Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pengorbanan


__ADS_3

 


Alia sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jernih, lagi-lagi karena dirinya, orang yang berada di dekatnya mengalami bahaya.


Alia berbalik dan menatap Azam dengan wajah memelas. Dia memohon pada Azam untuk bisa memberitahu Alia bagaimana caranya menggunakan kemampuan yang ia miliki supaya bisa menolong Afi.


Untuk pertama kalinya Alia memohon dan meminta bagaimana dia bisa menggunakan kemampuan yang selama ini selalu ia tutupi.


"Aku sudah pernah kehilangan Mayra... aku nggak mau kehilangan satu lagi sahabat aku!" ujar Alia.


"Tapi itu sangat beresiko" jawab Azam.


"Semua ini terjadi karena aku, dan harusnya aku yang berada di posisi Afi sekarang"


Azam hanya terdiam, dia pergi ke kamar untuk mengambil selembar kertas dan juga pulpen. Dia menulis beberapa tulisan menggunakan huruf Arab lalu menyerahkan itu kepada Alia.


"Pergilah... Afi pasti ada di sungai itu, tapi mungkin hanya kamu yang bisa melihatnya"


Alia langsung mengambil selembar kertas itu dan membacanya, ia lalu pergi ke sungai kecil yang berada tak jauh di belakang rumah. Azam meminta Nafisah dan ketiga teman laki-laki untuk menemaninya.


"Lah kamu nggak ikut Zam?" ujar Erik yang heran saat Azam hanya berdiri terdiam.


"Aku di sini..." jawab Azam pelan.


Nafisah menatap Azam dengan seksama. Untuk pertama kalinya Nafisah melihat Azam dengan wajah berkaca-kaca seolah ingin menangis, mungkin dia sangat paham bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada Alia.


Sementara itu Bu Murniati masih membisu karena ketakutan, beliau hanya terduduk diam di ruang sholat lalu Azam meminta Rahma Sandra dan juga Nila untuk menemaninya.


Azam mengambil air wudhu dan masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan sholat sunah, dia juga terus berdoa supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepadanya dan semua teman-temannya.


_____-----_____


Dengan cepat Alia berjalan turun dan memasuki sungai kecil itu. Ia berdiri tepat di bawah jembatan bambu kecil dan melihat ke sekelilingnya begitu juga dengan teman-temannya yang lain.


Karena sedang musim kemarau, maka sungai kecil itu benar-benar kering dan tidak ada airnya sedikitpun.


"Si Azam gimana si! masa nyuruh kita pergi nyari, tapi dia sendiri cuma diam di rumah aja!" gerutu Erik.

__ADS_1


"Aduh Rik kamu bisa diam nggak! udah kaya perawan aja deh cerewet!" ujar Latif.


"Udahlah mendingan sekarang kita fokus cari Afi dulu" sahut Anton.


Sementara itu Alia dan Nafisah sama sekali tidak menghiraukan ketiga anak laki-laki itu. Mereka masih fokus melihat ke semua bagian dari sungai kecil itu.


"Astaghfirullah!!" tiba-tiba saja Erik berteriak dan berlari ke arah Anton.


"Kenapa? ada apa" tanya Anton.


"Uler bro! uler!!!" teriak Erik.


"Mana?"


"Itu... itu.."


Erik menunjuk ke arah seekor ular berwarna hitam dengan ukuran yang cukup besar. Semua orang merasa panik karena adanya hewan berbisa itu, namun Alia terus menatap ular itu dan mengikutinya.


"Eh Alia tunggu!" teriak Latif sembari mengejar Alia.


"Udah ayo kita ikutin!" sahut Anton.


Alia terus mengikuti ular hitam itu dan bertemu kedua sosok jelmaan kelabang yang sempat menggangunya kemarin, ternyata kedua mahluk itu merupakan bawahan dari penunggu mata air yang di sebutkan oleh Bu Murniati. Seketika ular hitam itu menghilang dan kini hanya ada kedua mahluk jelmaan kelabang yang sedang menghadang mereka meskipun hanya Alia dan Nafisah yang dapat melihatnya.


"Loh Alia? kenapa berhenti?" tanya Anton.


