Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Masih belum selesai


__ADS_3

Abah kyai lalu memegang kepala Alia sambil membacakan doa\-doa, setelah itu dia juga menyuapkan beberapa tetes minyak berwarna merah ke mulut Alia menggunakan tangannya sendiri.


Alia pun mulai berhenti berteriak, matanya mulai terpejam dan tidak melotot lagi, tubuhnya juga mulai melemas dan tidak dingin lagi.


Abah kyai langsung pergi tanpa berkata apapun, begitu juga Gus dan guru. Semua siswa mulai merasa tenang dan kembali mendekati Alia.


"Alia bangun Al" Nida mencoba membangunkan Alia dengan suara yang sangat pelan.


Perlahan Alia mulai membuka matanya dan mencoba untuk duduk.


"Aku kenapa Da? aduh kok tangan aku lebam gini si, badan aku pegel semua" keluh Alia.


Semua orang terdiam sambil menatap Alia.


"Aku lebih pegel ini!" ucap Mayra dengan nada cukup keras, dia berusaha untuk mencairkan suasana agar tidak tegang lagi.


"Mayra? pipi kamu kenapa?" ucap Alia dengan nada yang masih lemas.


"Ini kena tampar kamu! ngga ingat kamu?" ucap Mayra dengan nada sewot. Mayra memang orang yang apa adanya, dia berani mengatakan pendapatnya dengan tegas kepada siapapun tanpa pandang bulu, tapi dia juga merupakan sosok yang peduli pada orang lain, dan yang paling mengejutkan dia ternyata juga mempunyai mata batin yang terbuka, dia bisa melihat dan merasakan keberadaan mahluk yang tak terlihat, namun tidak dapat berinteraksi dengan mereka.


"Oh aku ingat, aku sebenarnya tahu dan juga sadar, tapi entah kenapa aku ngga bisa mengendalikan tubuhku sendiri" jelas Alia.


"Iya udah kaya orang gila kamu! bahkan Abah aja dilawan!" Mayra kembali bicara tanpa berpikir, dia memang suka bicara apa adanya dan ceplas-ceplos.


"Sssttt Mayra! bisa pelan dikit ngga!" Nida mulai kesal.


"Ngga papa kok Da, dia ngomong bener kok"


"Alia kamu pulang aja yah, istirahat dirumah tapi maaf aku ngga bisa antar kamu, anak Pesantren ngga boleh keluar lingkungan sekolah"


"Aku tau kok, aku bisa pulang sendiri"


"Biar aku aja yang antar, kamu tinggal dirumah neneknya Sifa kan?" Mayra tiba-tiba ikut bicara.


Alia hanya mengangguk.


"Ya sudah May kamu antar Alia pulang, nanti biar aku yang izinin kamu" ucap Nida sembari membereskan alat tulis Alia dan memasukkan nya kedalam tas.


Mayra memapah Alia dengan perlahan dan mengantarkan nya pulang. Selama berjalan Alia hampir tidak bicara sama sekali, karena dia merasa malu dengan apa yang terjadi pada dirinya tadi.

__ADS_1


Sesampainya dirumah ternyata tidak ada orang, tapi untungnya pintu rumah tidak dikunci jadi Alia tetap bisa masuk, ia langsung menuju ke kamar dan berbaring sementara Mayra duduk disampingnya.


"Aku boleh istirahat sebentar disini kan?" tanya Mayra.


Alia hanya mengangguk dan mencoba memejamkan matanya, dia masih terpikir dengan yang terjadi barusan.


"Duh semua orang pasti berpikir buruk tentang aku sekarang!"


"Kamu jangan ngelamun! nanti kesurupan lagi!"


"Ngga kok!"


"Ngomong-ngomong aura kamu itu memang kuat banget yah!"


"Kamu bisa ngerasain juga?"


"Ya! udah lama si, cuma kalau aku pengen tanya tapi kamunya cuek banget!"


"Jadi disekolah ini bukan cuma aku, tapi ternyata banyak juga, tapi kenapa harus aku yang ngalamin ini?"


"Maksud kamu apa?"



