Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Apa dia membenciku?


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa terasa hari sudah mulai sore dan waktu Maghrib akan segera tiba. Semua junior di minta untuk membersihkan diri di asrama dan melaksanakan sholat Maghrib, mereka di beri waktu istirahat dan harus kembali ke ruang auditorium tepat jam 8 malam untuk mengikuti acara terakhir yaitu pentas seni yang dilanjutkan dengan penutupan kegiatan ospek. Sementara itu Alia lebih memilih untuk mengikuti Afi ke rumah saudaranya dan menumpang mandi di sana karena ia belum begitu akrab dengan teman yang tinggal di asrama.


"Udah selesai sholat Maghrib nya?" tanya Afi.


"Iya udah" jawab Alia sembari merapikan mukena.


"Makan dulu yuk, Bude aku udah masakin"


"Wah jadi ngerepotin"


"Ngga kok"


Afi dan Alia menuju keruang makan untuk makan malam, setelah selesai makan Alia langsung menuju ke kamar dimana tempat Afi menginap, dia sibuk membuka bukunya dan membaca selembar kertas berisikan puisi yang akan ditampilkan pada acara pensi nanti.


"Kelompok kamu bawain puisi?" tanya Afi.


"Iya nih, sambil diiringi nyanyian gitu"


"Al... " Afi tidak melanjutkan ucapannya karena masih ragu untuk bertanya.


"Kenapa? kok wajahnya gitu?" tanya Alia yang heran saat melihat ekspresi Afi.


"Kamu tadi sakit lagi?" tanya Afi dengan nada pelan karena takut jika kali ini Alia juga tidak ingin menjawabnya.


"Yah, sebenarnya sama seperti kemarin"


"Kamu kenapa si? kenapa bisa kayak gitu?" tanya Afi dengan nada khawatir.


"Aku sendiri juga ngga tahu, nggak biasanya kayak gini"


Tatapan mata Alia berubah menjadi kosong, dia merenung dan bertanya-tanya pada dirinya kenapa bisa tidak tahu sama sekali dengan apa yang terjadi padanya.


Afi melihat ke arah Alia dengan perasaan cemas, dia juga sangat penasaran. Hingga akhirnya Afi memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ia lihat sejak kemarin.


"Sebenarnya setiap kali kamu sakit, aku lihat si Azam juga kaya orang kesakitan gitu"


"Masa sih? kamu salah lihat kali Fi!"


"Nggak mungkin aku salah lihat berkali-kali Alia! dan yang paling jelas itu tadi pas kamu di bawa ke ruang kesehatan"


Afi menceritakan semua yang ia lihat, terutama yang terakhir terjadi yaitu tadi siang saat Alia dibawa ke ruang kesehatan. Saat itu dia juga melihat Azam sedang menahan sakit meskipun selalu berusaha untuk menutupi, dan wajahnya juga terlihat sangat pucat. Matanya sangat terlihat bahwa dia sedang menatap sesuatu dengan kebencian ke arah Alia, namun diantara banyak orang hanya Afi yang menyadarinya karena Afi lah yang selalu memperhatikan.

__ADS_1


Alia hanya terdiam dan teringat bahwa kemarin ia juga penasaran kepada Azam dan ingin menanyakannya, namun tidak jadi karena dia di tarik oleh Irfan.


Tak lama kemudian terdengar suara adzan isya, dan itu membuat Alia kaget karena waktu berjalan begitu cepat.


"Ah kamu si Fi! ngomongin yang ngga penting, kan aku jadi belum hafal ini puisinya, gimana dong!" gerutu Alia.


"Yee kok nyalahin aku si! ya udah sholat dulu aja, nanti abis sholat juga masih ada waktu kok"


"Ya ada tapi kan sebentar, kalau aku ngga hafal juga gimana!"


"Tau ah!" Afi beranjak pergi meninggalkan Alia.


**********


Tepat jam delapan malam acara pensi di mulai, semua junior sudah berkumpul di dalam ruangan dengan kostum masing-masing.


Satu persatu tiap kelompok mulai menampilkan seni yang sudah mereka persiapkan.


Waktu terus berjalan hingga tanpa terasa sudah jam sepuluh malam. Alia mulai tersenyum senang karena sebentar lagi acara akan selesai, namun ternyata acara masih saja berlanjut dan belum ada tanda-tanda akan selesai.


Alia melihat ke arah jam tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam, pikirannya mulai kacau, hatinya penuh dengan kata-kata kesal karena acara belum juga selesai, dan akhirnya Alia mengikuti kegiatan terakhir itu dengan sangat berat hati.


