
Malam mereka lalui dengan lancar sesuai rencana. Semua kegiatan juga berjalan seperti jadwal yang sudah di tentukan.
Pagi itu semua peserta dan panitia LDK sudah berkumpul di lapangan untuk sarapan pagi sambil menunggu kendaraan yang akan membawa mereka semua datang.
Tepat jam setengah 8 pagi sebuah bus berukuran sedang sampai di depan gerbang sekolah. Semua peserta diminta untuk naik satu persatu begitu juga para panitia.
"Alia ayo cepat naik" teriak Fahmi.
"Iya sebentar aku ambil ini dulu"
Alia masih sibuk mengambil stok makanan ringan yang akan dibawa dan juga air mineral, ia di bantu oleh panitia yang lainnya juga.
Setelah semuanya selesai Alia bergegas untuk masuk ke dalam bus sementara Fahmi berangkat naik sepeda motor karena harus tiba lebih dulu untuk kembali menemui pawang yang sudah di datangi kemarin.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 90 menit bus itu berhenti di sebuah lahan luar dekat perumahan warga. Pintu masuk menuju pendakian bukit itu agak masuk ke dalam dan jalannya sempit sehingga semua orang harus turun dari bus dan mulai berjalan.
Alia dan peserta lain menunggu Fahmi di depan pintu masuk pendakian. Tak lama kemudian Fahmi datang bersama dengan seorang kakek yang sudah cukup tua, dia diantar oleh cucu lelakinya yang masih muda.
"Fahmi, dia..."
"Iya Al, dia itu orang yang akan mandu kita buat naik gunung"
Alia terdiam sembari melihat ke arah kakek itu, dia merasa tak yakin bahwa kakek itu adalah pawang yang di maksud oleh Fahmi. Karena melihat penampilan yang sudah begitu tua, dan berjalan saja harus memakai tongkat kayu, apakah kakek tua seperti itu masih kuat untuk berjalan naik ke sebuah bukit yang sangat tinggi selama berjam-jam?. Pertanyaan itulah yang masih terlintas di benak Alia.
Setelah Fahmi berdiskusi dengan semuanya, kakek tua itu menyuruh semua peserta dan juga panitia untuk berjalan lebih dulu.
Alia melihat ke arah jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul 9 pagi.
__ADS_1
"Oke perjalanan dimulai!" ucap Alia.
Semua orang mulai berjalan sementara Alia dan Fahmi berjalan di paling belakang. Alia mengatakan semua yang ia pikirkan tentang kakek tua itu.
"Jadi sebenarnya aku itu masih penasaran sama syaratnya, emang apaan si?"
"Yah jadi bapak itu minta kita bikin tumpeng, sepasang ayam kampung sama bikin selamatan gitu sehabis turun gunung" jelas Fahmi.
"Kok aneh gitu si!"
"Ya tapi ku cuma kasih tumpeng sama satu ayam kampung aja, dan nggak bikin selamatan soalnya anggaran kegiatan nggak cukup"
Alia terdiam, dia teringat dengan cerita Mama nya soal gunung yang sedang mereka datangi itu. Bu Mia pernah bercerita kepada Alia tentang gunung itu, dimana banyak orang yang sengaja datang dan berziarah ke petilasan yang ada di puncak gunung kecil itu. Itu adalah petilasan seorang syech yang cukup terkenal di tanah Jawa terutama Jawa tengah.
Namun tujuan orang yang datang ke sana kebanyakan adalah tujuan yang kurang terpuji, seperti meminta kekayaan, jabatan dan kesuksesan dengan cara yang instan. Langkah pertama yang biasa mereka lakukan yaitu mendatangi seorang pawang yang akan memandu mereka pergi ke petilasan itu, dan setelah turun gunung orang itu harus mengadakan sebuah selamatan agar tujuannya bisa cepat tercapai.
"Salah gimana maksudnya?"
"Tujuan kita ke sini kan cuma buat outdoor sama jalan-jalan aja, tapi kok syaratnya begitu"
"Tadinya aku juga mikir gitu Al, tapi gimana lagi udah terlanjur"
"Kamu dulu pernah ke sini kan, apa dulu pawangnya kakek itu juga?"
Fahmi menggelengkan kepalanya, karena memang bukan kakek itu yang memandu saat dia datang dulu, dan pawang yang dulu juga tidak memberikan syarat yang aneh seperti itu karena niat mereka datang hanya untuk jalan-jalan dan menikmati pemandangan alam.