"Kamu jangan berpikiran sempit! mungkin kamu memang istimewa"


Alia kembali mendengar kata-kata itu lagi, dia mulai kesal dan hanya terdiam, dia mencoba menelpon papa nya untuk segera menjemput nya karena ia sudah sangat ingin pulang kerumah.


Tak lama kemudian Sifa pulang dan langsung menghampiri Alia yang sedang mengobrol dengan Mayra.


"Alia kamu ngga papa? tadi aku denger kamu..."


"Masuk salam dulu ke!" Mayra langsung memotong ucapan Sifa yang belum selesai.


"Ah maaf, eh Mayra kamu disini juga"


"Iya aku tadi antar dia pulang sekalian nemenin"


"Kamu ngga papa Alia?"

__ADS_1


Alia tersenyum sambil mengangguk, Sifa lalu pergi kebelakang dan mengambilkan minum beserta makanan ringan.


"Sif, kayaknya nanti aku pulang dulu deh, aku pengin pulang" ucap Alia.


"Iya ngga papa, aku bantuin kamu beresin baju kamu ya, tapi ini kamu minum dulu sambil makan sedikit biar ngga lemes ya" Sifa bicara dengan sangat cepat seperti biasanya.


Mayra berpamitan untuk pulang dan tak lama kemudian Pak Aji tiba. Tanpa banyak bicara Alia langsung mengajak Pak aji untuk segera pulang. Karena nenek Mida dan suaminya sedang tidak dirumah maka Pak Aji meminta Sifa untuk menyampaikan salamnya.


Alia pulang naik motor bersama dengan Pak aji, di jalan ia tidak berani bertanya apapun kepada Alia. Namun begitu sampai dirumah Pak Aji langsung bicara padanya.


"Kamu kenapa nak?"


"Tadi aku kesurupan pah" Alia menjawab sambil tertunduk.


"Astaghfirullah kok bisa? tapi sekarang kamu ngga papa kan?"


"Ngga papa"


"Ya sudah sekarang kamu istirahat"


Alia langsung masuk ke kamarnya dan beristirahat, waktu itu dia sempat melihat jam, dan masih jam 2 siang jadi dia masih bisa tidur siang sebelum sholat ashar. Tak lama kemudian Alia terbangun dan pindah keruang tamu, dia terbaring di sofa panjang namun tidak tertidur, dia melihat jam dan ternyata sudah jam lima sore.


Alia kembali merasa kedinginan, seluruh tubuhnya terasa membeku karena kedinginan namun dia berkeringat, tanpa sadar dia mulai merintih kesakitan di seluruh tubuhnya. Lalu samar-samar terdengar suara tangis yang sangat dalam.


Perlahan-lahan suara tangisan itu menjadi semakin keras, dan semakin menjadi. Sita yang berada dikamar merasa terganggu dengan tangisan itu.


"Duh siapa si yang nangis! Eh kak Alia!" Sita keluar dari kamarnya dan kaget melihat Alia terbaring di sofa sambil menangis, dia mencoba membangunkan, namun hal yang serupa kembali terulang. Tangis Alia semakin menjadi, Sita mulai panik dan memanggil papanya yang berada diluar.


Pak Aji pun kaget melihat Alia yang terus menangis, dia mencoba membacakan doa-doa namun itu juga tidak berhasil, Bu Mia juga panik ketika melihat keadaan Alia.


"Pah ini gimana,, kenapa Alia nangis terus seperti itu"


"Papa juga ngga tau ma"


"Papa coba panggil kyai atau orang pintar siapapun itu lah cepat pa" Bu Mia menjadi sangat panik


Pak Aji pergi untuk memanggil seseorang yang ia kenal dan mampu mengatasi hal itu, sementara Nenek Imah yang mendengar suara tangisan Alia langsung datang dan duduk dia samping Alia, dia mengajak Bu Mia untuk membacakan Al-Qur'an.


Namun usaha itu seperti sia-sia saja, tangisan Alia semakin menjadi, dia juga mulai berteriak "Di mana mataku! kembalikan mataku!"

__ADS_1


Alia terus mengulangi kata-kata itu.


Nenek Imah terus membacakan ayat Al-Qur'an dan tak lama kemudian teriakan Alia mulai mereda.


__ADS_2