
Pulang sekolah, seperti biasa Aldi menunggu Alia di gerbang sekolah.
"Cieee udah ada yang nungguin" Afi meledek Alia sambil melirik ke arah Aldi yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.
"Apaan si kamu!" ucap Alia agak kesal kepada Afi.
Afi pun pergi meninggalkan Alia, sementara Alia masih berdiri terdiam, dia kembali mengingat soal Dina.
"Kamu kenapa? kok malah ngelamun disini?" tanya Aldi yang ternyata sudah ada di sampingnya.
"Eh nggak kok nggak papa. Aku pulang dulu yah" Alia pergi meninggalkan Aldi, kebetulan ada bus yang lewat jadi dia langsung naik dan pulang ke rumahnya.
*****
Di kamar Alia...
Alia membuka sebuah kotak yang sudah lusuh dan ia simpan di lemari nya.
Kotak itu terbuat dari plastik namun cukup tebal, berbentuk kecil dan berwarna silver.
Alia meniup kotak itu dan membersihkan nya dari debu yang menyelimuti nya.
Perlahan Alia membuka kotak itu, dia dalam kotak itu ada sebuah kalung monel dengan hiasan magnet hitam berbentuk hati, Alia mengambil kalung itu perlahan dan menatap nya. Ia kembali teringat dengan masa lalu yang pernah ia alami bersama kalung itu.
"Mungkinkah, ini akan terulang kembali? atau mungkinkah, ini memang sudah menjadi takdir ku?" ucap Alia pada dirinya sendiri sembari terus menatap kalung itu.
Tanpa terasa, air matanya mengalir dan membasahi pipinya, ia kemudian menangis sejadi-jadinya. Tapi ia berusaha tidak mengeluarkan suara agar tidak ada orang yang tahu bahwa dia sedang menangis.
"Sudah cukup! mungkin ini memang sudah menjadi jalanku!" ucap Alia pada dirinya lagi.
Tak lama kemudian muncul sosok wanita yang selalu ia sebut sebagai Mawar, ialah sosok yang selalu hadir saat Alia merasa sedih dan membutuhkan seorang teman. Sosok itu masih sama, memakai dress putih sepanjang lutut dengan lengan pendek dan rambut panjang sebahu yang tergerai. Wajahnya yang begitu cantik dan bersinar, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa tenang.
Sosok itu kembali tersenyum sambil menatap Alia, seolah dia sedang berkata pada Alia untuk jangan lagi bersedih. Tak lama setelah Alia tenang, sosok itu pun kembali menghilang.
*****
Keesokan harinya,,, Alia berangkat sekolah seperti biasa. Namun dia bersikap begitu diam, bahkan saat bertemu dengan Aldi, dia tidak berkata apapun sampai membuat Aldi bingung.
"Al kamu kenapa si?" tanya Afi yang heran melihat sikap Alia.
"Nggak papa kok, lagi nggak pengin di ganggu aja" jawab Alia singkat.
__ADS_1
Afi pun terdiam, dia tidak berani menanyakan banyak hal karena dia tahu betul bagaimana sifat Alia.
Saat jam istirahat, Alia dan Afi masih duduk di kelasnya. Mereka masih sibuk mengerjakan tugas yang belum mereka pahami.
Aldi mencoba menghampiri mereka berdua, namun tiba-tiba Alia pergi tanpa mengucapkan apapun.
"Alia tunggu!" teriak Aldi namun Alia tetap saja pergi.
"Fi, Alia kenapa?" tanya Aldi
"Aku juga nggak tahu, dia cuma bilang kalau dia lagi nggak pengin di ganggu" jawab Afi
"Kayaknya kamu harus biarin dia buat sendiri dulu deh" imbuhnya lagi.
Aldi hanya terdiam, dia lalu pergi meninggalkan Afi sendirian di kelas.
Saat pulang sekolah, Aldi kembali menunggu di gerbang sekolah, sepertinya Alia masih saja menghindar. Namun Aldi memaksa dan membawanya ke taman belakang sekolah.
"Kamu apaan si! aku tu mau pulang!" teriak Alia yang kesal.
