
Keesokan harinya Alia berangkat kuliah seperti biasa. Ia memarkirkan motornya lalu berjalan menuju ke kelas, di tengah jalan pandangan nya teralihkan oleh sesuatu, lagi\-lagi dia kembali melihat sosok anak kecil berbaju merah yang sempat ia cari kemarin.
Sosok anak kecil itu sedang duduk di bawah pohon seperti sedang menunggu sesuatu. Karena masih penasaran dengan anak itu maka Alia pun segera menghampiri.
Semakin Alia mendekat, wajah anak itu semakin terlihat jelas. Rambutnya yang cukup panjang diikat satu menggunakan pita merah yang membuatnya semakin terlihat imut walau hanya dari samping.
Alia mencoba menepuk pundak anak itu, kemudian dia menoleh ke arah Alia, tapi Alia sungguh merasa terkejut saat melihat wajah anak itu dari dekat. Ternyata sangat berbeda jauh dari apa yang ia bayangkan!.
Matanya merah dengan kantung mata hitam yang lebar, mulutnya dipenuhi darah yang masih mengalir bahkan menetes ke bajunya.
"Astaghfirullah!!"
Alia langsung menutupi kedua matanya menggunakan tangan karena refleks, padahal dia sudah sering melihat penampakan menyeramkan seperti itu, namun kali ini ia benar-benar kaget karena posisinya sangatlah dekat.
Perlahan Alia menurunkan tangannya dan membuka mata, ternyata sosok anak kecil itu masih belum hilang, namun kini wajahnya berubah menjadi cantik dan imut layaknya anak seusianya.
Anak itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada Alia. Di tangan itu terdapat beberapa buah Cherry matang yang mungkin sedang ia makan.
Alia membalas senyuman itu sambil menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa ia tidak menginginkan Cherry yang di tawarkan anak itu.
Anak itu lalu kembali mengulurkan tangannya dan ingin menjabat tangan Alia, tanpa ragu Alia pun langsung membalas uluran tangan itu, namun seperti yang sudah biasa terjadi, kedua tangan mereka tidak bisa bersentuhan secara langsung karena berbeda alam.
"Kamu sedang apa di sini?"
Alia berucap dalam hati sambil tersenyum ke arah anak kecil itu, dia hanya tersenyum dan meneruskan memakan buah Cherry yang sedang dipegangnya.
"Nama kamu siapa?"
Alia kembali berucap dalam hati, dia tidak menyerah sama sekali meskipun sejak tadi tidak mendapatkan jawaban, sampai akhirnya anak itu pun mengeluarkan suara.
"Chika!" jawab anak kecil itu dengan tegas.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Alia langsung terdiam, dia merasakan ada hal yang aneh, ini baru pertama kalinya Alia mendengar dengan jelas suara itu, karena biasanya ia hanya memakai telepati saat berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata, dia juga belum pernah mendengar secara langsung sosok yang bicara menggunakan kata-kata.
"Nama yang bagus"
Kini ucapan Alia sudah tidak dalam hati lagi, dia mulai bicara secara langsung dengan anak itu, begitu juga sebaliknya, mereka berdua mulai mengobrol layaknya sesama manusia.
Anak kecil itu juga berkata bahwa ia akan menunjukkan sosok wajahnya yang menyeramkan saat pertama kali bertemu dengan orang yang bisa melihatnya, itu bertujuan sebagai bentuk perlindungan dirinya karena terkadang tidak semua manusia yang ia temui mempunyai niat yang baik.
"Kakak mau jadi teman Chika?"
Tiba-tiba saja perkataan itu keluar dari sosok anak kecil itu, Alia langsung membalas pertanyaan itu dengan anggukan sembari tersenyum.
Jika saja dia masih hidup, usianya mungkin sangat jauh lebih tua dari Alia, namun karena dia meninggal saat usianya masih kecil maka sampai sekarang pun dia tetap menjadi sesosok anak kecil yang sangat menyukai buah Cherry.
Akhirnya kini semua kecurigaan dan pendapat yang ada di pikiran Alia pun sudah terpecahkan. Sosok anak kecil itu memanglah cucu dari Kakek penjaga kebun kampus yang meninggal karena perbuatan arwah kakeknya sendiri.
