
Nafisah masih terdiam dengan sesuatu yang ia genggam di tangan kanannya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa bagian dari mawar putih itu ternyata diberikan oleh Azam. Di satu sisi hatinya merasa sangat hancur karena orang yang ia sayangi begitu mati-matian melindungi orang lain, tapi di sisi lain dia juga merasa bersalah karena telah mengeluarkan benda itu dari dalam tubuh Alia tanpa sepengetahuan pemiliknya.
"Mba Nafisah... selama ini saya selalu menghormati anda sebagai seorang Syarifah, Putri dari Habib yang sangat saya kagumi, tapi saya sungguh tidak senang jika seseorang mengambil milik saya tanpa ijin dan tidak mau mengembalikan, jadi tolong segera berikan itu pada saya" ucap Azam dengan nada yang cukup keras.
"Jadi selama ini, sosok berjubah putih itu dari kamu?" tanya Nafisah.
Azam hanya terdiam sembari mengulurkan tangannya, pertanda bahwa ia masih berusaha untuk meminta sesuatu yang sedang di pegang oleh Nafisah sekarang.
Sekarang semua pertanyaan yang ada di dalam pikiran Nafisah pun terjawab. Sejak beberapa hari terakhir Alia bertingkah seperti orang bodoh, tidak melihat apa yang di lihat oleh Nafisah, dan untuk pertama kalinya Nafisah melihat Alia dikelilingi aura putih, ternyata karena Azam.
Karena Azam telah menutup sebagian dari mata batin Alia, dan membuat Alia tidak bisa melihat mahluk halus dengan jelas.
"Kenapa kamu masih diam saja? ayo berikan padaku!" Azam kembali meminta benda itu pada Nafisah.
"Tapi kenapa? kenapa kamu sampai melakukan hal seperti ini?" ucap Nafisah.
"Kamu sudah tahu jawabannya"
Alia mencoba bangun dan menghampiri mereka berdua karena mendengar suara keributan.
Saat Alia datang, Azam dan Nafisah langsung saling diam dan tidak bicara apapun.
"Kalian kenapa? tadi aku dengar kalian ribut, kenapa sekarang pada diam?" tanya Alia.
"Ini!" Nafisah menunjukkan bagian bunga Mawar putih yang ia genggam itu pada Alia.
"Mahkota bunga Mawar putih? kenapa dengan itu?" tanya Alia yang heran melihat sikap Nafisah.
"Karena ini mata batin kamu tertutup sebagian, jadi tidak bisa melihat mahluk halus dengan jelas, dan kamu tahu itu perbuatan siapa?"
"Siapa?" tanya Alia.
"Dia!" Nafisah menunjuk ke arah Azam.
Seketika suasana menjadi sangat hening, Alia hanya terdiam sambil menatap ke arah Azam, dan Azam juga terdiam menunduk.
Nafisah memberikan mahkota bunga itu pada Alia dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu Alia mengarahkan tangannya pada Azam, memintanya untuk mengambil benda itu dari tangannya.
__ADS_1
Azam mengambil bagian bunga itu tanpa menyentuh tangan Alia, dan tanpa sengaja melihat tangan kanannya yang terluka.
"Tanganmu..."
"Ini nggak papa, kamu berhutang penjelasan padaku besok!" ucap Alia lalu menutup pintu dan kembali ke dalam kamarnya.
Alia masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pojokan dengan bersandar ke dinding, dia merogoh tasnya dan mencari beberapa obat yang bisa digunakan untuk mengobati lukanya.
Waktu baru menunjukkan pukul 00.30. Alia sama sekali tidak bisa kembali tidur, dia hanya duduk sembari memikirkan kedua mahluk yang mendatanginya tadi.
Karena merasa bosan, Alia pun mencoba keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tengah sendirian. Dia terus memandangi jam dinding yang terus berjalan sampai kurang lebih jam setengah empat pagi.
Tak lama setelah itu Azam keluar dari kamarnya dan melihat Alia yang sedang duduk sendirian di ruang tengah.
"Ragasy? kamu ngapain di sini?" tanya Azam.
"Nggak papa"
Azam melihat ekspresi Alia yang masih marah, dia pun tidak berkata-kata lagi dan berniat untuk pergi, namun saat Azam berjalan ke arah pintu keluar, Alia langsung bangun dan menyusul.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke masjid" jawab Azam singkat.
