Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Sungguh, itu benar-benar terjadi


__ADS_3

Hari-hari aku jalani seperti biasa, aku dan Ardian sudah hampir satu Minggu tidak pernah bertemu, bahkan tidak pernah mendengar kabar tentang nya. Aku tetap tenang, karena aku tahu dia sedang sibuk bekerja.


"Sekarang hari Jum'at, dan besok Sabtu, mungkin besok dia akan datang" aku bicara dalam hati, berharap kalau besok Ardian akan datang menemui ku, karena saat hari Sabtu ia pulang dari tempat kerjanya dan hari Minggu nya dia libur.


Aku masih senyum-senyum sendiri di kamar sambil memegang kalung monel yang Ardian pakaikan padaku.


*****


Pagi harinya....


Aku berangkat sekolah seperti biasa, tapi entah kenapa hari itu perasaan ku begitu cemas. Pikiran ku tidak berhenti memikirkan Ardian,, entah bagaimana keadaannya sekarang.


Waktu itu sekitar jam istirahat tiba-tiba leher ku terasa sakit, sangat sakit! dan tanpa sadar aku menarik kalung yang aku pakai sampai putus.


"Gila yah! kok kaya ada yang cekik aku si!" ucap ku dalam hati.


Aku merasa sangat menyesal karena telah merusak kalung itu.


Siangnya aku pulang sekolah dan entah kenapa hatiku masih saja tidak enak, pikiran ku campur aduk entah apa yang sedang aku pikirkan.


Saat aku tiba di rumah, aku melihat Mama yang baru masuk rumah, dia memakai baju serba hitam seperti habis melayat.


"Mama dari mana?" tanyaku yang penasaran.


"Oh Mama habis melayat nak" ucap Mama dengan singkat, dia langsung masuk kedalam rumah dan aku pun menyusulnya.


"Siapa yang meninggal mah?" aku bertanya lagi karena masih penasaran.


"Temanmu itu lho,, yang Minggu lalu main kesini, Mama nggak nyangka lho itu kali terakhir lihat dia" jelas Mama dengan pelan.


Deg... jantung ku berdebar sangat kencang, tubuh ku seakan dihantam dengan sangat keras, mulutku begitu kaku seperti tak bisa lagi berucap. Ingin sekali aku memastikan bahwa itu bukanlah dia, namun sepertinya hanya khayalanku saja.


"Kamu kenapa nak? oh kamu pasti kaget yah, karena dia kan teman dekatmu dan sudah berteman sejak kecil" ucap Mama yang mencoba menebak perasaan ku.


Bibirku masih kaku, dengan gemetar aku mencoba bertanya kepada Mama.

__ADS_1


"Meninggalnya kenapa mah?" tanyaku dengan suara yang begitu pelan.


"Katanya si kecelakaan, tadi lho sebelum Dzuhur, naik motor berdua sama temannya, tapi anehnya dia itu padahal nggak ada luka sedikitpun, sehabis nabrak bahkan masih bisa bangun. Bisa minta tolong, sedangkan temannya itu parah, punggungnya sampai sobek dan kepalanya penuh darah, tapi dia masih hidup dan sekarang di rumah sakit" jelas Mama.


"Kok bisa mah?" aku masih ingin tahu penyebab kecelakaan itu.


"Mama denger dari orang yang lihat, kalau mereka itu habis mabuk! makanya bawa motor asal-asalan sampai nabrak gitu" jelas Mama ku lagi.


Seketika tubuhku menjadi lemas, bibirku kaku dan tidak dapat berkata apapun lagi, aku masih ingat betul dengan kata-katanya saat terakhir kali kami bertemu.


"Mah,, yang meninggal itu apa Ardian?" aku bertanya sekali lagi kepada Mama untuk memastikan.


"Iya Ardian, yang Minggu lalu main ke sini itu" ucap Mama meyakinkan.


Aku langsung masuk kamar dan menangis, entah bagaimana mengungkapkan perasaan ku sekarang. Rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.


"Kenapa!? kenapa!!!!!!" aku terus berteriak pada diriku sendiri sambil menangis. Aku kembali menggenggam kalung itu dan bertanya pada diriku sendiri.


