
Waktu berlalu dengan cepat, Alia begitu sibuk dengan kegiatan kuliahnya, tak hanya itu, dia juga aktif dengan berbagai macam organisasi dan juga ekstrakurikuler. Awalnya ia tidak terlalu tertarik, namun setelah masuk ia sangat menikmatinya.
*****
Hari ini adalah hari kelulusan Irfan, Alia tidak bisa datang untuk menemani karena dirinya sedang ada acara di luar kampus, namun malamnya mereka sudah berjanji untuk merayakannya di sebuah rumah makan.
Alia berangkat sekitar jam setengah tujuh dari rumah, dia sengaja berangkat lebih awal supaya tidak terlambat. Dengan santai Alia melaju menggunakan motor matic hijau kesayangannya, perasaannya cukup senang karena orang yang ia sayangi sudah berhasil lulus dengan nilai yang cukup bagus.
"Astaghfirullah!!"
Tiba-tiba saja Alia di buat kaget karena roda motornya telah melindas seekor kucing kecil berwarna hitam. Alia pun langsung mengehentikan motornya dan berusaha mendekati kucing itu.
"Ya Allah... kenapa bisa nabrak kucing segala?" gerutu Alia.
Alia berniat untuk mengambil kucing itu dan membawanya, namun saat dirinya semakin dekat kucing itu ternyata bangun dan berlari menjauhinya.
"Eh... nggak mati ya? padahal tadi jelas banget kalau dia udah terlindas tubuhnya, tapi syukurlah kalau nggak mati, semoga dia baik-baik aja" gumam Alia.
Alia masih berdiri di pinggir jalan sembari terus melihat kucing yang berlari itu, kucing itu terlihat baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali meskipun sudah tertabrak oleh Alia.
Dia bersyukur karena kucing yang ia tabrak itu baik-baik saja, namun kini malah perasaan dan hatinya yang menjadi tidak enak, seolah akan terjadi hal buruk yang menimpa dirinya.
"Kok aku jadi deg-degan gini yah? semoga aja nggak terjadi apa-apa" ucap Alia dalam hati.
Alia pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan pelan dan sangat hati-hati, ia tidak ingin sampai mengalami hal yang tidak diinginkan lagi.
Sekitar jam setengah 8 malam Alia sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah makan sederhana milik teman Irfan yang sudah berdiri kurang lebih setahun. Mereka sengaja menyewa tempat itu karena lokasi dan suasananya yang cukup nyaman, harganya juga tidak terlalu mahal bagi sekelas mahasiswa.
"Eh Alia kamu datang cepat" sapa Rudy, sang pemilik tempat itu.
Alia hanya tersenyum membalas sapaannya. Karena tempat itu adalah milik temannya Irfan, maka secara otomatis Alia juga mengenalnya, terlebih lagi mereka dulu bersekolah di MA yang sama, namun sang pemilik tempat itu tidak melanjutkan kuliah dan lebih memilih untuk berwirausaha setelah lulus MA.
"Kamu mau aku buatkan minum dulu Al?" tanya Rudy.
"Oh nggak usah mas, nanti aja nunggu yang lain sekalian" jawab Alia.
__ADS_1
Suasana di tempat itu terlihat sepi dan tidak ada seorangpun pelanggan yang datang, itu dikarenakan Irfan dan temannya sudah menyewa tempat itu untuk semalam dan merayakan kelulusan mereka di tempat itu.
Baru saja sebentar Alia duduk, lalu datanglah Afi bersama dengan Lana, beberapa bulan terakhir mereka terlihat cukup dekat sebagai teman.
"Cieee yang datang barengan" Alia mencoba menggoda Afi yang datang bersama Lana.
"Apa si Al, tadi cuma kebetulan bareng aja" ucap Afi yang mencoba mengelak.
Tak lama setelah itu Irfan pun datang, diikuti oleh beberapa teman yang lainnya. Ada sekitar 10 orang yang datang ke tempat itu, mereka sengaja membuat perayaan hanya dengan mengundang teman dekat saja, yang merupakan teman Irfan, dan juga teman Alia.
Suasana menjadi cukup ramai saat semuanya sudah datang, mereka mengobrol, bercanda dan bahkan saling mengejek.
