Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Meisya (S2)


__ADS_3

 


Suasana menjadi semakin ramai karena sudah semakin banyak anggota yang mulai berdatangan untuk mengikuti rapat.


 


Alia masih saja terbengong dengan begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya.


"Alia, kamu kenapa kok malah melamun?" tanya Gita.


"Eh enggak papa kok kak" jawab Alia.


"Mikirin apa?"


"Enggak mikirin apa-apa, cuma lagi banyak tugas aja, oh iya kira-kira kapan rapatnya di mulai ya kak?"


"Paling sebentar lagi, itu anak-anak juga udah pada datang semua"


Alia melihat ke sekelilingnya dan ternyata memang sudah banyak anggota lain yang datang, bahkan tempat duduknya sudah terisi penuh, kurang lebih ada sekitar 20 orang yang menjadi anggota organisasi tersebut.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya rapat pun di mulai, rapat di pimpin oleh ketua organisasi yang ternyata adalah seorang perempuan. Alia pun sudah tidak asing lagi dengan orang itu, karena sewaktu Alia di bawa ke rumah sakit saat ospek dulu, dialah yang menemani Alia.


Alia melihat ke kanan dan ke kiri, namun tidak satupun orang yang di rasa ia kenal, memang ada beberapa mahasiswa yang satu angkatan dengannya, namun mereka semua berasal dari fakultas yang berbeda dengan Alia, dan Alia tergolong anak yang tidak terlalu akrab dengan orang lain selain teman sekelasnya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya rapat pun selesai. Alia segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas untuk keluar. Dia melihat ke arah jam tangannya, dan ternyata 15 menit lagi kelasnya akan segera di mulai.


"Duh keburu nggak yah buat nanya ke Arrafi?" gumam Alia pelan.


Alia masih berjalan dengan terburu-buru, namun dia sendiri masih bingung hendak menuju ke mana, antara ke kelas Azam atau ke kelasnya. Untuk sejenak Alia hanya berjalan dengan tergesa-gesa tanpa tujuan yang pasti.


Karena sebentar lagi kelasnya akan segera di mulai, akhirnya Alia pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan kembali mengundur niatnya untuk bertanya kepada Azam.


Saat Alia sampai di depan kelasnya, tiba-tiba sosok anak kecil dengan wajah yang mengerikan itu berdiri di depannya dan menghadang jalan. Alia berhenti dan menatap sosok itu dengan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh amarah. Tak lama kemudian sosok itu pun lenyap dan Alia langsung masuk ke dalam kelasnya.


Hatinya masih diliputi rasa emosi karena kejadian tadi, entah kenapa ia kini mulai membenci Meisya, meskipun ia belum tahu jelas tentang kebenarannya, namun hatinya merasa sangat tidak senang saat melihat wajah itu.


_____-----______


Setelah menunggu berjam-jam akhirnya kelas pun selesai, Alia masih berniat untuk bertanya kepada Azam soal mahluk yang berada dalam gelang itu, jadi dia segera keluar kelas dan menuju ke gedung fakultas keagamaan.


Baru saja Alia keluar dari kelasnya, dan ternyata dia melihat Azam sedang berjalan menuju ke arah perpustakaan. Tanpa pikir panjang Alia pun langsung menyusulnya.


Azam sudah lebih dulu masuk ke dalam perpustakaan, jadi Alia pun segera masuk ke dalam dan menemui Azam.

__ADS_1


"Arrafi!"


"Ragasy? kenapa?"


"Em... aku mau tanya soal..."


"Soal gelang yang kemarin?"


"Iya, apa mahluk di dalamnya masih ada? soalnya hari ini aku lihat dia udah sama pemiliknya" ujar Alia.


"Kamu tahu pemiliknya? siapa? jadi mahluk itu benar-benar ada pemiliknya?" Azam terlihat kaget saat mendengar pernyataan Alia, dia sebenarnya tidak ingin memberitahu yang sebenarnya bahwa mahluk itu memang dikirim oleh pemiliknya untuk melukai Alia.


"Kamu udah mengembalikan mahluk itu ke pemiliknya?" Alia kembali bertanya.


"Ya, aku kembalikan" Azam menjawab sembari menunduk karena merasa bersalah


"Tapi aku jamin kalau dia nggak akan datang ataupun menyerang kamu lagi, kamu tenang aja?"


