
Azam kembali berjalan menuju ke ruang keagamaan dan menyimpan gelang yang di berikan Alia itu ke dalam tasnya karena tidak ingin orang lain melihat, terutama Nafisah.
Setelah dua jam berlalu akhirnya kelas Alia selesai, dia melihat ke arah jam tangannya dan berfikir bahwa kegiatan keagamaan mungkin belum selesai, jadi dia berniat untuk datang meskipun terlambat.
"Wah kayaknya masih bisa deh ke ruang keagamaan" gumam Alia sembari membereskan buku tulisnya.
"Alia..."
Saat Alia sedang sibuk membereskan buku, tiba-tiba saja Meisya menghampiri Alia yang masih duduk di kursinya, Meisya berdiri tepat di depan Alia, tatapan matanya masih dingin dan terlihat tidak menyukai Alia.
"Eh Meisya... kenapa?" tanya Alia yang agak sedikit kaget.
"Kamu nggak papa? gimana keadaan kamu?" tanya Meisya.
Alia tertegun, dia menjadi bingung seketika mendengar pertanyaan dari Meisya karena seharusnya dialah yang bertanya seperti itu kepada Meisya.
"Emm aku? Alhamdulillah baik-baik aja, emangnya kenapa?" ucap Alia dengan nada gugup.
"Nggak papa kok, cuma nanya aja"
"Yah seharusnya bukannya aku yang nanya kaya gitu sama kamu yah? kan kamu yang masih terluka karena habis kecelakaan?"
Meisya hanya diam dengan tatapannya yang sangat sinis lalu pergi meninggalkan Alia begitu saja.
"Ih dasar aneh! itu anak kenapa si?" gumam Alia.
Alia pun melanjutkan beberes nya dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju gedung fakultas keagamaan dan bergabung dengan teman organisasi yang lainnya.
"Assalamualaikum..." ucap Alia pelan.
"Walaikumsalam..." terdengar jawaban kompak dari seluruh anggota yang berada dalam ruang keagamaan.
"Maaf kak saya terlambat, tadi habis ada kelas" ucap Alia.
"Oh iya nggak papa, silahkan duduk dan bergabung dengan yang lainnya" ucap senior yang sedang berbicara di depan.
Alia pun segera duduk dan bergabung dengan yang lain. Sebenarnya untuk pertemuan kali ini Alia bisa saja tidak ikut, tapi tema pembahasan kali ini adalah persiapan untuk menyambut kegiatan ospek mahasiswa baru, jadi sangat sayang sekali jika Alia melewatkan, karena dia akan kesulitan mengimbangi jika sudah tidak tahu dari awal.
__ADS_1
Waktu memang berlalu begitu cepat, namun dalam waktu yang cepat itu juga ada begitu banyak hal yang terjadi di dalamnya, tanpa terasa beberapa bulan lagi Alia akan segera memasuki semester 5 dalam kuliahnya, begitu juga dengan Irfan, dia akan segera memasuki semester 7.
Setelah kurang lebih 1,5 jam berlalu, akhirnya kegiatan tersebut pun diakhiri, semua anggota diperbolehkan untuk keluar ruangan dan pulang. Alia pun bersiap untuk segera keluar dari ruangan dan berniat untuk pulang.
"Sayang, ikut aku sebentar yah, aku mau ngomong sama kamu"
Irfan tiba-tiba menghampiri Alia dan berucap dengan pelan kepadanya.
"Kemana?" tanya Alia.
"Udah ayo ikut aja"
Alia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan Irfan untuk keluar ruangan.
"Rekan Alia Ragasy, bisa tinggal sebentar?"
Saat baru sampai di depan pintu, tiba-tiba saja terdengar suara senior yang memanggil Alia kembali ke dalam ruangan untuk membahas sesuatu.
"Kak, aku di panggil, aku ke dalam dulu sebentar yah?" tanya Alia.
"Ya, nanti aku tunggu di taman dekat parkiran yah"
"Iya iya, nanti aku ke sana secepatnya"
"Saya Alia kak, ada apa yah?"
"Saya dengar kamu dulu ketua PMR sewaktu di MA yah?" tanya senior itu.
"Iya kak, kenapa yah?"