"Huh! kesal banget si! udah jam sebelas lebih dan belum juga selesai ini acara!" gerutu Alia dalam hati.


Dengan wajah kesal Alia ikut berfoto, dia tidak menghiraukan teman-temannya yang memasang wajah tersenyum saat berfoto. Matanya mulai berkunang-kunang, pandangannya terlihat kabur, ia mencoba mengedipkan mata supaya lebih jelas.


Dan saat pandangannya jelas, ia benar-benar menjadi semakin kesal saat melihat di sekelilingnya penuh dengan mahluk halus beterbangan memenuhi ruangan tersebut, mulai dari yang hanya terlihat seperti selendang hitam namun memiliki wajah, perempuan dengan wajah rata, hingga lainnya yang berwajah hancur dan buruk rupa.


Alia melihat kanan kiri dan semua temannya masih asyik berfoto-foto tanpa melihat waktu.


"Gila yah! pada ngga ingat waktu apa? dan apa di seluruh ruangan ini cuma aku yang bisa lihat para mahluk itu? kenapa ngga ada yang sadar si kalau ini udah hampir tengah malam!" Alia kembali mengeluh dalam hati.


_____-----_____


Tepat jam setengah dua belas malam acara selesai dan mereka semua keluar dari ruangan. Alia berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan kanan kiri, yang ia pikirkan yaitu segera pulang ke rumah.


"Alia!" teriak Afi dari belakang.


"Kenapa?" tanya Alia.


"Pulang ke rumah saudaranya aku aja, udah malam lho, lagian kan besok libur juga, kamu bisa pulang besok pagi" jelas Afi.

__ADS_1


"Hehe makasih yah, tapi aku mau pulang ke rumah aja, duluan yah daaa..." Alia langsung pergi meninggalkan Afi tanpa mau mendengarkan perkataannya.


"Emang dasar gila! jam segini pulang sendirian?" ucap Afi kesal.


Alia sampai di parkiran dan langsung menuju ke motornya. Ia merogoh kantong roknya untuk mengambil kunci.


"Hei" seseorang tiba-tiba menyapa Alia dari belakang.


"Astaghfirullah, aku kira setan!!" teriak Alia yang terkejut melihat Irfan berdiri di belakangnya.


"Kamu mau pulang?" tanya Irfan.


"Ya iyalah! lagian kamu ngapain disini jam segini?"


"Oh aku kebetulan tadi lagi main ke tempat teman yang tinggal di asrama, ngga sengaja lihat lampu di dalam belum mati, terus aku kepikiran kamu" jelas Irfan.


"Apaan si ngga lucu!"


Alia bergegas untuk menyalakan motornya, namun Irfan kembali menghentikan Alia. Dia berkata bahwa ingin mengantar Alia pulang karena tidak tega melihat Alia pulang sendirian di jam tengah malam.


"Kamu beneran kak Irfan?" tanya Alia sembari menatap tajam ke arah Irfan.


"Ya bener lah!"


"Bukan hantu kan? atau jelmaan jin dan semacamnya yang menyamar gitu?"


"Hahaha! emang kamu ngga bisa membedakan mana manusia dan mana setan?"


"Nggak! abis tadi di ruangan itu ada banyak, dan itu dibelakang kamu juga banyak!" ucap Alia sambil melihat ke belakang Irfan yang ternyata berdiri beberapa mahluk dengan wajah yang cukup mengerikan. Namun tiba-tiba perhatian Alia tertuju pada satu sosok yang berdiri di bawah pohon Cherry di dekat parkiran. Sosok itu seperti seorang kakek-kakek bertubuh kayu, tangannya panjang dengan kuku yang tajam dan wajahnya penuh dengan belatung. Sosok itu terus melihat ke arah Alia dengan tatapan kebencian.


"Woi malah bengong! Udah ayo aku antar pulang! aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Irfan yang mengalihkan pandangan Alia.


"Tapi aku bawa motor!"


"Udah tinggal aja! nanti biar di bawa ke asrama sama temen aku"


"Lah besok aku berangkat gimana?"


"Udah gampang! yang penting sekarang pulang dulu, keburu pagi!"


Alia tidak punya pilihan lain selain menerima ajakan Irfan, karena dia juga sebenarnya agak takut jika harus pulang sendirian tengah malam. Alia bukan takut dengan hantu, namun ia takut jika ada orang jahil ataupun pembegal di tengah jalan.

__ADS_1


__ADS_2