Alia terdiam lalu pergi tanpa berkata apapun, dia berjalan keluar dari perpustakaan. Perasaannya menjadi campur aduk, antara heran, kaget dan juga kesal. Dia sama sekali tidak tahu harus bagaimana menyikapi ini.


"Eh Ragasy? kamu mau kemana?" Azam mencoba untuk menghentikan Alia, namun Alia sama sekali tidak menghiraukan, dia terus berjalan dan menjauh.


Saat ini yang diinginkannya hanyalah sendiri di tempat yang sepi agar bisa menenangkan pikirannya.


Saat sampai di taman, tanpa sengaja dia melihat Meisya yang berjalan sambil menangis seolah habis bertengkar dengan seseorang.


"Meisya? dia kenapa?"


Tadinya Alia sempat berpikir untuk menghampirinya, namun ia kembali teringat bahwa kenyataan tentang mahluk yang ingin menyerangnya adalah suruhan dari Meisya.


"Ah untuk apa aku menghampiri orang yang bahkan ingin mencelakakan aku?"


Alia kembali berjalan dan melupakan soal Meisya. Dia duduk di bawah pohon yang cukup rindang sembari mengeluarkan earphone dan memasangnya di telinga.


Dia memutar musik kesukaannya untuk sejenak menghilangkan rasa kesal di hatinya, namun tak lama kemudian dia kembali teringat dengan kenyataan itu.


"Sebenarnya apa masalah Meisya denganku? apa sebegitu membenci aku sampai-sampai ingin mencelakai aku? tapi itu sungguh tidak masuk akal!" gumam Alia pelan.


"Woy! sendirian aja!"


Tiba-tiba Afi datang dan mengagetkan Alia dari belakang.


Alia hanya menengok dengan ekspresi wajah dingin tanpa berkata-kata. Afi pun langsung duduk di sebelah Alia, dia cukup paham jika Alia menunjukkan ekspresi seperti itu berarti suasana hatinya sedang tidak baik, jadi Afi pun tidak lagi mengejeknya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? ada masalah?" tanya Afi.


"Yah soal mahluk yang aku masukan ke dalam gelang kamu"


"Kenapa sama mahluk itu?"


"Jadi dia sengaja dikirim buat nyerang aku"


"Astaghfirullah... siapa yang berani kaya gitu sama kamu Al? nggak tahu apa kalau kamu itu bisa meremas-remas mahluk seperti itu?"


Afi ikut kesal ketika mendengar cerita Alia, dia terus saja bicara dan mengeluarkan kata-kata umpatan yang cukup kasar karena tidak terima sahabatnya dijahili.


"Jadi siapa yang kirim? ayo ngomong ke aku!" teriak Afi.


"Meisya" jawab Alia singkat.


Tiba-tiba saja Afi langsung terdiam seribu bahasa saat mendengar nama itu, yang tadinya sangat cerewet kini bahkan seperti orang bisu yang tidak bisa lagi bicara.


"Woy Fi! kok diam? dari tadi aja nyerocos terus?" tanya Alia yang heran.


"Kamu bilang Meisya yang kirim mahluk itu?"


Alia hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Afi.


"Meisya yang teman sekelas kamu?"


Alia kembali mengangguk dan tidak berucap.


"Yang sempat kecelakaan itu?"


"Iya Meisya yang itu! lagian kamu itu kenapa si kok jadi aneh begitu sejak dengar nama dia?"


Alia mulai kesal karena sikap Afi berubah menjadi aneh dan terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kok dia bisa melakukan itu? memangnya dia punya kemampuan itu juga?" tanya Afi.


"Yah katanya si begitu, tapi dia itu terlalu sombong! dan aku nggak suka sama sikapnya yang seenaknya gitu!"


"Terus kamu mau gimana?"


"Heh dia harus tahu siapa aku sebenarnya!"


Ucapan Alia terdengar sangat serius dan penuh ambisi, padahal sebelumnya Alia tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, dia juga tidak pernah memanfaatkan kemampuannya untuk menyakiti orang lain, karena dirinya juga tidak ingin identitasnya diketahui oleh banyak orang, jadi dia selalu memilih untuk diam, tapi kali ini rasanya Alia sudah tidak bisa menahan semua itu. Hati dan pikirannya kini benar-benar dipenuhi rasa emosi pada seorang Meisya.

__ADS_1


__ADS_2