
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Alia keluar dari mushola dan duduk di serambi mushola sembari mengenakan sepatunya. Tak lama kemudian seseorang kembali muncul dan duduk di samping Alia. Orang itu adalah Irfan yang ternyata belum juga pergi dari tempat itu.
"Kamu ngapain masih di sini?" tanya Alia kaget.
"Nungguin kamu" ucap Irfan sambil tersenyum tipis.
"Ngapain?"
"Aku antar kamu pulang yah?"
"Oh ngga usah aku bisa pulang sendiri kok"
"Tapi ini kan udah malam, dan rumah kamu jauh"
"Ngga usah aku bisa sendiri, lagian belum terlalu malam juga, aku masih berani"
Alia pun segera bangun dan pergi meninggalkan Irfan. Dia berjalan cepat menuju ke parkiran dan berniat untuk segera pulang karena takut kedua orangtuanya akan khawatir. Begitu sampai di parkiran ia langsung menyalakan motornya dan menempuh perjalanan pulang ke rumahnya.
Sekitar jam delapan kurang seperempat Alia sampai di rumah, Mama dan Papanya sudah sangat khawatir menantikan kepulangan Alia.
"Alia, akhirnya kamu pulang juga nak, Mama khawatir sekali kamu kenapa-kenapa di jalan" ucap Bu Mia yang langsung menyambut kepulangan Alia.
"Alhamdulillah aku ngga papa Mah, cuma emang agak molor aja si acaranya" jelas Alia.
"Mama itu takut terjadi hal seperti kemarin, soalnya Mama lihat jadwal acaranya selesai jam lima, dan harusnya kamu sampai di rumah paling lama jam setengah tujuh, tapi sudah jam tujuh lebih kamu belum juga pulang"
"Ngga kok Mah, ya udah aku mau mandi dulu yah"
Alia pun segera masuk ke rumah dan membersihkan dirinya, setelah itu ia juga tak lupa untuk mengerjakan sholat isya di kamarnya.
Setelah selesai sholat, Alia duduk di atas kasur tipis yang ada di lantai kamarnya dan bersandar ke dinding. Ia masih merasa heran dengan sikap Irfan, kenapa ia menjadi begitu peduli, dan bahkan perhatian terhadap Alia, padahal yang Alia tahu Irfan itu dulu hanya orang yang sangat cuek dan dingin, dia juga bukan orang yang suka banyak bicara.
"Ah sudahlah Alia! untuk apa kamu memikirkan dia! belum tentu juga dia memikirkan kamu!" ucap Alia pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Semakin Alia mencoba mengalihkan pikirannya, justru malah ia semakin memikirkan orang itu, perasaan Alia sepertinya masih belum berubah untuk Irfan, tapi Alia juga tidak lupa bahwa dulu Irfan itu menyukai juniornya.
**********
Keesokan harinya Alia seperti biasa berangkat saat langit masih gelap. Hari ini adalah hari ketiga, dan merupakan hari terakhir acara kegiatan ospek untuk para mahasiswa baru. Alia sebenarnya sangat berat hati dengan hari ini, karena ia melihat jadwalnya selesai jam sepuluh malam, dia berpikir bahwa acaranya pasti akan molor lagi seperti kemarin.
Pak Aji sebenarnya sangat khawatir saat Alia harus pulang sendirian malam-malam, dia ingin mengantar dan menjemput Alia saat pulang, namun Alia menolak karena tidak ingin merepotkan, dia juga berkata bahwa dirinya berani pulang sendirian karena masih jam sepuluh malam dan jalanan juga pasti belum terlalu sepi sekali.
Acara hari ini berjalan dengan lancar sampai jam makan siang, Alia juga tidak merasa ada yang aneh, sampai saat siang entah kenapa senior menyuruh semua mahasiswa baru untuk berlari mengelilingi lapangan utama.
"Ini sebenarnya kenapa si? kok kita di suruh lari-lari kaya gini? mana lagi panas banget!" gerutu Alia.
"Katanya si ada salah satu junior yang ngelakuin kesalahan, tapi dia bersikeras ngga mau ngaku, jadi senior menghukum kita semua, katanya biar adil" ucap salah satu teman sekelompok Alia.
