
Keesokan harinya saat Alia sedang berada disekolah, Pak Aji mencoba memanggil seorang kiai untuk melihat keadaan di kamar Alia, ia sengaja tidak memberitahu Alia karena takut putrinya akan merasa khawatir.
"Bagaimana pak dengan kamar ini?" tanya Pak Aji yang mulai penasaran.
Kiai itu menggelengkan kepalanya sambil melihat sekeliling kamar Alia.
"Sungguh nak, disini memang sudah seperti sarang nya" ucap kiai itu dengan singkat.
Pak Aji pun kaget mendengar pernyataan itu.
"Maksudnya gimana Pak? anak saya itu insyaallah sholat nya rajin, dia juga sering mengaji di kamarnya. kenapa bisa menjadi sarang untuk yang seperti itu?"
Pak kiai terdiam sejenak lalu membacakan doa-doa.
"Saya tidak bisa berbuat banyak, mereka semua datang atas kemauan mereka, jadi kemungkinan besar tidak akan menggangu orang lain." jelas Pak kiai.
"Tapi kenapa mereka semua bisa datang"? Pak aji masih penasaran.
"Pertama karena anakmu itu spesial, dan yang kedua masih berhubungan dengan sesepuh nya"
Tak lama setelah itu Pak kiai pun pergi.
Beberapa hari kemudian hari yang sangat ditunggu Alia pun tiba, yaitu hari pengumuman kelulusan nya.
Saat itu Alia sengaja ke sekolah agak siang, dan ternyata semua temannya sudah datang.
"Woy! kesiangan ya!?" ucap Afi dengan nada menyindir.
"Ngga kok, sengaja pengin datang siang!"
"Idih sewot bener. Bercanda aja kok!"
"Udahlah yuk ke aula!"
Mereka berdua bergegas menuju aula sekolah, dan acara pembukaan sudah dimulai.
Alia sengaja berdiri di bagian paling belakang aula sementara Afi pergi menghampiri tempat duduk Ibunya.
__ADS_1
"Kok kamu ngga duduk?" tiba-tiba Aldi datang menghampiri.
"Eh, nggak lah disini aja. Sumpek didepan, lebih sumpek lagi kalo nanti denger nilai ku jelek hahahaha" Alia mencoba menghibur diri untuk menghilangkan rasa deg-degan yang sedang ia alami.
Mereka berdua bercanda dan terus mengobrol sampai saat yang ditunggu-tunggu tiba.
"Baik sekarang saya akan mengumumkan nama siswa kelas 9 yang lulus dengan nilai terbaik, dan kali ini saya benar-benar dibuat kaget dengan hasilnya. Karena semua orang pasti tidak akan menyangka bahwa dia yang akan mendapat nilai tertinggi"
Semua orang terdiam, mereka sudah tidak sabar ingin mendengar siapa nama siswa yang berbakat itu. Sementara Alia masih bersikap santai, karna ia percaya bahwa namanya tidak mungkin disebutkan. Karena selama ini nilainya selalu standar, tidak jelek dan tidak bagus juga.
"Lah udah pasti itu si Reni yang pintar itu!" ucap Alia dengan yakinnya.
"Belum tentu juga!"
Alia dan Aldi sempat berdebat.
"Jadi.... siswa yang lulus dengan nilai Ujian Nasional tertinggi adalah..." Kepala sekolah terdiam sejenak, membuat semua orang semakin penasaran.
"Ku mau keluar lah!" Alia berjalan menuju pintu keluar aula, namun tiba-tiba....
"Namanya adalah ananda Alia ragasy!!" ucapan kepala sekolah sungguh membuat semua orang terkejut.
Alia berhenti dan menengok kearah kepala sekolah, dia seakan tidak percaya. Sementara itu Mama nya juga terus menatap kearah nya.
"Eh ini beneran? nama aku barusan disebut yah?" Alia masih tidak percaya, dan semua orang menatap kearahnya.
"Dan satu pengumuman lagi, yaitu seluruh siswa kelas 9 semuanya Lulus 100%!!" kepala sekolah melanjutkan pengumuman nya dan semua siswa bersorak gembira karena bisa Lulus.
