
Husna dan Alia pergi menuju ke dapur untuk makan malam, terlihat ada begitu banyak orang yang sedang ada di dapur, mereka semua masih saudara dan keluarga besar Azam, semuanya sedang sibuk menyiapkan makanan untuk acara pengajian nanti.
Tadinya Alia merasa sangat malu karena baru pertama kali dan semuanya melihat ke arahnya, namun ia mencoba untuk berbaur dan membantu setelah dirinya selesai makan.
Sekitar jam 8 malam acara tahlilan di mulai, kebetulan cuacanya sudah tidak hujan lagi, dan terlihat langit cukup terang dengan banyak bintang yang menghiasi. Alia mengintip dari belakang, terlihat sangat banyak sekali orang yang datang karena Abah nya Azam adalah orang yang sangat di segani dan juga di hormati.
"Mba, ngapain di sini?" tanya Husna.
"Oh nggak papa, aku lagi lihat, ternyata sudah banyak orang yang datang" jawab Alia.
"Maaf mba tadi aku lihat handphone mba getar terus, coba di lihat dulu deh"
Alia teringat bahwa dirinya belum mengabari orang tuanya ketika dia pergi ke rumah Azam, dan sekarang mereka pasti sedang mencemaskan Alia karena sudah malam tapi belum pulang juga.
Alia pun bergegas mengambil ponselnya dan segera menelepon Mama nya, dia mengabari Mama nya dan berkata akan segera pulang saat acara tahlilan sudah selesai.
Tahlilan di lanjutkan doa bersama berlangsung selama kurang lebih satu jam, dan setelah itu Alia berserta Husna keluar untuk membagikan makanan dan juga snack, tak hanya mereka berdua, para santriwati senior di sana juga ikut membantu.
Azam duduk bersama dengan para santri putra yang berasal dari pesantrennya dulu sewaktu masih MA, bahkan yang sudah alumni juga hampir semuanya datang termasuk Irfan.
Alia sama sekali tidak tahu bahwa Irfan juga akan datang, dia masih sibuk membagikan makanan kepada orang-orang yang berada di bagian depan, sementara Irfan dan temannya duduk di bagian belakang sehingga ia tidak melihat Alia.
Saat selesai membagikan makanan, Alia berniat untuk kembali ke dapur dan membantu tugas yang lain, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya pergi ke bagian tempat yang cukup sepi.
"Nafisah? kamu kenapa bawa aku ke sini?" tanya Alia.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Nafisah dengan nada cukup tinggi.
Nafisah merasa kesal saat melihat Alia yang berada di sana, apalagi dia juga terlihat dekat dengan adiknya Azam.
"Aku... bantuin Husna..." jawab Alia pelan.
"Bantuin? bantu apa!? kamu itu cuma mau cari perhatian aja kan biar kelihatan peduli, padahal nyatanya kamu itu sama sekali nggak peduli" teriak Nafisah.
"Kok ngomongnya gitu? emangnya kalau aku melayat ke tempat orang tua teman aku itu salah?"
"Nggak, nggak salah sama sekali, tapi Alia, kamu harusnya lebih tahu diri!"
"Emang aku nggak tahu diri?"
__ADS_1
"Heh masih nanya lagi! kamu lihat itu!"
Nafisah menunjuk ke arah tiga mahluk yang sejak tadi berdiri menatap ke arah Alia, mahluk yang sangat ingin mendekati Alia namun tidak bisa karena terhalang oleh pagar yang dibuat untuk melindungi tempat itu.
Alia terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi, seketika pikirannya menjadi down karena Nafisah membuatnya tersadar bahwa dirinya memang sangat tidak cocok berada di tempat itu.
"Maaf Alia, nggak seharusnya aku bicara se kasar ini sama kamu, tapi aku cuma nggak mau kalau orang yang aku sayang itu terluka atau kenapa-kenapa lagi" jelas Nafisah.
"Kamu nggak salah kok, memang aku yang salah" Alia membalas ucapan Nafisah dengan senyuman, meskipun terpaksa namun dirinya mencoba untuk bersabar karena ia sangat sadar bahwa Nafisah begitu menyukai Azam, jadi wajar jika dia marah dan takut kalau orang yang disayanginya akan kenapa-kenapa.
