Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Itu belum membuatnya tenang


__ADS_3

Keadaan seketika menjadi sangat sunyi, Putri dan juga Alia sama\-sama diam hingga beberapa polisi mulai datang dan mencoba untuk meminta beberapa jawaban dari pertanyaan yang akan mereka berikan kepada Alia.


Setelah cukup lama di bujuk Alia akhirnya mau bicara dan mengatakan apa yang ia dengar dan lihat, kurang lebih 20 menit beberapa polisi itu menanyai Alia. Setelah selesai beberapa polisi itu pergi dan Alia kembali terdiam.


"Ragasy, kamu ngga papa?"


Tiba-tiba terlihat sosok laki-laki yang sangat tak asing bagi Alia, dia berjalan dengan cepat menghampiri Alia dan Putri yang masih duduk di ruang kesehatan.


"Azam? kamu di sini juga? kok aku ngga lihat, kapan kamu datang?"


Putri heran melihat Azam yang ternyata berada di di sana juga, di terus saja mengajukan banyak pertanyaan sampai Azam bingung harus menjawab yang mana dulu.


Akhirnya Azam hanya diam dan mendekat ke arah Alia yang sama sekali tidak bergeming melihat kedatangan Azam, dia hanya melirik sedikit lalu kembali tertunduk dengan tatapan kosong.


"Kamu ngga papa?"


Azam bicara dengan nada yang sangat lembut dan begitu perhatian kepada Alia, namun Alia hanya menggelengkan kepalanya saja dan masih tidak mau berucap.


"Harusnya kamu lega kan karena mayatnya akhirnya ditemukan, dan itu semua berkat kamu?"


"Belum!"


Alia hanya menjawab dengan satu kata saja, namun itu mampu membuat Azam dan Putri langsung terdiam dan tidak bisa berkata-kata, mereka berdua kembali dibuat bingung oleh sikap dan perkataan Alia.


"Alia kamu ngga papa?"


Amar tiba-tiba datang keruang kesehatan dan langsung melihat keadaan Alia, dia juga terkejut saat melihat Azam yang sudah berdiri di samping Alia.


"Azam, kamu kapan datang?"


Azam pun akhirnya menceritakan kepada mereka semua bahwa dia sampai di sana tepat saat para juniornya naik ke atas panggung untuk menunjukkan kemampuan mereka yang mewakili sekolah sekaligus pesantren.


Azam datang karena perintah dari Abah kyai untuk melihat keadaan beberapa santrinya yang sedang berada diluar wilayah pesantren, dia juga datang bersama dengan salah satu senior pesantren.


"Oh jadi begitu, syukurlah kamu datang, jadi kamu bisa membantu Alia, dia mungkin masih shock karena hal tadi" ucap Amar.

__ADS_1


Azam pun mengambil sebotol air mineral dan mengucapkan beberapa doa lalu diberikan kepada Alia agar mau meminumnya. Setelah beberapa saat sikap Alia mulai kembali normal dan mau bicara lagi.


Melihat keadaan Alia yang sudah mulai membaik, Putri kembali mencoba bertanya kepada Alia, apa maksud dari perkataannya yang terakhir kali.


Alia pun mulai bicara, dan dia mengatakan bahwa penyebab dari kematian perempuan itu adalah karena janin yang sedang ia kandung.


"Jadi maksudnya dia bunuh diri karena hamil di luar nikah?" Putri kembali menebak-nebak.


"Bukan bunuh diri! tapi dibunuh!"


Seketika semuanya terdiam mendengar ucapan Alia, Putri menjadi semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada tetangganya itu.


"Maksud kamu dia di bunuh? tapi siapa? mungkin aja kan dia bunuh diri karena malu?" ujar Putri.


Alia hanya terdiam, wajahnya berubah menjadi gelisah karena teringat dengan suara tangisan perempuan itu.


"Kenapa kamu berpikir kalau dia di bunuh?" tanya Azam.


"Kalau dia memang bunuh diri lalu untuk apa dia terus menangis? dan kenapa juga raut wajahnya menunjukkan kalau dia tidak terima dengan kematiannya?"


"Sudahlah, itu biar menjadi urusan polisi saja! jangan terus ganggu Alia, biarkan dia istirahat" jelas Amar.


"Pisau itu! andai aku bisa menyentuhnya sebentar saja, mungkin aku bisa tahu siapa yang membunuhnya!" tiba-tiba saja Alia bicara dengan nada keras dan membuat teman-temannya kaget.