"Udah kalian diam saja!" jawab Nafisah, sementara itu Alia hanya diam sembari menatap kedua mahluk yang ada di hadapannya.


Tak lama setelah itu, terdengar suara tembang Jawa yang dinyanyikan oleh Alia dengan sangat merdu. Suaranya begitu halus dan melengking saat memasuki nada tinggi. Alia terus mengkidung sembari melangkah ke depan dengan perlahan.


"Bro, dia kenapa? kok kaya orang kesurupan gitu?" tanya Erik yang ketakutan saat melihat Alia.


"Udah mendingan kita diam aja!" ujar Latif.


Anton, Erik, dan juga Latif sangat terkejut ketika melihat Alia mengkidung dengan suara yang sungguh aneh, menurut mereka juga itu bukanlah suara asli Alia.


Kedua mahluk jelmaan itu merasa sangat terusik saat mendengar nyanyian Alia, mereka akhirnya lenyap tanpa jejak dan sama sekali tidak terlihat lagi, namun gelagat Alia masih seperti bukan dirinya. Cara berjalannya mulai melenggak-lenggok dengan kedua tangannya yang terus berayun ke kanan dan ke kiri layaknya seorang sinden. Tatapan matanya juga tajam dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya, kelakuannya sudah seperti seseorang dari keturunan darah biru.

__ADS_1


"Dia benar-benar sudah membuka dirinya" ucap Nafisah dalam hati.


Alia terus berjalan sembari diikuti semua temannya. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah mata air yang sangat jernih, meskipun kemarau, tapi mata air itu tetap mengeluarkan air namun tidak terlalu banyak.


"Apa ini mata air yang di bilang Bu Murniati?" tanya Nafisah.


"Nggeh leres..." jawab Alia dengan suara yang sangat lembut dan senyuman yang masih terpasang di wajahnya. Bahkan bicaranya pun kini menggunakan bahasa Jawa kromo.


"Lalu di mana Afi" ucap Nafisah.


Alia lalu mengambil sedikit air dari mata air itu menggunakan tangan kanannya, lalu ia lemparkan ke bagian pinggir tanah yang berada dekat dengan pohon bambu di atasnya.


"Astaghfirullah!! Afia!!" teriak Anton.


Terlihat tubuh Afi yang tergeletak tak jauh dari mata air itu, tubuhnya sebagian tertutup oleh daun bambu kering sehingga tidak terlalu terlihat. Dengan segera mereka menyingkirkan daun bambu itu dari atas tubuh Afi.


Tubuh Afi sudah terlihat kaku dan juga penuh luka. Itu karena gigitan serangga yang berada di tanah dan juga tergores oleh daun-daun bambu yang kering.Wajahnya membiru, dan bibirnya sangat pucat karena sudah dua hari terkena air dari mata air itu.


"Alhamdulillah masih hidup" ujar Anton yang memeriksa denyut nadi Afi.


"Kalian semua tolong bawa Afi, aku akan memegang Alia" ujar Nafisah.


Ketiga laki-laki itu pun dengan segera mengangkat tubuh Afi dan membawanya kembali ke rumah Bu Murniati.


Mereka segera membaringkan Afi di tempat tidur dan meminta teman perempuannya untuk membersihkan tubuhnya.


Alia dan Nafisah baru sampai setelah beberapa saat, semua teman perempuan mereka merasa terkejut melihat sikap dan cara bicaranya.


"Ini sebenarnya ada apa si? dan kenapa Alia jadi aneh begitu?" tanya Sandra.


"Dia kesurupan kali, dari tadi udah aneh begitu" ujar Erik.


"Kalian bisa diam nggak?" Nafisah menyuruh semuanya untuk diam, dia lalu menyuruh Alia untuk duduk di ruang tengah.


Tak lama setelah itu Azam keluar dari kamar dan melihat Alia yang terduduk diam di ruang tengah, tatapannya terlihat sangat sayu dan juga lemah. Tidak tega melihat Alia yang benar-benar rela menukar dirinya demi sahabatnya.


Sosok wanita yang Alia lihat tempo hari sedang menari-nari dalam gelap dan juga dilihat oleh Azam serta Nafisah saat merasuki tubuh Afi, kini dia sedang berada di dalam tubuh Alia.

__ADS_1


__ADS_2