"Jadi gini, untuk persiapan ospek tahun ini kan semua organisasi bekerjasama, kebetulan KRS kita agak kekurangan anggota, apa kamu mau buat bantu pas kegiatan nanti?"
Alia masih terdiam karena bingung harus menjawab apa.
"Kebetulan kan kamu pernah jadi ketua pas di MA, jadi pastinya pengetahuan kamu sudah lumayan, dan kita nggak perlu repot mengajari dari awal lagi karena waktunya udah nggak lama lagi, gimana?" imbuh senior itu.
Alia pun akhirnya mengangguk setuju, karena pada dasarnya dia memang suka pada kegiatan tersebut, namun sejak awal masuk kuliah dia tidak ikut organisasi itu karena ingin fokus pada kuliahnya.
"Ya sudah, jadi mulai Minggu depan kamu ikut rapat dengan anggota KRS juga yah?"
"Insyaallah, kalau begitu saya permisi dulu yah, assalamualaikum" ucap Alia dengan senyuman.
__ADS_1
"Walaikumsalam"
Alia pun berjalan keluar dari ruangan itu dan segera menuju ke taman dekat parkiran, karena di sana Irfan pasti sudah menunggunya.
"Ragasy..."
Alia kembali berpapasan dengan Azam dan membuat langkahnya terhenti.
"Eh Arrafi, kenapa?"
"Emm untuk sementara ini, gelangnya aku simpan dulu yah?" tanya Azam.
"Oh itu, iya nggak papa kok, lagian aku emang pengen buang mahluk itu, cuma bingung aja mau buang ke mana" ujar Alia.
"Oh begitu, oh iya kedepannya kamu lebih hati-hati lagi yah, jangan sampai pikiran kamu kosong ataupun melamun, karena itu memudahkan mereka buat mengganggu kamu" imbuh Azam.
"Iya iya, aku tahu kok, ya udah aku duluan yah assalamualaikum"
"Walaikumsalam..."
Alia tersenyum dan kembali berjalan, begitu juga dengan Azam, dia berjalan menuju ke ruangan untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
Saat baru beberapa langkah meninggalkan Azam, tiba-tiba saja perasaan Alia menjadi tidak enak, dia pun berbalik dan melihat Azam yang sudah mulai berjalan menjauh. Alia terus menatap ke arah Azam, meskipun hanya terlihat bagian belakangnya saja, namun rasa tidak enak itu menjadi semakin kuat.
"Apa ini? biasanya aku tidak seperti ini. Arrafi, apa kamu akan baik-baik saja?"
Alia bergumam dalam hati dengan tatapan masih menuju ke arah Azam yang semakin jauh, tanpa terasa air mata Alia mengalir entah apa alasannya, dia merasa akan ada hal buruk yang menimpa Azam.
"Astaghfirullah... perasaan apa ini? kenapa hatiku gelisah sekali? semoga saja tidak terjadi apa-apa" ucap Alia pelan.
Alia kembali berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju ke taman. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba saja ia tersandung dan jatuh ke lantai.
Perasaan hatinya menjadi semakin tidak enak, seolah hal buruk sedang terjadi di depan matanya.
Mata kaki kanannya terluka karena ada keramik pecah yang menggores kakinya, meskipun Alia memakai kaus kaki, namun pecahan keramik itu begitu tajam sehingga menembus kaus kakinya dan membuat kakinya berdarah.
"Astaghfirullah... apa lagi ini? baru saja di bilang suruh hati-hati, tapi malah langsung begini!"
Alia menggerutu dengan posisi masih terduduk di lantai, dia langsung melepas ke dua kaus kaki yang ia kenakan dan mengelap luka di kakinya menggunakan tissue. Untuk sejenak dia termenung dan masih merasa gelisah, karena baru kali ini Alia mendapat firasat yang menurutnya sangat buruk.
"Ya Allah, Azam itu orang baik, jangan sampai terjadi hal buruk sama dia ya Allah, ya meskipun dia sering bikin aku kesal!" ucap Alia dalam hati.
__ADS_1
Alia pun segera bangun dan berjalan menuju ke toilet terlebih dahulu untuk membasuh lukanya sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju ke taman.