"Alia! kamu tenang!"


"Nggak! aku harus ke sana lagi!"


"Tapi pisau itu kan sudah dibawa pergi bersama mayatnya! kalaupun masih disini juga kamu ngga bakal boleh megang, karena itu udah jadi barang bukti!" ucap Putri dengan tegas.


Tiba-tiba Alia bangun dari tempat duduknya dan berjalan dengan cepat keluar dari ruang kesehatan, Azam, Amar dan Putri mengejarnya dan berusaha untuk menghentikannya.


Namun seketika langkah Alia terhenti saat ia melihat seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu dan menatap tajam kearahnya. Dia ternyata adalah salah satu panitia dari acara tersebut, dan dia juga memiliki kemampuan khusus seperti Alia yang bisa melihat sosok mahluk tak kasat mata.


"Ka... kaka kenapa kesini?" Alia bertanya dengan nada terbata-bata, dia tidak mengenal orang itu, namun dari pakaiannya dia sudah mengetahui identitasnya bahwa orang itu adalah panitia acara, dan dia adalah senior dari salah satu anggota Pramuka tingkat kabupaten, kalau dilihat umurnya mungkin 5tahun di atas Alia.

__ADS_1


"Kamu yang tadi pertama lihat mayat itu?"


Alia hanya mengangguk.


"Kak Roby? ada apa ke sini kak?" tanya Amar.


Amar memang sudah mengenal orang itu karena sudah beberapa kali bertemu dia acara seperti ini, mereka berdua juga bertemu di depan bangunan rusak itu dan sempat mengobrol, Amar memberitahu semua yang Alia alami kepada Roby, karena Amar tahu bahwa Roby juga memiliki kelebihan seperti itu.


"Ada sesuatu yang mengganggu, oh ya apa ini temanmu yang bernama Alia?" ucap Roby sambil menunjuk ke arah Alia.


"Iya kak"


"Saya Roby, apa boleh saya minta waktunya sebentar?"


Roby memperkenalkan dirinya pada Alia dan mengajaknya untuk bicara. Mereka semua akhirnya kembali duduk dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Roby, sebenarnya dia hanya ingin bicara kepada Alia, namun karena semua yang ada di situ sudah tahu jadi Roby merasa itu tidak masalah.


"Kita mungkin satu pemikiran, bahwa masih ada yang mengganggu pikiran kita tentang kematian perempuan itu"


Roby berkata panjang lebar dan Alia hanya menjawab dengan anggukan saja, karena baginya Roby adalah orang asing jadi dia masih belum bisa akrab dengan orang itu.


Roby biasanya memang bisa melihat sosok tak kasat mata, dan tadi dia juga melihat sosok perempuan yang mayatnya baru ditemukan itu, namun sesuatu yang mengganggunya adalah sosok perempuan itu terlihat masih belum puas setelah mayatnya ditemukan, dia seperti ingin memberitahu sesuatu yang lain dan dia terlihat ingin memberitahu Alia. Roby mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi pada perempuan itu, namun yang ia lihat hanyalah sosok perempuan itu menatapnya dengan tatapan tajam seolah-olah ingin menyerangnya.


Setelah lama berdiskusi, akhirnya Roby memutuskan untuk mengajak Alia kembali ke tempat itu sekali lagi, karena Alia juga merasa masih ada sesuatu yang harus ia ketahui, maka Alia pun menyetujuinya.


"Tapi apa tidak bisa jika kita ke sana besok pagi saja?"ucap Putri yang merasa keberatan.


"Putri, kamu takut? kan ada kami, dan juga kita ajak Pak Hadi, petugas keamanan itu" jelas Alia.


"Bukan begitu Alia, tapi ini sudah hampir jam 12 malam"


"Putri, apa kamu tidak kasihan melihat Alia yang masih begitu khawatir? dan juga tentang tetangga kamu itu" imbuh Azam.


"Ya sudahlah, aku ikut apa kata kalian saja"


Awalnya Putri menolak untuk ikut karena dia merasa takut dengan hal semacam itu, dan waktu juga sudah mulai tengah malam namun Azam berkata bahwa tidak pantas jika hanya mereka berempat saja yang pergi dan Alia sebagai perempuan sendirian, akhirnya Putri mau untuk ikut, mereka juga mengajak salah satu bapak panitia senior sekaligus petugas keamanan di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2