"Sayang, aku ke toilet dulu yah" ucap Irfan pada Alia.
Alia hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali mengobrol dengan yang lainnya.
Saat sedang asyik bercanda, tanpa sengaja Alia melihat ada sebuah pesan masuk di ponselnya Irfan. Awalnya Alia menghiraukan, namun saat ia kembali melihat, pesan itu tidak hanya satu kali masuk, tapi berkali-kali dan bahkan ada panggilan tak terjawab juga.
Karena penasaran Alia pun memutuskan untuk membukanya, ia tak perlu mendapatkan ijin dari Irfan saat ingin melihat ponselnya karena mereka berdua sudah biasa bertukar ponsel masing-masing.
Terlihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ada dalam kontak, Alia membuka dan langsung membaca pesan singkat itu.
Begitulah isi pesan singkatnya yang tidak hanya di kirim satu kali, namun terlihat sudah ada 5 pesan masuk dengan isi yang sama. Alia mencoba untuk membalasnya dan bertanya siapa itu karena nomornya memang tidak di beri nama.
"Kok gitu? aku ini kan pacar kamu!"
Alia merasa kaget saat melihat balasan pesan singkatnya, dia mencoba untuk membalasnya lagi dan menanyakan lebih jelasnya, namun jawabannya masih tetap sama, dalam balasan yang terakhir bahkan tertulis bahwa mereka berpacaran sudah lebih dari 6 bulan.
"Apa-apaan ini!?" gumam Alia dalam hati.
"Hey sayang, maaf yah aku agak lama" ucap Irfan yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Alia.
Alia hanya terdiam sembari menunjukkan pesan yang ada di ponsel itu kepada Irfan. Seketika ekspresi wajah Irfan langsung berubah menjadi panik.
"Ini pesan dari siapa?" tanya Alia dengan ekspresi wajah yang sangat datar.
__ADS_1
"Em itu... itu..."
"Jawab lah" masih dengan ekspresi yang datar.
"Mungkin salah kirim kali, kamu lihat kan itu nomor baru, aku juga nggak kenal sama nomornya" ucap Irfan dengan sangat gugup.
"Oh ya? kalau gitu aku telfon aja kali yah buat memastikan" ucap Alia dengan sangat dingin.
"Eng... nggak usah sayang, buang-buang waktu aja nggak penting" Irfan masih mencoba untuk mengelaknya.
Alia terdiam dengan tatapan matanya yang sangat tajam, hatinya sudah dipenuhi emosi dan akan segera meledak.
"Jadi nggak mau kasih tahu?" Alia kembali bertanya, namun kali ini nada bicaranya sungguh sangat menakutkan sampai-sampai semua temannya melihat ke arah mereka berdua.
"Ya aku kasih tahu. Namanya... Meisya. Dia..."
"Pacar kamu? dan udah lebih dari 6 bulan kalian pacaran?" meskipun sudah sangat emosi, namun Alia masih bicara dengan nada yang sangat pelan dan biasa, wajahnya bahkan sudah tidak lagi menunjukkan kalau ia sedang marah.
"Aku... aku bisa jelaskan..."
Praaaaang!!!! tiba-tiba saja sebuah gelas melayang dan jatuh ke lantai dengan sangat cepat. Seketika gelas itupun langsung hancur berkeping-keping dan membuat semua orang terkejut. Alia sengaja membanting gelas iti karena sudah sangat emosi.
"Semuanya... aku pulang duluan, permisi"
Alia bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan pergi.
"Alia...!!"
"Nggak usah!" teriak Afi.
Irfan berusaha untuk mengejar Alia, namun Afi langsung menghentikannya karena tidak mau sahabatnya itu merasa lebih marah lagi.
Afi memutuskan untuk segera mengejar Alia dan tidak akan membiarkan sahabatnya itu pulang sendirian dalam keadaan emosi.
"Fan kamu keterlaluan tau nggak!" teriak Lana.
__ADS_1
Lana pun bangun dari teman duduknya dan membantu Rudy untuk membereskan pecahan gelas yang ada di lantai.
Semua orang terdiam dan tidak berani berkata-kata, mereka semua bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa karena tidak ingin memperkeruh suasana sampai satu-persatu dari mereka berpamitan untuk pulang.