Mereka berdua terlalu asyik mengobrol sampai Alia lupa bahwa dia ada jadwal kuliah pagi. Alia pun berpamitan kepada Chika dan segera pergi menuju ke kelasnya.
Chika terus mengikuti Alia sampai ke kelasnya, dia berdiri di depan pintu kelas seperti seorang anak kecil yang sedang menunggu kakaknya. Awalnya itu membuat Alia merasa kurang nyaman karena Chika terus saja menatap Alia, namun lama-kelamaan dia mulai terbiasa.
Sepanjang waktu Alia di kelas, Chika benar-benar tidak pergi sama sekali, dia seperti penjaga yang berdiri di depan pintu.
"Kamu kenapa berdiri di depan kelasku terus? memangnya kamu tidak punya hal lain untuk dikerjakan?" ucap Alia pelan.
Chika hanya menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat murung.
"Kamu kenapa? kelihatannya sedang kesal?"
"Aku nggak suka sama dia!"
Chika bicara sambil menunjuk ke arah orang yang sedang berjalan di kejauhan, Alia menengok dan memastikan siapa orang yang di maksud oleh Chika.
"Dia teman sekelas kakak, kenapa kamu tidak suka?"
Alia bertanya karena heran saat tahu bahwa orang yang di maksud Chika ternyata adalah Meisya.
__ADS_1
"Dia jahat!"
Alia terdiam dan menghela nafas, sepertinya pernyataan itu tidak lagi membuat Alia heran karena sifat Meisya memang kasar dan suka menindas orang lain.
"Kakak jangan dekat-dekat dia!" teriak Chika.
"Dia memang kasar, tapi nggak pernah cari masalah sama kakak kok, kamu tenang aja yah" jelas Alia.
"Jangan dekat-dekat dia!" Chika kembali berteriak.
Tiba-tiba saja sosok Chika menghilang entah kemana, seperti terbawa oleh angin.
"Eh kemana dia?"
Alia melihat ke sekelilingnya, dan ternyata memang Chika telah menghilang, dia pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Dalam perjalanan, Alia berjumpa dengan Nafisah, tatapan matanya masih tidak berubah, begitu sinis dan dingin, dia memberikan sebuah amplop putih berisi undangan.
"Ini buat kamu"
Hanya kata itu yang terucap dari mulut Nafisah, Alia menerima amplop itu kemudian Nafisah pun berlalu tanpa kata-kata yang lain.
Tanpa terasa sudah setahun Alia menjadi mahasiswa, dan amplop itu berisi undangan acara penyambutan anggota organisasi yang baru, atau dengan kata lain sebuah acara yang berisi perkenalan dengan para junior nya.
"Hari Minggu pagi? kok tumben pagi, biasanya juga sore sehabis kuliah" gumam Alia.
Alia tidak keberatan sama sekali dengan jadwal di acara itu, dia justru merasa sangat senang karena acaranya di Sabtu malam tetap bisa dilakukan. Sebelum menerima undangan itu, jauh-jauh hari Alia memang sudah mempersiapkan acara di Sabtu sorenya, karena hari Sabtu itu menjadi hari dimana dia dan Irfan resmi berpacaran satu tahun yang lalu.
"Beruntung banget ini jadi acara aku nggak ke geser deh" gumam Alia sembari tersenyum sendirian.
Alia memasukkan amplop undangan itu ke dalam tasnya dan berjalan menuju ke kantin. Dia duduk sembari terus memikirkan kata-kata Chika.
Dia jahat!
Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang dipikiran Alia, kenapa Chika terlihat sangat benci dan juga takut terhadap Meisya.
Alia baru teringat tentang ucapan Sandra yang mengatakan bahwa Meisya juga memiliki kemampuan untuk melihat mahluk halus.
__ADS_1
"Apa Meisya juga udah pernah ketemu sama Chika? apa dia juga bersikap kasar ke Chika, sama seperti sikapnya ke aku sebelumnya?"
Alia terus bertanya-tanya dalam hati, tangan kanannya masih sibuk mengaduk-aduk segelas es teh manis yang berada di mejanya, namun pandangan matanya sangat kosong.