu kaya tadi bisa juga karena kecapekan" imbuh Vani.


"Saya ngga terbiasa tinggal di tempat baru kak" jawab Alia singkat.


"Ya semua orang pasti juga kaya gitu lah, tapi kalau udah lama nanti juga biasa kan?"


Vani terus saja melontarkan pertanyaan yang membuat Alia semakin terpojok, namun Alia masih tetap kukuh untuk menjawab bahwa dia tidak ingin tinggal di asrama atau yang lain, dia hanya ingin berangkat kuliah dan tinggal di rumahnya saja.


******

__ADS_1


Hari pertama itu di lalui oleh Alia dengan hanya duduk di ruang kesehatan yang menurutnya sangat membosankan, dia sebenarnya ingin sekali mengikuti kegiatan lainnya, namun seniornya terus melarangnya karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan lagi. Dia juga berharap supaya Alia bisa kembali mengikuti kegiatan esok harinya lagi.


Kegiatan hari itu selesai di jam setengah enam sore, melebar setengah jam dari yang sudah di jadwalkan yaitu jam lima sore. Alia memutuskan untuk langsung pulang supaya bisa terkejar untuk sholat Maghrib di rumah, karena perjalanannya sekitar satu jam jadi dia perkirakan bisa sholat di rumah, namun saat di tengah perjalanan dia mendengar suara adzan Maghrib jadi memutuskan untuk mampir di sebuah masjid dan sholat Maghrib terlebih dahulu.


Setelah selesai sholat, Alia melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah, begitu sampai ia langsung membersihkan diri dan masuk ke kamarnya.


Dia mulai membuka lembaran buku dan alat tulisnya, memulai untuk membuat tugas yang harus di bawa besoknya.


Tanpa terasa waktu sudah jam sembilan malam dan tugas yang sedang Alia kerjakan masih belum selesai juga.


"Ah pusing aku! ini tugas kenapa banyak banget si! dikira ini robot kali ya!" Alia terus menggerutu.


Namun tiba-tiba dia teringat kejadian yang menimpa dirinya tadi siang, bahwa rasa sakit yang ia rasakan adalah nyata. Begitu sakit sampai membuatnya sulit untuk bernafas, dan cengkeraman tangan yang menekan lehernya dengan kuat sehingga ia benar-benar menjadi kaku karena menahan rasa sakit itu.


"Tapi tangan yang menekan leherku itu, aku benar-benar bisa merasakannya, dan tadi aku bahkan memegangnya, tapi kenapa? kok bisa sih?" Alia terus bertanya-tanya pada dirinya mengapa tangan itu terus berusaha untuk menekan leher Alia dan membuatnya sulit untuk bernafas.


"Hah! sudahlah anggap saja kamu sedang berkhayal Alia! sekarang selesaikan tugas oke!" Alia bicara pada dirinya sendiri dan mencoba meyakinkan untuk segera menyelesaikan tugasnya.


Keesokan harinya Alia berangkat seperti hari kemarin. Tepat jam lima pagi semua orang sudah berkumpul di lapangan utama untuk melaksanakan kegiatan awal, mulai dari pemeriksaan perlengkapan, absensi sampai sarapan pagi, semuanya dilakukan di lapangan utama.


Kurang lebih jam delapan pagi kegiatan awal di lapangan selesai, dan setelah itu semua mahasiswa baru mengikuti kegiatan lainnya di dalam ruangan.


Di sisi lain Irfan yang baru datang ke kampus tanpa sengaja melihat lagi hal yang ia lihat kemarin, dan itu membuatnya menjadi semakin penasaran.


"Vani!" teriak Irfan yang melihat Vani berjalan menuju ruang kesehatan. Kebetulan Vani merupakan teman sekelas Irfan, jadi dia mengenalnya dengan baik.


"Eh iya kenapa Fan?" tanya Vani.


"Boleh nanya ngga?"


"Ya nanya apa?"

__ADS_1


"Junior yang kemarin dibawa ke rumah sakit itu... kenapa?" ucap Irfan agak ragu.


"Oh Alia? agak aneh sih, gejalanya udah kaya orang sakit parah gitu, tapi pas di bawa ke rumah sakit ternyata ngga sakit apa-apa" jelas Vani.


"Alia?" Irfan kaget mendengar nama itu.


"Iya namanya Alia. Oh iya aku kemarin nanya-nanya, kalau ngga salah dia juga dari sekolah yang sama kaya kamu loh, MA mana yah...?"


"Oke makasih!" Irfan tiba-tiba langsung pergi meninggalkan Vani tanpa berkata-kata lagi.


"Eh... kok pergi gitu aja si? dasar aneh!" Vani pun langsung pergi menuju ke ruang kesehatan.


Sementara itu Irfan menuju ke taman belakang dan duduk di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.


"Apa benar itu dia? kalau iya, kenapa dia masih saja bodoh sampai sekarang?" ucap Irfan pelan.


"Jadi sosok yang kemarin itu? apa iya dia bahkan tidak sadar? atau ada sesuatu lain yang menutupi?" Irfan terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan kembali mengingat hal yang kemarin ia lihat dengan jelas.


Tadinya ia mengira bahwa dirinya mungkin hanya salah lihat saja, namun setelah ia tahu bahwa junior yang kemarin itu adalah Alia, dia menjadi semakin yakin bahwa yang kemarin ia lihat itu jelaslah sosok buruk rupa yang mencoba untuk mencekik Alia dari belakang.


Saat pertama kali ia melihat ada junior yang di angkat menggunakan tandu dan di bawa ke mobil, sebenarnya ia juga melihat sosok yang sangat buruk rupa, wajahnya bahkan seperti kayu busuk yang dipenuhi dengan belatung, seluruh tubuhnya seperti kayu tua dengan bentuk yang panjang, dan kedua tangan panjangnya yang sedang mencekik leher Alia dari atas. Beberapa kuku panjangnya bahkan menusuk ke dada Alia sehingga menjadi sulit untuk bernafas.


Yang membuat Irfan tidak yakin dengan apa yang ia lihat kemarin adalah, saat tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa Alia sudah di ganggu oleh mahluk halus padahal dosen yang bertanggung jawab atas acara itu biasanya mampu melihatnya.


"Jadi kenapa ngga ada yang sadar? dan ngga ada yang tau kalau sakitnya dia itu karena di cekik sama si buruk rupa itu? padahal pak Yahya kan biasanya bisa ngobatin orang yang diganggu oleh hal kaya gitu?"


Pak Yahya adalah dosen yang bertanggung jawab dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan sekarang, sejak dulu dia memang dikenal bisa melihat mahluk halus dan mampu mengobati orang-orang yang mengalami kesurupan. Namun kali ini ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang sedang di alami oleh Alia, seperti ada orang yang menutup matanya.


Irfan menjadi semakin tidak mengerti dengan yang ia lihat sekarang, dia merasa ada orang yang sengaja menutupi kejadian yang dialami oleh Alia kemarin, namun entah kenapa rasa pedulinya itu menjadi semakin besar kepada Alia.


"Eh tapi kenapa aku jadi peduli banget sama dia ya? ah udahlah mendingan aku me kantin!"

__ADS_1


__ADS_2