Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Mereka


__ADS_3

 


Sekitar tengah hari Alia baru saja sadar dan akhirnya Bu Mia merasa lega karena putrinya yang tidak sadarkan diri sejak malam sudah kembali siuman.


 


"Ah kok badan aku sakit semua yah"


"Kamu sudah sadar nak, mari Mama bantu kamu duduk."


Bu Mia membantu Alia untuk duduk dan menyenderkan tubuhnya ke dinding. Seluruh tubuh Alia masih terasa sangat lemas dan belum bisa di gerakan sama sekali.


"Kok di semua pergelangan aku lebam gini Mah? aw! leher aku juga sakit banget!"


Alia melihat tangan dan kakinya yang terluka dan juga meraba lehernya yang masih terasa sakit.


"Jangan di sentuh nak, tadi Mama baru saja mengoleskan salep untuk luka kamu"


Alia hanya terdiam, Bu Mia menceritakan semua yang terjadi kepadanya semalam, Alia sempat mengingat kejadian itu namun hanya sedikit saja.


*****


Siang itu di kampus, Nafisah tidak sengaja melihat luka merah di leher Azam saat berada di mushola. Dia berpikir bahwa itu mungkin ada hubungannya dengan pohon yang tumbang tadi pagi.


Nafisah mencoba mendekati Azam dan bertanya, namun Azam memilih untuk menghindar dan cepat-cepat menutupi luka itu menggunakan syal yang ia pakai sejak pagi.


"Dasar bodoh! kenapa lebih memilih orang yang selalu membuatnya sakit!"


Nafisah berucap dalam hati sembari menatap kepergian Azam.


Kebencian terhadap Alia menjadi semakin bertambah dan terus bertambah ketika orang yang ia sukai mau saja berkorban dan merasakan sakit hanya untuk orang yang tidak pernah peduli padanya.


*****


Satu Minggu berlalu sejak kejadian itu, selama itu Irfan tidak pernah sehari pun tidak datang menjenguk Alia dan hari ini Alia mulai kembali berangkat kuliah setelah satu Minggu hanya terbaring lemah di kamarnya.


Hari ini Alia berangkat bersama dengan Irfan karena orang tuanya belum mengizinkan Alia untuk membawa motor sendiri, mengingat kondisi tubuhnya yang baru saja pulih.


Memang sudah lewat satu Minggu, namun bekas luka di sekujur tubuh Alia masih belum hilang sepenuhnya, beruntungnya Alia selalu mengenakan kerudung dan lengan panjang, jadi dia tidak bingung bagaimana cara menutupi bekas lukanya itu.


Begitu sampai di parkiran kampus, Alia turun dan hendak berjalan sendiri ke kelasnya, namun tiba-tiba Afi datang dan langsung memeluk Alia.


"Akhirnya kamu berangkat juga... udah kangen banget aku sama kamu!"


"Hehe iya aku juga udah kangen belajar, suntuk juga cuma tiduran terus di kamar"


"Eh bekas lukanya masih belum hilang? padahal kelihatannya cuma lebam doang, tapi kok lama ya?"

__ADS_1


Afi tanpa sengaja memegang pergelangan tangan Alia dan melihat bahwa bekas luka merah itu masih belum hilang juga. Dia kemudian teringat tentang luka Azam yang sama persis dengan luka di tubuh Alia.


Afi mencoba untuk menceritakan semuanya kepada Alia namun sebelumnya ia terlebih dahulu membawa Alia menjauh dari parkiran supaya Irfan tidak mendengar apa yang diceritakan Afi pada Alia.


"Eh tunggu-tunggu! itu kok pohonnya nggak ada si?"


"Nah itu dia Al! pagi saat kamu sakit itu, pohonnya tumbang, dan saat itu juga aku lihat luka yang sama di leher kalian berdua!"


Alia hanya terdiam, dia sama sekali tidak tertarik tentang Azam, namun ia sangat penasaran bagaimana pohon yang sebesar itu bisa tumbang begitu saja.


Afi menceritakan semuanya dengan detail, dari keadaan pohon itu yang penuh dengan belatung, sampai tengkorak manusia utuh yang berada di bawah akar pohon tersebut.


Tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat sampai Afi menyadari bahwa dirinya ada kelas 5 menit lagi.


"Aku ke kelas dulu ya Al daah"


Afi berlari dan meninggalkan Alia. Alia melihat ke arah jam tangannya, kelasnya di mulai 30 menit lagi jadi dia bisa berjalan dengan pelan ke kelasnya.