"Lah terus kenapa bisa kamu datangin kakek itu?"
__ADS_1
"Dulu itu teman aku yang ngajak, jadi teman aku juga yang mendatangi pawangnya, saat aku tanya alamat rumahnya aku dikasih tapi pas aku tanya ke warga dekat sini dikasih tahunya memang bapak itu"
Alia akhirnya menceritakan semua yang ia tahu mengenai syarat dan gunung itu. Alia sungguh takut kalau kakek itu mengira bahwa mereka semua datang untuk tujuan tertentu.
"Udahlah Al, berdoa aja insyaallah nggak akan ada apapun"
Sekitar 45 menit sudah mereka berjalan, dan terlihatlah sebuah pos tempat istirahat untuk para pendaki, semua peserta sedang duduk dan beristirahat sementara Alia dan Fahmi baru sampai.
Fahmi bercerita bahwa di pendakian itu terdapat empat pos peristirahatan, Alia duduk dan mengambil sebotol air mineral dan meneguknya dengan perlahan. Para peserta masih sibuk berfoto dan tak lama kemudian kakek tua itu lewat tanpa berhenti walaupun sebentar. Kakek tua itu terus berjalan sendirian dengan menggunakan sebuah tongkat kayu yang menjadi pegangan.
Perjalanan dari pintu masuk sampai ke pos pertama masih terbilang mudah dan tidak terlalu menanjak, jadi Alia berpikir bahwa kakek itu mungkin masih belum lelah.
Setelah cukup beristirahat mereka semua melanjutkan perjalanan. Alia terus menatap kakek tua itu dari belakang, entah kenapa perasaan Alia menjadi tidak tenang saat terus menatap kakek tua itu.
Perjalanan dari pos pertama menuju pos kedua cukup terjal, jalannya dipenuhi dengan batuan kasar mulai dari yang kecil hingga besar, namun masih ada jalan yang datar. Tapi jalanan datar itu cukup menantang karena hanya selebar 1,5 meter yang terdiri dari pecahan batu kapur, di sebelah kanan adalah tebing yang sangat tinggi sementara sebelah kiri jurang yang sangat curam.
Tak terasa mereka sudah tiba di pos peristirahatan yang ke tiga. Di sana semua peserta sudah mulai kelelahan, persediaan air mineral dan makanan ringan yang di bawa sudah mulai menipis. Mereka semua heran karena kakek tua itu sudah tidak terlihat sama sekali, dia mungkin sudah berjalan jauh di depan.
"Gila yah bapak itu jalannya cepat juga, padahal udah berumur"
Celoteh Fahmi sambil ngos-ngosan dan duduk di atas sebuah batu besar di dekat pos.
Alia hanya tersenyum melihat ke arah Fahmi, dia berdiri di tepi tebing yang jika selangkah saja maju, maka ia akan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.
Sejak dari pintu masuk sampai sekarang Alia sebenarnya sudah melihat banyak sekali sosok yang mengikuti, namun dia masih bisa tenang karena semua itu hanyalah sosok yang menurutnya tidak terlalu asing atau sudah sering melihat yang seperti itu.
Setelah cukup beristirahat di pos ke 3, mereka semua kembali melanjutkan perjalanan. Jalan dari pos ke tiga menuju pos ke 4 benar-benar sangat tidak terduga. Alia tercengang dan heran saat melihat jalanan di depannya. Itu adalah sebuah jalan dengan ratusan atau bahkan ribuan anak tangga yang terlihat sangat bersih dan bagus layaknya tangga menuju ke sebuah pendopo atau bangunan suci yang sering ia lihat, ratusan anak tangga itu bukan buatan alam melainkan buatan manusia, seperti anak tangga pada umumnya, itu terbuat dari bahan semen dan pasir. Bentuk jalan itu sangat menanjak dengan anak tangga yang hanya memiliki lebar sekitar satu meter sementara kanan dan kiri dipenuhi pepohonan besar dan tinggi, itu membuat suasana di jalan itu menjadi agak gelap karena tertutup dedaunan, dan suhunya juga lebih sejuk dan segar, namun jika di lihat dalam pandangan yang jauh, itu jadi terlihat seperti sebuah lorong dengan ratusan anak tangga.
__ADS_1