Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Terjebak


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan tanpa terasa sudah masuk waktu Subuh. Azam masih duduk diam di mushola sambil berdzikir, ia pun segera melaksanakan sholat Subuh begitu Iqamah selesai dikumandangkan.


Sementara itu Bu Mia meminta Pak Aji untuk bergantian menjaga Alia karena dirinya hendak melaksanakan sholat subuh di mushola.


Sekitar jam setengah enam pagi, Anton berpamitan kepada Bu Mia dan juga Pak Aji untuk kembali ke rumah Bu Murniati karena harus mengembalikan mobil milik Pak Syarif.


"Hati-hati ya nak, terimakasih banyak sekali karena telah mengantarkan anak saya" ucap Pak Aji.


"Sama-sama Pak, saya juga minta maaf karena tidak bisa berbuat banyak"


"Tidak papa nak, yang terpenting sekarang Bapak minta doanya untuk Alia yah"


"Pasti Pak, insyaallah kami akan selalu doakan".


Anton, Azam, Nafisah dan juga Afi berjalan menuju pintu keluar, mereka berjalan ke arah mobil yang ada di parkiran.


Anton segera mengantarkan Afi dan Nafisah ke rumahnya masing-masing sebelum kembali ke rumah Bu Murniati.


"Kamu mau aku antar pulang sekalian Zam?" tanya Anton.


"Nggak lah, aku ikut kamu, lagian barang-barang aku juga masih di sana" jawab Azam.


Mereka berdua pun sampai di rumah Bu Murniati sekitar jam 8 pagi. Terlihat semua teman-temannya sudah bersiap di ruang tamu dan sedang menunggu mobil jemputan mereka. Bu Murniati dan Pak Syarif juga duduk bersama mereka di ruang tamu.


"Eh Azam! gimana keadaan Alia?"


Sandra langsung keluar menghampiri Azam dan Anton begitu mereka sampai di depan rumah.


Azam hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Sandra.


"Kok diam aja sih! Anton, gimana Alia?"


"Dia... dia koma" jawab Anton.


"Astaghfirullah... kasian sekali Alia"


"Yah kita berdoa aja supaya dia cepat diberikan kesembuhan"


Azam masuk ke dalam untuk membereskan barang-barangnya, namun ternyata semua barang-barangnya sudah dibereskan oleh Latif.


*****


"Alia... Alia..."


Samar-samar Alia mendengar suara perempuan yang memanggilnya dengan lembut. Alia membuka kedua matanya dan merasa sangat terkejut saat dirinya dikelilingi oleh kegelapan.


"Alia..."

__ADS_1


Dari kejauhan Alia melihat sosok perempuan berbaju putih yang terus memanggilnya sembari mengulurkan kedua tangannya, berharap Alia segera menghampirinya.


"Kakak?"


Sosok itu adalah sosok perempuan yang selalu datang ketika Alia sedang berada dalam masalah dan saat ia sedang merasa sangat sedih.


"Alia... ayo ikut kakak!"


Suara itu kembali terdengar, Alia berusaha untuk berjalan mendekati perempuan itu, namun langkahnya terasa berat karena ia sama sekali tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri.


Alia melihat ke bawah, terlihat kedua kakinya diikat oleh rantai yang sangat berat sehingga dirinya tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali.


"kak..."


Sosok perempuan itu semakin lama semakin menghilang dan pergi.


"Kak jangan pergi kak! jangan tinggalkan Alia!!"


Alia terus saja berteriak namun perempuan itu telah benar-benar menghilang dan tidak terlihat lagi. Alia melihat sekelilingnya, dia merasa takut karena hanya ada kegelapan.


"Ini dimana, kenapa gelap sekali, aku dimana..."


Alia terus berteriak namun tidak ada jawaban sama sekali, hanya ada keheningan di tengah kegelapan yang sangat mencekam.


"Hahahaha!"


"Siapa kamu? mau apa kamu?" teriak Alia.


"Hahahaha!"


Suara itu kembali terdengar terus tertawa dan tidak menjawab ucapan Alia.


Kemudian datang sosok perempuan berbaju serba hitam yang berjalan mendekati Alia dengan suara tawa yang semakin keras.


Wajah sosok perempuan itu semuanya berwarna hitam dan rata, hanya ada satu mata besar yang terpasang di tengah-tengah wajah dengan bola mata berwarna kuning cerah.


