
Alia masih terdiam dengan pandangan yang terus mengarah ke golok itu. Azam heran melihat sikap istrinya, dia pun berusaha mendekati dan kembali bertanya apa yang terjadi.
"Ah aku... "
"Kenapa?"
"Nggak papa, oh iya kamu mau sholat kan? sholat dulu aja" ujar Alia.
Azam pun segera menggelar sajadah di lantai dan memulai sholatnya. Sementara itu Alia masih memandangi keseluruhan ranjang besi yang sedang ia duduki sekarang. Entah kenapa air matanya menetes membasahi pipinya, ia merasakan bahwa ranjang itu menyimpan kenangan dan kesedihan yang mendalam.
Alia lalu menatap ke arah suaminya yang baru saja selesai sholat, dia lalu meraih Al-Qur'an kecil yang berada di rak buku dan mulai membacanya.
Meskipun sebelumnya Alia sudah pernah mendengar suara itu, namun kini dirinya masih merasa sangat kagum saat mendengar Azam yang sedang membaca Al-Qur'an dengan suaranya yang sangat menenangkan hati.
Alia menatap Azam dalam diam sampai Azam selesai membaca Al-Qur'an, dalam hatinya merasa sangat beruntung sekali memiliki suami yang pandai membaca Al-Qur'an dengan suara yang merdu dan menenangkan hati.
Alia lalu turun dan menghampiri Azam, dia langsung mencium tangan suaminya saat sudah meletakkan kembali Al-Qur'an yang tadi di bacanya. Mereka berdua kini sama-sama duduk di lantai dan saling berhadapan.
Azam menatap dalam wajah Alia yang terlihat cemas seperti merasakan sesuatu.
"Kamu kenapa?" tanya Azam pelan.
"Aku... sepertinya merasakan sesuatu" jawab Alia pelan.
"Cerita saja, aku akan dengarkan" Azam tersenyum menandakan dia siap mendengarkan semua yang akan di ceritakan oleh Alia.
"Ranjang itu... sepertinya dulu seorang perempuan terbaring di sana sampai akhir hayatnya" ucap Alia pelan.
Azam menghela nafas, dia merasa agak terkejut saat mendengar pernyataan Alia. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Alia bisa mengetahui dengan jelas hal yang sudah cukup lama terjadi.
"Apa sebelumnya kamu pernah melihat hal seperti itu?" tanya Azam.
Alia hanya menggelengkan kepalanya. Sebelumnya Alia hanya bisa melihat kejadian masa lalu yang mengerikan saja, seperti saat ia mengungkap tentang pembunuhan seorang perempuan yang mayatnya di sembunyikan di sebuah bangunan bekas kamar mandi rusak, dan juga soal penyebab kematian sosok Mawar yang terkena tabrak lari sampai mayatnya tidak pernah ditemukan.
Azam kembali menatap Alia dengan senyum yang berbinar, namun tak lama kemudian tatapannya berubah menjadi sayu dan berusaha membuang muka dari pandangan Alia karena ia tidak ingin Alia melihat ekspresi wajahnya yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Lalu apa lagi yang kamu lihat dari ranjang itu?" ucap Azam lirih.
"Dia..." Alia tidak berani meneruskan ucapannya ketika melihat raut wajah Azam yang sedang menahan kesedihannya.
"Katakan saja, aku ingin tahu apa saja yang kamu lihat" pinta Azam.
"Dia meninggal karena sakit, tidak bisa menahan kesepian yang ia alami karena ditinggal orang yang paling ia sayangi sehingga tubuhnya mengalami berbagai macam penyakit dan terjadi komplikasi" jelas Alia.
"Kamu tahu siapa perempuan itu?" ucap Azam sembari terus menatap ke arah ranjang yang sedang mereka bicarakan.
"Ibu kamu?" jawab Alia sambil menunduk.
Azam kembali menghela nafas panjang sambil mengelap air mata yang hampir membasahi pipinya.
Dia bercerita bahwa dulu semasa Ibu nya sakit memang terbaring di ranjang itu. Ia sempat membawa ibunya ke rumah sakit dan sempat di nyatakan sembuh, namun beberapa bulan setelah itu beliau kembali terjatuh sakit dan terbaring di ranjang itu selama beberapa hari. Azam bersikeras untuk membawa ibunya itu ke rumah sakit, namun sang ibu menolak sampai akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Ranjang itu tadinya terletak di kamar kedua orang tua Azam, namun Azam sengaja memindahkan ke dalam kamarnya untuk ia tempati. Hal itu karena ia ingin selalu merasa dekat dengan kedua orangtuanya meskipun sudah tiada.