"Kepada ananda Alia dan walinya dimohon untuk naik keatas panggung" ucap kepala sekolah.
"Woy diem aja si! naik sana ke panggung!" ucap Afi yang mengagetkan Alia.
Alia naik keatas panggung untuk mendapatkan surat kelulusan dan penghargaan dari sekolah.
selang beberapa waktu acara pun selesai, para wali diperbolehkan untuk pulang. Sementara para siswa ada yang ikut pulang dan ada yang masih disekolah.
"Alia! selamat yah!" ucap Aldi.
Alia tersenyum, mereka berdua mengobrol sebentar sampai akhirnya Alia memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, semua merasa senang dengan kabar kelulusan Alia itu, bahkan Mama nya pun langsung menyiapkan sebuah syukuran kecil untuk keluarga.
__ADS_1
"Jadi, kamu mau lanjut sekolah dimana nak?" tanya pak Aji.
"Aku si inginnya di SMK negeri pah" ucap Alia dengan nada sedikit takut. Dia tahu bahwa kondisi keuangan keluarga mereka hanya pas-pasan, dan biaya masuk ke SMK negeri terlalu mahal, jadi Alia juga pesimis untuk bisa sekolah di sekolah impian nya itu.
Pak Aji terdiam, tak lama kemudian Bu Mia angkat bicara.
"Tadi kepala sekolah bilang kalau kamu lulus seleksi jalur khusus di MA Ma'arif (Madrasah Aliyah/ sekolah Islam tingkat SMA)"
"Oh itu aku cuma iseng ikut tes aja si mah, ngga terlalu niat banget buat masuk sana" ucap Alia.
"Kenapa ngga ambil sana aja,, meskipun itu sekolah swasta tapi kamu sudah bebas biaya masuk, bulanan dan bahkan dapat bahan untuk seragam nya, sudah tidak perlu keluar uang lagi cuma tinggal masuk saja?" jelas Bu Mia.
"Benar itu Bu?" tanya Pak Aji
"Iya Pak,, apalagi sekolah nya dibawah naungan pondok pesantren, banyak siswa yang sekolah disana dan tinggal di Pesantren"
"Tapi mah, lokasinya jauh banget lho dari rumah, satu jam kalau naik motor" Alia mulai mengeluh, karena sebenarnya ia sangat tidak ingin sekolah disana.
"Kan bisa sambil mondok? tinggal di Pesantren sambi ngaji?"
"Nggak! aku ngga mau tinggal di pesantren!" Alia mulai bicara dengan nada tinggi.
"Ya sudah, karna kamu rangking pertama, Mama akan belikan kamu sepeda motor untuk sekolah, gimana?" Bu Mia terus saja membujuk Alia agar mau masuk sekolah itu.
Sementara Pak Aji terus menatap kearah Bu Mia.
"Beneran mah?" Alia mulai senang dengan pernyataan Mama nya.
"Iya,, tapi ngga baru juga ngga papa kan?"
"Ngga papa kok mah, iya aku mau!" Alia pun senang dan langsung masuk ke kamarnya.
Sementara Pak Aji masih menatap Bu Mia.
"Uang dari mana Bu? motor Bapak aja udah bolak-balik rusak tapi belum bisa beli yang lebih bener?" Pak Aji agak keberatan dengan keputusan istrinya.
"Kita pakai tabungan kita ya pak, kalau ngga cukup kita cicil selebihnya, ngga papa lah pak anggap saja hadiah karena Alia sudah membuat kita bangga. Kan sayang kalau sampai ngga lanjut sekolah, nilainya bagus dan dia juga giat" Jelas Bu Mia.
Pak Aji akhirnya setuju dengan keputusan Bu Mia.
Esok harinya Bu Mia langsung mengajak Alia pergi untuk membeli motor, mereka pergi ke sebuah dealer motor second di dekat desanya.
__ADS_1
Meskipun bukan motor baru, namun penampilan dan mesinnya masih bagus karena dirawat oleh pemilik dealer tersebut. Dan Alia pun merasa sangat bahagia. Ia berjanji untuk belajar lebih giat lagi agar tidak kehilangan beasiswanya.