"Itu hanya janji konyol yang tidak pernah ingin aku setujui! tapi kenapa ini benar-benar terjadi! kenapa!?" aku terus saja mengumpat. Rasa marah dan rasa bersalah ini, seperti telah memberikan ku sebuah hukuman besar.


Mungkin orang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku, ketika kehilangan orang yang aku sayang, karena mungkin mereka menganggap bahwa itu hanya sekedar cinta monyet saja. Cinta anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Karena saat ini aku memang masih duduk di bangku Mts.


Jadi, aku benar-benar akan kehilangan dia untuk selamanya, ya! selamanya, dan tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi....


*****


'KEMBALI KE PERCAKAPAN ALIA DAN ALDI'


"Sekarang kamu tahu kan kenapa aku minta kamu buat jauhin aku!" ucap Alia setelah ia selesai bercerita.


Air matanya mengalir karena mengingat kejadian itu.


Aldi hanya diam, dia masih memikirkan kejadian yang menimpa Ardian. Karena kalau dipikir-pikir itu bukan sepenuhnya kesalahan Alia.


"Sampai hari ini, penyesalan dan rasa bersalah itu masih ada!" imbuh Alia.

__ADS_1


"Tapi itu bukan sepenuhnya salah kamu kan! dia itu tidak bisa menjaga ucapannya, dan tidak bisa menepati janji!" Aldi mencoba mengurangi rasa bersalah itu.


Alia hanya terdiam, yang ia ingat hanyalah kata-kata Ardian dan janji itu. Jika saja Alia tidak menyetujui maka mungkin itu tidak akan pernah terjadi.


"Alia coba lah kamu pikir, dia itu sudah mengingkari janjinya sama kamu, sudah membuat kamu kecewa, jadi..."


"Jadi apa!" Alia memotong ucapan Aldi yang belum selesai.


"Lalu bagaimana dengan Dina!? kata-kata yang aku ucapkan padanya kini jadi kenyataan juga kan!" Alia mulai emosi, dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Tanpa terasa air matanya kembali mengalir, saat dia mulai mengingat ketika orang yang ia sayangi pernah terluka.


"Tenang Alia! kamu harus tenang, saat kamu marah mungkin tanpa sadar kamu mengucapkan kata-kata buruk dan akan membuat kamu menyesal" Aldi mencoba menenangkan Alia.


"Tenang? saat orang lain berkata buruk tentang keluarga ku apa aku masih bisa tenang?" Alia masih terus mengumpat karena dia merasa sangat kesal.


"Kamu itu istimewa, saat kamu bisa mengendalikan dirimu maka kamu akan jadi dirimu sendiri. Tapi kalau kamu marah, setan bisa dengan mudah menguasai jiwa kamu yang merasa lemah, jadi tanpa sadar kamu melakukan hal buruk" jelas Aldi lagi.


Alia terdiam, di mencoba menenangkan dirinya dan mengingat kata-kata yang diucapkan Aldi barusan.


Dia sadar, bahwa kata-kata itu sama persis dengan yang diucapkan Papanya.


"Ya aku ingat! semua itu kembali pada diriku sendiri, bisa mengendalikan atau tidak" ucap Alia dalam hati.


Aldi menatap Alia seolah bertanya kenapa dia hanya terdiam saja.


"Makasih yah, sudah mau mengerti aku" ucap Alia dengan tersenyum.


"Sama-sama" Aldi pun membalas kata-kata Alia dengan senyuman.


Tak terasa hari sudah sore, mereka berdua asik ngobrol sampai lupa untuk pulang.


"Eh kelamaan cerita aku jadi lupa waktu, ya sudah aku pulang dulu yah" Alia pun meninggalkan Aldi dan bergegas pulang kerumahnya.


Sesampainya di rumah, ia mengeluarkan kotak usang yang ada di dalam tasnya. Alia membuka kotak itu lagi dan menatap isi dari kotak itu.

__ADS_1


"Maaf yah,,, aku janji mulai sekarang aku akan berusaha" ucap Alia pada kalung yang ada dalam kotak itu.


Alia pun menaruh kotak itu kembali di dalam lemarinya.


__ADS_2