Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Rambut panjangnya...


__ADS_3

Azam lalu memutar tubuh Alia sehingga membelakanginya, ia lalu menyuruh Alia untuk duduk di kursi, lalu ia melepaskan ikat rambut Alia dan menggerai nya.


Alia masih heran dengan tingkah Azam, dalam hatinya bertanya-tanya apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Azam.


"Boleh aku menyisir rambut kamu?" tanya Azam.


Alia hanya mengangguk meskipun ia tadi sempat kaget saat mendengar perkataan itu. Rambut panjang itu kini tergerai dan menutupi seluruh bagian punggungnya sampai ke pinggang karena rambutnya yang begitu panjang sampai melebihi pinggangnya.


Bentuk rambut Alia sangatlah lurus dan lembut meskipun hampir setiap hari ia mengikatnya dan selalu ia gulung menggunakan ikat rambut, namun volume rambutnya sangatlah tipis.


"Kamu... nggak marah kan kalau ternyata rambutku... aku warnai seperti ini" ucap Alia agak ragu.


Azam menggelengkan kepala sembari tersenyum.


"Aku tahu kamu punya alasan untuk ini" ujar Azam.


Perlahan ia menyentuh rambut Alia mulai dari bagian atas kepala sampai ke ujungnya.


Dengan pelan Azam pun menyisir seluruh bagian rambut panjang milik istrinya itu. Ia sungguh merasa kagum dengan keindahan rambut panjang yang dimiliki oleh Alia.


Setiap kali menyentuh helai rambut itu, tangan Azam sebenarnya merasa sangat kesakitan karena rambut itu seperti membakar tangannya, namun ia tetap berusaha untuk tenang dan memperlihatkan senyum di wajahnya yang terpantul di cermin dan di lihat oleh Alia.


Ini adalah pertama kalinya Azam melihat keseluruhan dari rambut Alia dan juga menyentuhnya, rambut yang sejak awal pertama mereka kenal sudah membuat Azam sangat penasaran karena aura negatifnya yang begitu besar.


Kini dirinya mulai memahami semua tentang Alia, tentang hal yang selalu membuatnya berubah-ubah mengikuti suasana hatinya dan juga hal yang membuat pikirannya mudah terganggu. Ternyata semua itu terletak pada rambutnya, rambut yang ternyata selalu di gunakan sebagai tempat tinggal ternyaman oleh mahluk bergaun putih panjang, berwajah sangat cantik dan berambut panjang dengan warna yang sangat hitam. Mahluk yang selalu keluar di saat menjelang tengah malam dan menguasai raga Alia, yang selalu merasa tidak terima jika ada mahluk lain yang ingin memasuki raga Alia, dan ternyata mahluk itu adalah sesepuhnya sendiri.

__ADS_1


"Mas..." ucap Alia pelan.


"Ya kenapa? kamu tidak suka aku menyisir rambutmu seperti ini?" tanya Azam.


"Bukan itu, sebenarnya... aku selalu takut ketika melihat pantulan wajahku di cermin saat malam" ujar Alia.


"Sekarang tidak perlu takut lagi"


Azam meneruskan untuk menyisir rambut Alia sampai selesai, tangan kirinya mulai gemetar karena menahan sakit yang terus menusuk jari jemarinya, namun tangan kanannya tetap berusaha untuk menggerakkan sisir dari atas ke bawah, dia seperti sedang perang telepati dengan mahluk yang bersemayam di dalam rambut Alia.


Sebenarnya Alia merasakan ada hal aneh yang terjadi pada dirinya, namun ia tetap berusaha untuk diam karena menghargai Azam yang terlihat begitu serius menyisir rambutnya. Tak lama kemudian perasaan Alia menjadi semakin tidak enak, pikirannya kacau dan mulai tidak bisa mengendalikan diri lagi. Kepalanya terasa panas seperti terbakar, ia melihat ke arah cermin yang berada di depannya, namun yang ia lihat sekarang bukan lagi bayangan wajahnya, melainkan bayangan wajah perempuan yang selama ini membuat Alia merasa takut ketika bercermin di malam hari.


Alia bangun dengan cepat dan langsung membalikan badannya menghadap Azam. Kedua matanya melotot dan raut wajahnya sudah berubah menjadi sangat marah.


