
"Hei kamu kenapa si, dari tadi melamun terus. Mikirin apa?"
"Ah itu, em Minggu pagi ada acara penyambutan anggota organisasi baru, kamu diundang juga?"
"Oh yang itu, ya tadi aku dapat suratnya dari Nafisah"
"Eh kak aku ke kelas dulu yah,"
Alia bangun dari tempat duduk dan pergi ke kelas. Sementara Irfan masih duduk sendirian dan menikmati makan siangnya.
*****
Hari Sabtu pun tiba, Alia hanya ada kuliah sampai jam 12 jadi dia bisa pulang cepat.
Begitu sampai di rumah Alia langsung masuk ke kamar dan membuka laptopnya.
Dia begitu sibuk mengerjakan tugasnya untuk hari Senin, ia sengaja menyelesaikan hari itu supaya hari Minggu sudah tidak di bebani dengan tugas lagi.
Hari sudah semakin sore dan Alia masih serius duduk di depan laptopnya sampai adzan Maghrib mulai berkumandang.
"Alia kamu nggak mandi? sudah adzan Maghrib lho" teriak Bu Mia.
"Eh iya Mah sebentar lagi" jawabnya.
Alia pun bergegas untuk mandi dan segera sholat Maghrib. Setelah sholat Maghrib Alia duduk di depan rumah sambil menikmati angin malam.
Satu jam kemudian dia masih duduk di sana tanpa bergerak sedikitpun. Bu Mia mulai heran melihat anaknya yang duduk di depan rumah seperti sedang menunggu seseorang.
"Alia kamu nggak makan nak?" tanya Bu Mia dari balik pintu.
"Nanti aja Mah, belum lapar."
Bu Mia kembali masuk ke dalam dan menutup pintunya.
Alia melihat ke arah jam di ponselnya, sudah menunjukkan jam 8 malam.
"Duuh ni orang kemana si! di telfon nggak di angkat, di SMS nggak di balas!" gerutu Alia.
Perasaannya mulai kesal ketika orang yang sudah ia tunggu sejak tadi belum juga muncul dan bahkan tidak memberi kabar sama sekali.
Drrrttt drrttt...
Tiba-tiba ponsel Alia bergetar dan ternyata ada sebuah pesan masuk. Alia langsung membuka pesan itu dan ternyata memang dari Irfan.
Sayang... maaf yah malam ini aku nggak bisa pergi sama kamu, aku harus jagain Mama aku yang lagi sakit, kamu di rumah aja yah jangan kemana-mana.
Raut wajah Alia seketika langsung berubah jadi murung saat membaca pesan itu, karena mereka sudah janjian sejak jauh-jauh hari, namun Alia juga tidak bisa menyalahkan Irfan karena Mama nya yang tiba-tiba sakit.
__ADS_1
Alia hanya menjawab singkat pesan itu dan juga tak lupa mendoakan supaya Mama nya Irfan cepat sehat.
Tadinya Alia ingin menelpon Irfan walau hanya sebentar untuk mendengar suaranya, namun telepon dari Alia sama sekali tidak di angkat.
"Ah ya sudahlah, mungkin dia sedang sibuk merawat Mama nya." gumam Alia pelan.
Alia masih duduk di teras rumah sendirian, dia menatap langit yang di penuhi bintang dan juga sinar bulan purnama.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengulurkan tangannya dengan beberapa buah Cherry di atasnya.
"Chika?"
Alia terkejut sekaligus senang karena karena dia mendapat teman di tengah kesunyian yang sedang ia lewati.
"Kaka kenapa?"
"Nggak kok nggak papa"
"Aku tahu, kakak mikirin orang jahat itu"
Alia terdiam dan menatap Chika dengan tatapan dingin. Dia sebenarnya merasa tidak terima saat Chika terus saja menyebut Irfan sebagai orang jahat.
"Chika, dia itu mungkin jahat sama kamu, tapi sama kakak enggak kok, dan kakak sayang. sama dia" jelas Alia.
"Kakak kok bisa si sayang sama orang yang udah jahat dan nyakitin kakak!"
Tanpa di sadari sesuatu telah masuk ke dalam hati dan pikirannya, membuatnya semakin gelisah dan tidak tenang. Alia kembali memikirkan tentang ucapan Chika.