"Cih! adil apanya? ini sih namanya malah ngga adil, yang ngga salah malah dihukum juga!" teriak Alia.
"Sssttt jangan keras-keras, nanti kamu kena semprot senior!"
Alia masih berusaha untuk ikut berlari mengelilingi lapangan bersama semua junior lainnya. Tanpa sengaja ia melihat Azam yang sedang menatap kearahnya dengan tatapan yang sangat aneh, Alia pun mencoba untuk memalingkan wajahnya.
Sementara itu dari kejauhan Irfan tanpa sengaja melihat Alia yang sedang berlari di lapangan. Ia juga melihat ada sesuatu yang berada di belakang Alia, namun tidak ada yang bisa melihat kecuali dirinya, bahkan Alia sendiri terlihat tidak menyadarinya.
Bruukkk!!! Tiba-tiba terdengar suara orang yang terjatuh, dan orang itu ternyata adalah Alia.
"Duh kenapa ini? kok rasanya seperti ada yang menimpa aku dari belakang yah? tubuhku rasanya berat sekali!"
Alia terjatuh dengan posisi tengkurap dan tidak bisa bangun. Dia juga tidak bisa bersuara seperti sedang mati rasa.
"Eh itu bukannya anak yang waktu itu di bawa ke rumah sakit yah? ayo cepat tolongin angkat dia, pasti dia kelelahan!" ucap salah satu senior.
Saat senior membawa Alia ke ruang kesehatan, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan pak Yahya, dosen pendamping acara itu yang juga menemani Alia ke rumah sakit tempo hari.
"Kenapa dia?" tanya pak Yahya.
__ADS_1
"Pingsan tadi pak, mungkin kelelahan" ucap salah satu senior yang membawa Alia.
"Oh ya sudah langsung bawa keruang kesehatan"
"Baik pak"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke ruang kesehatan. Sementara itu dari kejauhan Irfan masih memperhatikan Alia.
"Ini yang kedua kalinya, pak Yahya bahkan ngga sadar lagi dengan apa yang terjadi sama Alia?" ucap Irfan dalam hati.
Entah kenapa Irfan merasa kesal karena pak Yahya tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan tidak biasanya seperti itu.
Irfan terus menggerutu karena dia jelas sekali melihat bahwa Alia sedang di cekik lehernya dari belakang oleh sosok mahluk yang ia lihat tempo hari.
"Ngga bisa dibiarkan! aku harus ke sana!"
Irfan mencoba berlari untuk menghampiri Alia yang di bawa keruang kesehatan, namun tiba-tiba temannya memanggil dan menyuruhnya untuk segera masuk ke kelas karena dosen sudah datang.
"Ugh kenapa leherku sakit sekali! aku bahkan tidak bisa bicara! sepertinya ada yang mencekik aku dari belakang lagi!" ucap Alia dalam hati.
Sementara itu di lapangan, Azam meminta izin untuk pergi keruang kesehatan dengan alasan sakit. Karena wajahnya memang sudah sangat pucat, jadi senior pun mengijinkannya pergi. Ia dipersilahkan untuk istirahat di bilik sebelah tempat Alia beristirahat.
Azam meminta segelas air putih pada senior organisasi kesehatan yang sedang berjaga namun tidak meminumnya, ia hanya membacakan beberapa doa lalu meminta senior untuk mengantarkan air itu pada Alia.
"Untuk apa? dia kan sudah di kasih air juga di sana?" tanya Vani.
"Nggak papa kok kak, saya cuma mau ngasih dia aja" jawab Azam.
"Oh jangan-jangan kamu suka sama dia?"
Azam hanya terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Vani, namun Vani paham dengan ekspresi wajah Azam, dia pun membantu Azam untuk memberikan air putih itu untuk Alia.
"Duh dasar junior, baru masuk aja udah suka-sukaan, lucu banget si" ucap Vani pelan.
__ADS_1
Vani pun langsung memberikan air putih itu kepada Alia dan memintanya untuk segera minum. Tak lama kemudian rasa sakit di leher Alia mulai berkurang dan perlahan menghilang, dia bahkan sudah bisa bersuara lagi dan wajahnya sudah terlihat tidak pucat lagi.
"Eh, kok rasa sakitnya bisa langsung hilang gini yah? aneh!" ucap Alia dalam hati.