Alia berjalan mendekati Azam dengan sangat pelan sembari memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, wajahnya menunjukkan ekspresi seperti ingin segera melahap dan melenyapkan orang yang berada di hadapannya sekarang. Suasana menjadi sangat hening karena hari yang sudah semakin malam.


Alia tertawa dengan kerasnya, namun Azam hanya berdiri sambil terus berdoa, pandangan mata Azam fokus pada kedua mata Alia yang memiliki tatapan kosong karena pikirannya sedang di kuasai oleh mahluk yang bersemayam dalam rambut indahnya. Tidak ada orang lain yang bisa mendengar suara tawa itu, karena suara tawa itu keluar dari mulut Alia di alam bawah sadarnya, dan hanya orang yang berada di dalam ruangan itu saja yang bisa mendengarnya.


"Ampun purun-purun pirsa tirah tebih, nopo maleh kantos mekewedi bab ingkang dede urusanmu (jangan berani-berani melihat lebih jauh, apa lagi sampai mengganggu hal yang bukan urusanmu)" Alia mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang sangat lembut dan pelan namun juga tajam.


"Kawula wanti-wanti panjenengan!" ucap Alia dengan suara yang berat.


Suara itu memang berasal dari mulut Alia, namun sangat jelas itu tidak seperti suara Alia yang biasanya. Dia kini berdiri tepat di depan Azam dengan jarak yang sangat dekat, rambut panjangnya berantakan dan sebagian menutupi wajahnya, itu membuatnya terlihat menakutkan dan sangat mirip dengan mahluk yang kini sedang merasukinya.


"Dengar! kamu boleh mendekati keturunanku, tapi kamu sama sekali tidak boleh mengganggu apalagi sampai menyakitinya! jika kamu berusaha untuk menghilangkan aku, maka kamu akan membuatnya kehilangan sebagian dari dirinya!" ucap Alia dengan nada yang sangat datar, ia juga masih berbicara menggunakan bahasa Jawa kromo layaknya orang tua jaman dulu.

__ADS_1


Azam terdiam setelah mendengar kata-kata itu, dia merasa sangat terkejut setelah mendengar pernyataan dari sesepuh Alia itu.


Azam memang berniat ingin menghilangkan aura negatif yang menempel pada rambut Alia itu, namun ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata itu adalah bagian dari diri Alia.


Tak lama setelah itu Alia kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan. Dengan cepat Azam pun langsung menangkap Alia dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Azam duduk di samping Alia sembari memandangi wajahnya. Dia merasa bersalah karena sudah melakukan hal yang mungkin mengganggu dan membuat tubuh Alia merasakan sakit. Mulai saat itu, bertekad untuk tidak lagi mengganggu mahluk yang bersemayam di rambut Alia dan berusaha untuk menerima kelebihan yang dimiliki istrinya itu.


Setelah itu ia pun bangun dan berusaha untuk membalut luka di tangan kirinya, lalu ia kembali duduk di samping Alia dan menunggunya bangun.


"Mas..." ucap Alia yang tiba-tiba membuka matanya.


"Ragasy kamu sadar?"


Alia mencoba untuk bangun dan duduk di samping Azam, dia melihat tangan kiri suaminya yang di balut kain kasa dan langsung meraihnya.


"Kamu terluka lagi? maafin aku yah, aku selalu saja membuat kamu terluka seperti ini" ucap Alia pelan.


"Hei kenapa ngomong gitu? ini bukan karena kamu kok, justru aku yang harusnya minta maaf karena tadi sampai buat kamu pingsan" jawab Azam.


Alia bertanya apa yang terjadi, dan Azam pun menjelaskan semuanya tanpa ada yang ia tutupi, ia berpikir bahwa mungkin akan lebih baik jika mereka saling terbuka dan tidak menutupi apapun satu sama lain.


Raut wajah Alia berubah setelah mendengar semua penjelasan Azam, dia melihat ke arah rambutnya dengan penuh rasa cemas.


"Kamu jangan takut, tadi memang aku yang salah, kalau aku tidak mengganggunya duluan pasti tidak akan terluka" ujar Azam yang mencoba menenangkan Alia.

__ADS_1


Alia hanya tersenyum lalu memeluk Azam, Azam pun membalas pelukan Alia dan mencoba membelai rambutnya, namun ia kembali merasa terkejut karena tangannya sama sekali tidak merasa sakit saat menyentuh rambut Alia.


__ADS_2