Air mata pun membasahi pipinya karena tidak bisa menahan kesedihannya saat menceritakan hal itu kepada Alia. Namun ia tetap berusaha untuk tersenyum saat Alia menatap wajahnya.
"Maaf... aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu pada kesedihan..." ucap Alia pelan sembari meraih kedua tangan Azam.
"Aku mungkin tidak bisa mengerti kesedihan kamu, tapi setidaknya kamu bisa membaginya bersamaku, dan tidak perlu menutupi itu dariku" ujar Alia sembari membalas pelukan Azam.
"Selamat yah!" ucap Azam sambil melepaskan pelukannya.
Wajah Azam kini berubah ceria dan terlihat sudah tidak sedih lagi. Namun yang membuat Alia merasa bingung adalah ucapan selamat dari Azam.
"Selamat? untuk apa?"
"Karena sepertinya kemampuan kamu sekarang sudah bertambah" ujar Azam.
Alia sempat merasa bingung dan juga heran, bisa-bisanya Azam mengatakan hal seperti itu di tengah cerita kesedihannya.
"Nggak lucu tahu!!" teriak Alia sambil mencubit hidung Azam dengan kencangnya.
Azam sempat berteriak kesakitan namun karena kesal dengan candaannya, Alia pun melepaskan cubitan itu setelah hidung Azam benar-benar berubah menjadi merah.
"Padahal kan aku mengatakan yang sebenarnya..." ucap Azam sambil terus memegangi hidungnya yang memerah.
__ADS_1
Alia terus tertawa kecil sambil melihat ke arah Azam.
"Emmm sebenarnya... masih ada satu lagi..." ucap Alia.
Azam terdiam sembari menatap Alia, dia kembali menyuruh Alia untuk menceritakan apa lagi yang ia lihat.
Alia mengatakan bahwa dirinya melihat sosok laki-laki yang keluar dari golok yang di gantung di dinding dan tersenyum padanya.
"Seperti apa ciri-cirinya?" tanya Azam yang begitu antusias.
Alia menceritakan bagaimana sosok laki-laki yang mendatanginya tadi, untuk sejenak Azam terdiam. Semua yang dikatakan oleh Alia itu sangat mirip sekali dengan almarhum Abah nya sebelum meninggal.
"Sepertinya itu Abah" ucap Azam.
"Yang benar kamu? tapi yang aku lihat di foto tidak seperti itu" ujar Alia yang mencoba menyangkalnya.
Azam menjelaskan bahwa foto keluarga yang terpajang di ruang tamu di ambil sudah cukup lama, jadi wajar saja jika penampilan Abah itu sedikit berubah.
"Kamu beruntung sekali..." ujar Azam.
"Beruntung?"
"Ya, sejak lama aku ingin sekali melihat sosok Abah lagi meskipun hanya sekedar bayangan, tapi aku sama sekali tidak pernah melihatnya, sedangkan kamu... beliau malah datang sendiri" jelas Azam.
"Mungkinkah beliau menerima aku sebagai menantunya?"
"Tentu saja, beliau pasti bahagia melihat aku bisa menikah dengan perempuan cantik dan Solehah seperti kamu" ucap Azam dengan penuh senyuman.
Alia hanya tersenyum mendengar perkataan Azam, dia merasa tersipu malu dengan pujian yang diberikan suaminya itu.
"Bagaimana kalau besok pagi kita mengunjungi makam kedua orang tua kamu?"
"Tentu saja!" jawab Azam dengan penuh semangat.
Alia menyandarkan diri ke dinding, lalu Azam meminta izin untuk berbaring di pangkuannya, Alia pun tidak bisa menolak permintaan suaminya itu.
Karena itu adalah tempat baru bagi Alia, maka ia masih merasa kurang nyaman dan tidak bisa tidur, jadi Azam berkata bahwa dirinya mau menemani Alia untuk mengobrol sepanjang malam.
Mereka berdua pun tetap saling bicara sampai akhirnya Azam mulai terlelap di pangkuan Alia. Karena tidak tega untuk membangunkan Azam, Alia pun akhirnya memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di dinding sampai akhirnya tertidur.
__ADS_1
Namun belum lama Alia terlelap ia kini kembali terjaga. Dalam pikirannya terlintas sebuah penglihatan yang membuatnya terkejut.