"Kamu siapa? mau apa kamu?"


"Hahaha sebentar lagi kamu akan menggantikan dia!"


"Dia? dia siapa!?"


"Jiwa kamu ini akan segera menjadi jimat penangkal di rumah itu, hahahah!"


Alia teringat dengan rumah dan jimat yang di sebutkan oleh sosok perempuan bermata satu itu. Dia berpikir apakah ini memang sudah takdirnya untuk mati dan jiwanya dijadikan pajangan di atas pintu seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.


Sosok perempuan bermata satu itu kemudian lenyap begitu saja, namun suara tawanya masih terngiang-ngiang di telinga Alia.

__ADS_1


Alia menangis, namun rasanya tangisan itu sama sekali tidak berguna, ingin berteriak juga tidak akan ada yang mendengarnya.


"Apakah aku benar-benar sudah meninggal? Papa... Mama... Sita... apa aku benar-benar tidak akan pernah melihat mereka lagi?"


Alia terduduk lemas sembari meratapi nasibnya.


Tiba-tiba saja kegelapan itu berubah menjadi terang, Alia melihat sekelilingnya dan sepertinya ia mengenali tempat itu.


Ya! tempat itu adalah tempat dimana ia terjatuh malam itu. Di atas batu yang cukup besar dan dibawah jembatan bambu.


"Aku,, kenapa aku tiba-tiba di sini? apa aku masih hidup?" ujar Alia.


Alia berusaha untuk bangun dan berjalan, namun ternyata rantai yang mengikat kedua kakinya masih ada.


"Apa ini, aku harus bagaimana?"


Alia terus saja memukuli rantai itu menggunakan tangannya meskipun ia sadar bahwa hal itu sama sekali tidak ada gunanya.


Beberapa saat kemudian dia melihat Azam berdiri di pinggir jembatan sembari menatap ke arah batu yang membentur kepala Alia kemarin malam.


"Eh Arrafi! Arrafi tolongin aku! aku disini!" Alia berusaha untuk berteriak namun Azam sama sekali tidak mendengarnya.


"Ragasy... aku tahu kamu masih di sini, cepatlah pulang, kita semua menunggu kamu pulang" ucap Azam.


Alia hanya heran saat mendengar ucapan Azam, dia terus saja berteriak meminta tolong pada Azam namun percuma saja.


"Apa ini? apa dia beneran nggak lihat dan mendengar aku?" gerutu Alia.


Azam lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Dia bergabung dengan teman-temannya yang lain untuk segera pulang dan meninggalkan rumah Bu Murniati.


"Eh Arrafi kok pergi si, tungguin aku! aku di sini!" teriak Alia.


Setelah kepergian Azam, sosok perempuan yang tempo hari di lihat Alia sedang menari-nari di ruang tamu saat tengah malam, kini berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan senyumnya yang menawan.


Perempuan itu mendekati Alia dan memegang tangannya, seketika Alia langsung berteriak kesakitan. Dia benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat dan baru pernah merasakan sakit yang seperti itu.


Tubuhnya seperti sedang ditarik oleh kedua belah pihak yang saling memperebutkan dirinya. Tarikan dari keduanya sangat kencang sehingga Alia merasa tubuhnya seakan-akan terbelah menjadi dua.


"Aaaaaaaaa!!! sakiitt!!"


Teriakan itu tidak berhenti karena rasa sakit terus menggerogoti tubuhnya, namun tak lama kemudian Alia tertarik sepenuhnya pada satu sisi, yaitu sisi dari perempuan berbaju putih yang langsung membawa Alia pergi dari tempat itu. Tubuhnya terasa ringan seperti sedang melayang-layang sampai akhirnya terjatuh.


Alia membuka matanya, dan ia kembali terkejut saat melihat sekelilingnya yang sudah berubah drastis. Seluruh tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, dan kepalanya terasa sangat sakit sekali.


"Aku dimana lagi ini? eh Mama?" Alia berucap dalam hati karena suaranya sama sekali tidak keluar meskipun ia mencoba untuk berteriak.


Bu Mia sedang duduk dengan tatapan mata yang sayu saat Alia pertama kali membuka mata. Bu Mia pun melihat Alia membuka matanya dan langsung berlari keluar.

__ADS_1


"Dokter anak saya membuka matanya!"


__ADS_2