
Alia kembali terkejut saat mendengar pernyataan Nafisah yang terakhir, dia sangat tidak percaya, begitu mudahnya dia dibohongi seperti itu.
"Selama ini aku tidak bisa melihat kebenaran itu karena aku terlalu tidak senang melihat orang yang aku sayang menyayangi orang lain. Sebenarnya aku bisa dengan mudah mengetahui semuanya, tapi aku terlanjur membenci kamu yang selalu saja mengacuhkan Azam".
"Aku... aku..." Alia bahkan tidak bisa lagi meneruskan ucapannya.
"Apa kamu mau memaafkan aku Alia?" tanya Nafisah.
Alia merasa sangat heran ketika seorang Nafisah bahkan meminta maaf padanya. Selama ini Alia berpikir jika bisa menutupi kemampuannya, maka ia bisa hidup layaknya orang normal pada umumnya, namun ternyata pikirannya itu salah besar, dia justru menyebabkan dirinya dan orang yang berada di sekitarnya mendapatkan masalah.
"Justru harusnya aku yang minta maaf, karena aku selalu berprasangka buruk sama kamu Nafisah..."
Nafisah tersenyum dan memeluk Alia sembari berkata "Kita hanya manusia biasa, nggak ada manusia yang lepas dari perbuatan dosa"
"Kamu benar Naf... aku sebenarnya bimbang, Papa ku dulu berkata bahwa aku berhak memilih antara memperdalam kemampuan ini atau membiarkannya dan hidup seperti orang normal, aku memilih yang terakhir karena tidak ingin mengikuti jejak kakek dan nenek buyut ku yang menjadi dukun atau orang sakti dengan berbagai aliran ilmu yang menyimpang, aku juga tidak mau bersekutu dengan jin dan setan" jelas Alia.
"Kamu sangat beruntung Alia, kamu memiliki kelebihan. Mulai sekarang kamu harus menerima itu semua, kamu harus mulai belajar bagaimana menggunakannya di jalan yang benar, dan bermanfaat bagi orang di sekitarmu, jangan lagi menutup diri, untuk itu kamu butuh seseorang yang bisa mendampingi dan selalu mengerti kamu. Aku rasa Azam adalah orang yang tepat"
"Maksud kamu apa?"
"Selama ini aku menyayangi Azam, tapi perasaannya hanya untuk kamu, dia bahkan selalu rela terluka hanya demi melindungi kamu. Saat kamu berada di cengkeraman mahluk pohon Cherry di kampus, Azam yang melawannya, dan saat kamu di kerumuni oleh sosok berjubah hitam, Azam juga yang menarik mereka supaya menjauh dari kamu. Dan saat ini, dia masih sedang berusaha untuk menghilangkan efek dari perbuatan Irfan ke kamu, meskipun belum hilang sepenuhnya. Dia sangat menyayangi kamu..."
Nafisah bicara panjang lebar dan membuat Alia tercengang mendengarnya, dia sungguh tidak menyangka bahwa Azam bisa melakukan semua itu untuk dirinya.
Nafisah kini sadar bahwa perasaan Azam memang hanya untuk Alia, dia berkata akan melepaskan perasaannya dan mencoba berteman dengan Alia.
Ceklek... Tiba-tiba saja Anton membuka pintu dan melihat Alia yang masih bicara dengan Nafisah.
"Hei Nafisah, bicaranya sudah belum? kita semua mau berpamitan untuk pulang nih" ujar Anton.
"Iya-iya sudah"
"Teman-teman ayo masuk!"
__ADS_1
Anton memanggil semua temannya dan mereka pun segera masuk. Anton dan yang lainnya berpamitan untuk pulang begitu juga Nafisah. Meskipun itu adalah hari Minggu dan tidak ada jadwal kuliah, namun mereka merasa tidak enak jika harus berlama-lama di sana dan mengganggu istirahat Alia.
"Kami pamit dulu ya Alia... assalamualaikum"
"Walaikumsalam..."
Anton dan yang lainnya pun keluar, mereka berpamitan kepada Pak Aji dan Bu Mia yang sedang duduk di teras ruangan.
"Yah sepi lagi deh" ujar Alia.
Tak lama kemudian Bu Mia masuk dengan membawa segelas teh hangat dan sepotong kue puding di tangannya.
"Sayang... ini tadi dapat jatah cemilan, kamu makan yah" ucap bu Mia sembari meletakkan teh dan puding itu di atas meja yang berada di samping tempat tidur Alia.
"Iya mah, nanti aku makan" jawab Alia singkat.
"Kamu kenapa? bosan yah di kamar terus? mau jalan-jalan ke luar?"