"Aku nggak akan biarkan kamu pulang sebelum kamu jelasin!" jawab Aldi dengan tegas.
"Aku nggak perlu jelaskan apapun! dan ini bukan urusan kamu!" ucap Alia dan hendak pergi, namun Aldi kembali menarik tangannya.
Aldi pun kaget ketika melihat nya menangis, dia jadi merasa bersalah dan meminta maaf, tapi Alia masih saja menangis.
"Aku minta maaf, aku nggak bermaksud buat kasar sama kamu Al" ucap Aldi yang mulai panik.
"Tapi aku cuma ingin tahu alasan kamu selalu menghindar dari aku" imbuhnya lagi.
Alia berhenti menangis, dia terdiam dan melihat ke arah Aldi.
"Kamu mau tahu kenapa?" tanya Alia dengan suara yang masih gemetar.
Aldi hanya mengangguk, dia begitu ingin mendengar jawaban dari pertanyaan nya itu.
"Aku cuma nggak ingin kamu kenapa-kenapa!" ucap Alia singkat.
Aldi masih bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Alia.
" Ya! aku mau kamu jauhi aku! karena kalau kamu deket-deket sama aku, kamu mungkin bakalan celaka" tanpa sadar air matanya kembali menetes, dia kembali mengingat kejadian itu.
"Maksudnya apa! kenapa kamu ngomong gitu!" Aldi masih tidak terima dengan perkataan Alia.
__ADS_1
"Aku ini aneh! pembawa sial! orang yang deket sama aku, semuanya pernah celaka!" ucap Alia dengan suara yang lemas.
"Aku nggak peduli!" jawab Aldi.
Dia tidak percaya dengan ucapan Alia, dan meskipun itu benar, Aldi tetap tidak percaya dengan perkataan Alia.
Aldi mencoba menenangkan Alia dan meyakinkan bahwa dia tidak akan kenapa-kenapa.
Namun mata Alia masih memperlihatkan rasa takut yang pernah ia alami.
Aldi mencoba bertanya pada Alia tentang apa yang pernah terjadi sampai membuat nya bersikap seperti sekarang.
Alia masih saja diam, dia masih enggan untuk menceritakannya, karena ia sebenarnya sudah tidak ingin lagi mengingat hal itu.
Namun Aldi bersikeras untuk membujuk Alia, sampai akhirnya dia mau bicara.
"Jadi kamu mau tahu?" tanya Alia pelan.
Aldi mengangguk seolah berkata bahwa ia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari Alia.
"Tapi kamu harus janji, buat nggak kasih tahu ke siapapun!"
"Ya aku janji!" jawab Aldi.
Alia kemudian menghela nafasnya, dan mencoba menenangkan dirinya.
Dia lalu membuka tasnya dan mengambil sesuatu.
Itu sebuah kotak yang kemarin ia keluarkan dari lemari nya.
Aldi hanya heran kenapa Alia malah mengeluarkan kotak yang sudah usang itu.
Alia membuka kotak itu dan mengambil isinya, ia memperlihatkan kalung monel itu kepada Aldi.
"Kenapa kamu kasih lihat ke aku? dan kalung siapa itu?" tanya Aldi yang begitu penasaran dengan kalung itu.
"Ini satu-satunya peninggalan dari dia yang aku masih punya" ucap Alia sambil terus menatap kalung itu.
Alia lalu menggenggam nya dan memasukkan nya kembali ke dalam kotak.
"Punyaku" jawab Alia singkat.
"Oh apa kalung itu dari pacar kamu? atau mungkin karena itu kamu minta aku buat jauhin kamu?" ucap Aldi dengan nada kecewa.
"Tapi kalaupun bener kamu udah punya pacar, aku tetep nggak akan jauhin kamu! aku udah anggap kamu seperti adik aku!" jelas Aldi.
"Maksudnya!?" Alia kaget mendengar pernyataan Aldi.
"Ya! aku cuma pengin jadi orang yang selalu ada buat kamu, kamu mau kan anggap aku sebagai kakak kamu?" tanya Aldi.
Alia hanya terdiam, dia merasa bingung dengan apa yang diucapkan Aldi.
__ADS_1