"Apa maksudnya Irfan nyakitin aku? selama ini kami baik-baik aja kok" ucap Alia pelan.
Lama kelamaan hati Alia menjadi semakin gelisah, ia terus saja terfikir tentang Irfan. Alia mencoba untuk menelfon nomornya, namun masih saja tidak dia angkat, sampai akhirnya Alia memutuskan untuk meminjam ponsel Sita dan menelfon Irfan menggunakan nomor Sita.
Benar saja, baru sekali Alia mencoba menelfon Irfan menggunakan nomor Sita dan langsung di angkat. Namun Alia merasa sangat terkejut saat mendengar suasana di sekitarnya, begitu ramai dan berisik.
"Halo ini siapa yah" ucap Irfan.
"Kamu di mana?"
"Aku udah di lokasi konser, kamu siapa si?"
"Oh gitu yah, nggak kenal sama suara pacarnya sendiri!"
"Eh gimana? maksudnya apa?"
Alia langsung menutup telfonnya dan mengembalikan ponsel Sita. Dia langsung masuk kamar dengan perasaan yang sangat kesal, tanpa terasa air matanya mengalir.
"Kita janjian kan udah lama! kok bisa-bisanya si kamu kaya gitu sama aku!" ucap Alia dalam hati.
__ADS_1
Pikiran Alia semakin campur aduk, hatinya juga merasa sangat tidak tenang dan dipenuhi amarah, karena itu pertama kalinya Irfan berbohong pada Alia, dan juga di hari yang menurut Alia spesial.
"Apa sampai seperti itu karena dia sangat ingin pergi bersama temannya? apa aku terlalu mengekang dia selama ini?"
Alia masih bergumam dalam hati, entah kenapa ia merasa ada yang berbeda di balik sikap Irfan, dia juga merasa kalau Irfan bukan hanya ingin pergi bersama temannya.
"Lihat saja, kalau sampai kamu bermain di belakang aku, maka kamu akan rasakan akibatnya!"
Tanpa sadar Alia mengucapkan perkataan itu, dan saat tersadar dia benar-benar merasa heran kenapa dia bisa sampai berucap seperti itu.
"Nggak nggak! Irfan nggak mungkin seperti itu di belakang aku! ya Allah semoga aja firasat aku salah!"
Alia meraih handset dan memasang di kedua telinganya. Dia memutar lagu-lagu favoritnya sambil bermain game di ponselnya untuk menghilangkan rasa kesal.
Tanpa terasa Alia tertidur sampai pagi dengan posisi ponsel yang masih menyala.
_____------______
"Alia... bangun nak sudah subuh!"
Bu Mia masuk ke kamar Alia dan mematikan ponselnya, dia juga membangunkan Alia untuk segera sholat subuh.
"Eh Mama, emangnya udah pagi yah?"
"Kamu ini kenapa? tidur kok telinga di sumpal begitu, nggak bagus lho!" ucap Bu Mia.
"Hehe maaf Mah, semalam ketiduran"
"Ya sudah sekarang ayo sholat subuh dulu"
Alia pun bergegas bangun dan mengambil air wudhu, lalu sholat subuh di kamarnya.
Untuk sejenak ia telah lupa akan kekesalan yang ia rasakan semalam.
Hari sudah semakin siang dan Alia sudah terlihat rapi. Dia segera bersiap untuk menghadiri acara yang diadakan organisasi keagamaan.
"Loh kamu bukannya hari ini libur nak?" tanya Bu Mia.
"Iya Mah, tapi ada acara di organisasi"
"Oh begitu, ya sudah sarapan dulu sebelum pergi"
"Iya Mah."
Alia pun duduk di meja makan dan memulai sarapan. Setelah selesai sarapan Alia segera pergi ke rumah Afi dan mengajaknya untuk berangkat bersama.
Saat Alia sampai, semua anggota sudah hadir di dalam ruangan, namun ia sama sekali tidak melihat Irfan.
__ADS_1
"Dia benar-benar nggak datang, apa dia sedang menghindar dari aku karena ketahuan berbohong semalam?" gumam Alia dalam hati.