"Memangnya boleh Mah?"
"Boleh, biar Mama pinjamkan kursi roda dulu yah"
Sementara itu Alia hanya menatap langit-langit dengan perasaan yang masih putus asa. Karena keadaaan kakinya yang masih belum berfungsi, ia harus terus meminum banyak obat yang sangat pahit dan juga menjalani terapi untuk pemulihan syarafnya.
"Astaghfirullah!"
Alia kaget saat melihat sesosok makhluk yang menempel di langit-langit tepat di atasnya. Sosok itu berbentuk seperti manusia yang hanya mengenakan celana pendek saja, tetapi seluruh tubuhnya berwarna hijau dengan rambut yang panjang. Alia tidak bisa melihat wajahnya karena mahluk itu menempel dan hanya terlihat bagian belakang tubuhnya saja.
"Hei sedang apa kamu di atas sana!" teriak Alia.
Mahluk itu tidak menjawab, namun dia hanya membalikan kepalanya ke belakang. Alia kini melihat bagian belakang mahluk itu dengan kepala yang menghadap ke arahnya, terlihat jelas wajah dari mahluk itu yang juga berwarna hijau seluruhnya.
Wajahnya sungguh sangat mengerikan, Alia bahkan terkejut saat melihatnya. Kedua bola matanya besar seakan hendak keluar, mulutnya tidak berbentuk seperti manusia, melainkan seperti mulut **** dengan gigi yang panjang dan taring yang tajam.
"Astaghfirullah..."
Alia melihat ke samping kirinya, dan ternyata sosok kakak perempuan yang sejak kemarin berdiri menjaganya sudah tidak ada. Dia merasa agak takut karena di ruangan itu hanya ada dirinya seorang.
__ADS_1
Salah satu tangan dari mahluk itu berusaha ingin menjangkau tubuh Alia, meskipun posisi langit-langit menuju ke tubuh alia jaraknya cukup tinggi, namun tangan dari mahluk itu terus bertambah panjang sampai hendak menyentuh leher Alia.
Alia lalu mengangkat tangan kanannya dan berusaha untuk menghentikan tangan dari mahluk itu yang ingin mencengkeram lehernya.
"Pergi kamu!!" teriak Alia.
"Alia, kamu kenapa teriak?"
Bu Mia tiba-tiba datang dan kaget saat mendengar anaknya berteriak.
Dengan segera beliau langsung menghampiri Alia.
"Ah nggak papa kok bu, tadi ada nyamuk, iya nyamuk!" ujar Alia.
"Oh, ya sudah ini Mama ambilkan kursi roda buat kamu, ayo kita jalan-jalan ke luar" ujar Bu Mia.
Dengan segera Bu Mia membantu Alia bangun dari tempat tidurnya dan berpindah ke kursi rodanya.
Setelah selesai, dengan perlahan Bu Mia mulai mendorong kursi itu keluar dari ruangan. Alia melihat ke belakang bagian atas, dan mahluk itu masih menempel di langit-langit dengan wajah yang terus menghadap ke arahnya.
"Mahluk apa sebenarnya itu? kenapa dia melihatku seperti itu?" ucap Alia dalam hati.
Tanpa terasa Bu Mia telah mendorong kursi Alia sampai ke taman yang ada di belakang ruangannya, Alia melihat sekelilingnya, ada begitu banyak bunga yang bermekaran di taman yang berukuran sedang itu.
"Alia, Mama ke kamar kecil dulu sebentar yah, kamu nggak papa kan Mama tinggal di sini?"
"Oh iya Mah, nggak papa kok" jawab Alia.
Bu Mia segera berjalan menuju ke toilet yang berada tak jauh dari taman. Alia terdiam sembari menatap kedua kakinya. Perlahan-lahan ia mengangkat kakinya untuk menapaki tanah, dengan susah payah kini kedua kakinya sudah menempel di atas rumput hijau yang ada di taman.
Alia terus berusaha untuk menggerakkan kedua kakinya dan mencoba untuk berdiri, namun itu sungguh terasa sangat sulit baginya.
"Astaghfirullah..."
Alia kembali di buat terkejut saat mahluk yang tadi di kamarnya ternyata sudah berada di samping kakinya, meskipun bentuk tubuhnya mirip seperti manusia, namun mahluk itu terlihat berjalan dengan kedua kaki dan tangannya yang menempel di tanah layaknya hewan berkaki empat.
"Kamu? mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Alia
__ADS_1
Mahluk itu hanya terdiam sembari terus mengarahkan wajah mengerikannya itu pada Alia.