Alia duduk di bangkunya dan menyiapkan buku catatan miliknya.


Brak!! tiba-tiba seseorang mendatangi Alia, dia memukul meja dan melemparkan satu bendel kertas ke meja Alia dengan keras.


"Tugas kamu selama seminggu!"


Seseorang berdiri di depan meja Alia dengan tatapan yang sangat sengit, bicaranya juga sangat judes, namun Alia berusaha untuk tetap menanggapinya dengan sopan.


"Nggak usah sok akrab deh! bikin repot aja!"


Nada bicara yang begitu keras, sampai semua orang yang berada di kelas itu melihat ke arah mereka. Alia hanya diam dan mengambil satu bendel kertas tugas itu.


"Dia kok kelihatannya benci banget sama aku si? emang salah aku apa?" ucap Alia dalam hati.


"Jangan di masukin hati ya Al, Meisya memang begitu orangnya..."


Sandra yang duduk di belakang Alia mencoba untuk menenangkannya dan menepuk pundaknya dengan pelan.


"Eh aku nggak papa kok." jawab Alia pelan.


*****


Jam kuliah akhirnya selesai, semua orang keluar dari kelasnya. Alia masih sibuk membereskan beberapa catatan tugasnya.


"Alia, ayo ke kantin bareng"


Ucap Sandra yang sudah berdiri di samping Alia.


"Eh iya sebentar aku beresin ini dulu" masih sibuk membereskan kertas tugasnya.

__ADS_1


"Hari ini giliran kamu yang beresin alat dan bawa proyektor ke ruang dosen!"


Tiba-tiba saja Meisya datang mendekat dan berucap dengan cukup keras sehingga membuatnya kaget.


Alia hanya melirik ke arahnya dan kembali membereskan barang-barangnya.


"Mei kok kamu gitu si? hari ini bukannya giliran kamu?" Sandra berusaha untuk membela Alia, namun Meisya malah terlihat makin membenci Alia.


"Kamu nggak usah sok pahlawan yah! ngapain si pakai bela dia segala!"


"Dia kan baru sembuh habis sakit, kamu bisa nggak bilangnya pelan-pelan sama dia!"


"Heh sakit, selama dia sakit juga aku yang selalu gantikan tugas dia!"


Alia bangun dan mencoba untuk menghentikan perdebatan antara Meisya dan Sandra, namun tanpa sengaja Alia terkena tamparan Meisya yang hendak menampar Sandra.


"Ups sorry nggak sengaja!"


Meisya terlihat sangat puas saat tamparannya itu mengenai pipi Alia, Sandra berusaha untuk membalasnya namun Alia terus mengehentikan.


"Udah Sandra! nggak usah urusin dia, aku nggak papa kok kalau cuma beresin alat-alat ini"


"Huh dasar pecundang!"


Meisya berjalan pergi dan meninggalkan mereka berdua. Alia menenangkan Sandra yang masih kesal terhadap Meisya tadi.


"Kamu itu kenapa si! udah kena tampar masih diam aja!"


"Udah lah biarkan aja, kamu ke kantin duluan aja, biar aku beresin ini dulu"


"Nggak, kita beresin bareng biar bisa ke kantin sama-sama"


Alia tersenyum dan mulai melakukan tugasnya. Sandra begitu antusias dalam membantu Alia, namun Alia masih terpikir kenapa Meisya terlihat sangat membencinya.


Saat keluar dan berjalan menuju ke kantin, tanpa sengaja Alia melihat Meisya dari kejauhan sedang berjalan bersama dengan temannya. Namun yang menarik perhatiannya adalah sesosok perempuan kecil yang berjalan di belakangnya.


Perempuan itu jika masih hidup mungkin usianya sekitar 10 tahun, dia menggunakan dress panjang selutut berwarna merah cerah, rambutnya berwarna hitam legam sebahu, namun Alia tidak bisa melihat wajahnya, hanya bisa melihat sosok itu dari belakang.


"Kok aku baru pernah lihat mahluk seperti itu yah? tapi kenapa dia mengikuti Meisya?"


Alia bergumam dalam hatinya.


"Al! kok melamun si? ayo ke kantin, aku udah lapar nih" ucap Sandra.


"Eh iya ya..."


Alia dan Sandra melanjutkan perjalanan menuju ke kantin, namun pandangan Alia masih melihat ke arah sosok perempuan kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2