Alia pergi menemui Husna, dia mengambil tasnya dan berpamitan untuk pulang karena acara sudah hampir selesai dan hari juga semakin malam.
"Mba yakin mau pulang? ini kan udah malam, kenapa nggak menginap aja?" ucap Husna.
"Nggak lah, besok Mba ada kelas jadi Mba pulang dulu yah"
"Eh nggak pamit sama mas Azam dulu?" tanya Husna.
"Kamu sampaikan saja salam Mba yah, assalamualaikum"
"Walaikumsalam..."
Alia berjalan menuju ke motornya yang terparkir di depan Madjid, karena ada begitu banyak motor yang terparkir, Alia pun agak sulit mengeluarkan motornya karena terhalang oleh beberapa motor orang lain.
Tanpa sengaja dari kejauhan Irfan melihat Alia yang sedang kesulitan, dia pun langsung bangun dari tempat duduknya dan segera menghampiri Alia.
"Alia... kamu di sini juga? kok nggak bilang si?"
Irfan terus melihat ke arah Alia, dia merasa terkesan dengan penampilan Alia yang terlihat sangat cantik mengenakan baju seperti santriwati.
"Em... aku..."
"Oh sini aku bantuin"
Tanpa di minta, Irfan langsung membantu Alia mengambil motornya.
Setelah motornya berhasil di keluarkan, Alia langsung berpamitan untuk pulang, namun Irfan bersikeras ingin mengantarnya.
"Tapi aku bawa motor sendiri kak!"
__ADS_1
"Nggak papa, aku ikutin kamu dari belakang, aku cuma mau pastikan kamu sampai rumah dengan aman, karena ini udah malam dan rumah kamu cukup jauh dari sini" jelas Irfan.
Alia pun hanya mengangguk, dia segera menyalakan motornya dan bergegas untuk pulang karena hari sudah semakin malam.
Dari kejauhan Azam melihat Alia dan juga Irfan yang pergi bersama, dia terus menatap ke arah mereka berdua dengan perasaan yang hampa.
Sementara itu dari tempat lain, Nafisah juga melihat Azam yang sedang memandang ke arah Alia dan Irfan. Di merasa sangat iri karena Azam terlihat begitu peduli kepada Alia.
"Mas, tadi Mba Alia pamit pulang, karena buru-buru takut kemalaman jadi nggak sempat pamitan sama mas, tapi dia titip salam" ucap Husna.
"Ya mas tahu" jawab Azam pelan dengan pandangan yang masih menuju ke arah Alia dan Irfan.
"Loh itu kan Mba Alia, eh kok sama cowok si, dia siapa mas?" Husna kembali bertanya.
"Pacarnya"
"Pacar? jadi Mba Alia udah punya pacar? aku kira..." Husna tidak berani menyelesaikan ucapannya.
"Apa? kamu itu anak kecil nggak usah mikir yang macam-macam!" Azam bicara sembari mengelus kepala Husna lalu berjalan pergi.
Perjalanan dari rumah Azam menuju ke rumah Alia memakan Waktu kurang lebih satu jam, sekitar jam setengah sebelas malam Alia dan Irfan sampai di depan rumah Alia.
"Kak makasih udah antar aku sampai rumah" ucap Alia sembari tersenyum.
"Sama-sama, aku seneng kamu udah nggak marah lagi sama aku" ujar Irfan.
"Ya udah aku masuk dulu yah, kamu hati-hati di jalan" ucap Alia sembari berjalan menuju pintu rumahnya.
"Eh tunggu dulu"
"Kenapa lagi?"
"Kamu... kamu cantik banget deh pakai baju seperti itu" Irfan mengatakan kekagumannya kepada Alia sembari terus tersenyum.
Sementara itu Alia hanya tersenyum mendengar pujian itu dan tidak berkata-kata, dia pun segera masuk ke dalam dan meminta Irfan untuk segera pulang.
*****
Azam masuk ke kamarnya dan duduk di kursi meja belajarnya, dia memegang burung kertas buatan Alia sembari terus menatapnya.
__ADS_1
"Meskipun kamu sangat dekat, tapi kenapa kamu begitu jauh?" ucap Azam dalam hati.