"Nanti sebelum Subuh aku mau tadarus dulu di Madjid, karena itu salah satu program kerjaku" jelas Azam.
Alia hanya terdiam, dia akhirnya mengetahui bahwa suara merdu yang kemarin itu memang suara Azam.
Tak lama kemudian Alia pun masuk ke dalam kamarnya dan mengambil mukena, dia mengikuti Azam untuk pergi ke masjid. Meskipun tangannya sakit, tapi Alia memaksa untuk tetap berwudhu.
Dia duduk sendirian di bagian belakang sembari mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang bisa menenangkan hati dan juga pikirannya.
"Meskipun nyebelin, tapi saat mengaji sungguh membuat orang merasa nyaman" gumam Alia.
Selesai sholat Subuh, Alia masuk ke kamar dan melepaskan mukenanya, Afi dan Sandra merasa kaget saat melihat tangan Alia yang bengkak. Mereka berdua menanyakan hal yang sama, kenapa dan apa yang terjadi sampai membuat tangannya jadi seperti itu.
"Emm tadi malam aku di gigit kelabang!" jawab Alia dengan cepat. Meskipun Alia hanya mengarang, tapi ia merasa bahwa jawaban itu cukup masuk akal.
Afi terlihat panik dan menyuruh Alia untuk segera berobat ke puskesmas karena khawatir akan terjadi infeksi. Sandra bahkan menarik Alia keruang tengah dan menunjukan tangannya ke semua orang.
"Alia, nanti biar aku antar kamu ke puskesmas yah?" ucap Anton.
__ADS_1
"Eh nggak usah, aku di antar Sandra aja" jawab Alia.
"Kok aku si?" ucap Sandra agak keberatan.
"Ya siapa lagi, Afi kan nggak bisa bawa motor, masa kamu mau biarin aku pergi sendirian?"
"Ya tapi kan Anton mau nganterin?"
Alia langsung menarik Sandra masuk ke dalam kamar dan menjelaskan alasannya.
Setelah itu semua orang melakukan tugas masing-masing seperti biasa, karena Alia sedang terluka, maka ia hanya duduk saja di ruang tamu.
"Azam Arrafi, jadi kamu mau jelasin kapan?" tanya Alia yang dengan sengaja menghentikan Azam saat sedang berjalan menuju ke luar rumah.
Azam pun berjalan mendekat dan duduk di hadapan Alia.
"Maaf..." ucap Azam pelan.
"Jadi sebenarnya, bagaimana kamu melakukan itu?" tanya Alia.
"Hari itu saat kamu sedang memakan bunga Mawar merah..."
"Tunggu! saat itu kamu memberiku sekuntum Mawar putih kan?"
"Ya"
"Aku memang memakan itu, tapi kan langsung aku buang tanpa sempat aku telan?"
"Meskipun hanya satu lembar, tetap ada yang kamu telan"
Alia terdiam sejenak, dia merasa sejak saat itu memang ada yang sedikit berbeda dengan dirinya.
"Lalu kenapa?" tanya Alia lagi.
"Sebelum aku memberi bunga Mawar putih itu, aku sudah melihat dimana lokasi KKN kamu"
Azam menjelaskan bahwa dirinya sudah tahu di lokasi KKN mereka masih sangat kental dengan hal yang berbau mistis, dia juga sadar bahwa Alia sangatlah menarik perhatian makhluk-makhluk tak kasat mata, jadi dia sengaja menutup sebagian mata batin Alia agar tidak terlalu mudah untuk di dekati oleh makhluk yang berniat buruk, meskipun tidak sepenuhnya.
"Sekarang keadaan kamu sudah kembali seperti semula, jika kamu tidak ingin melihat hal yang menurut kamu mengganggu, kamu bisa pakai ini"
Azam meletakkan sebuah gelang yang terbuat dari kayu kokka berbentuk bulat-bulat di atas meja yang berada di depan mereka.
__ADS_1
"Aku berharap kamu mau memakai itu, karena aku nggak mau kamu mengalami kesulitan dan itu pasti akan menggangu kegiatan KKN kita"
Azam lalu bangun dan meninggalkan Alia pergi. Sementara itu Alia masih berpikir untuk mengambil gelang itu atau tidak.