
Keesokan harinya Alia bangun pagi\-pagi sekali dan bersiap untuk berangkat ke sekolahnya.
"Kamu mau berangkat nak?" tanya Pak Aji yang melihat Alia sudah mengenakan seragam dengan rapi.
"Iya pah, ku udah enakan kok"
"Papa antar kamu yah, sementara kamu jangan bawa motor sendiri dulu"
Alia hanya mengangguk, dia paham jika papanya masih merasa khawatir dengan kesehatan Alia.
Setelah selesai sarapan, Pak Aji mengantarkan Alia ke sekolah. Selama perjalanan tidak terjadi apapun, namun ketika sampai di area dekat sekolahnya Alia mulai merasa sesak, jantungnya mulai terasa sakit dan tubuhnya juga berkeringat.
Alia menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya, namun semakin dekat dengan sekolahnya, nafasnya terasa semakin sesak.
"Pah, kita bisa putar balik ngga?"
"Tapi ini sudah sampai di sekolahmu nak?"
"Pah ku ngga kuat pah, nafas ku sesak banget, dadaku juga sakit!"
Mendengar pernyataan putrinya Pak Aji langsung putar balik dan kembali ke rumahnya. Sesampainya dirumah Alia duduk di kursi ruang tamu dan disusul oleh pak Aji.
"Loh kok pulang lagi nak?" tanya Bu Mia heran melihat Alia dan Pak Aji kembali kerumah.
"Tadi pas sampai di wilayah dekat sekolah tiba-tiba nafasku sesak banget pah mah, jantung ku juga rasanya sakit banget, sama kaya yang aku rasain pas dibawa ke puskesmas waktu itu" jelas Alia.
"Kok aneh ya, ya sudah kamu istirahat saja ya" ucap Bu Mia.
Alia masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sementara Bu Mia dan pak Aji berdiskusi.
"Pah apa jangan-jangan Alia memang tidak cocok dengan tempat itu?"
"Bapak juga berpikir begitu, tapi lalu bagaimana, atau mungkin itu hanya perasaan kaget saja"
"Bisa jadi juga begitu pak, ya sudah besok coba bapak kembali antar Alia ke sekolahnya"
Pak Aji hanya mengangguk.
Keesokan harinya, Pak Aji kembali mengantarkan Alia ke sekolahnya, namun untuk yang ke-dua kali Alia merasakan hal yang sama. Saat memasuki wilayah itu tubuhnya seperti sedang disiksa dan merasa sangat sakit. Alia pun kembali meminta pulang.
"Pah aku beneran ngga tau kenapa tapi pas aku masuk daerah itu tu rasanya nafasku langsung sesak, jantungku juga sakit banget!"
Ya sudah nanti kita cari solusi ya" ucap Pak Aji mencoba menenangkan Alia.
_-------___
Sementara itu di sekolah Nida masih saja khawatir memikirkan Alia yang belum juga berangkat.
Waktu itu jam istirahat pertama, semua siswa sibuk ke kantin untuk membeli makanan, namun Nida hanya duduk berdiam diri di kelasnya.
"Kamu masih mikirin Alia?" tanya Mayra yang tiba-tiba duduk disamping Nida.
"Ya, udah tiga hari tapi dia belum juga berangkat" suara itu terdengar sangat putus asa dan juga khawatir.
"Kamu tenang, mungkin dia butuh istirahat karena pikiran nya masih shock" Mayra mencoba menenangkan Nida.
__ADS_1
Nida kembali terdiam, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan sahabatnya.
Sementara itu di bangku paling depan dan dekat dengan pintu duduk seorang siswa laki-laki, yaitu ketua kelas.
Amar sedang sibuk membuat sebuah gambar yang begitu indah, dia memang senang sekali menggambar dan membuat desain poster. Tak lama kemudian sahabatnya yang juga ketua kelas sebelah datang dan duduk disampingnya.
"Desain mu semakin bagus saja!" ucap Azam.
"Eh kamu datang, ini masih banyak yang harus diperbaiki lah"
"Tapi itu terlihat seperti digambar dengan rasa khawatir, apa kamu sedang mengkhawatirkan seseorang?" Azam memang sudah sangat paham dengan sifat Amar, dia bahkan mampu membaca ekspresi Amar yang ia tuangkan ke dalam karya desainnya.
"Kamu bisa saja!" Amar hanya tersenyum kecil, dan terlihat agak murung.
"Oh iya, apakan hari ini dia masih juga belum berangkat?"
"Alia?" tanya Amar menegaskan.
"Iya"
"Masih belum"
Azam kembali terlihat murung mendengar Alia yang belum juga berangkat ke sekolah karena ini sudah hari ketiga.
"*Sejak kemarin dia selalu bertanya tentang Alia, tidak biasanya Azam memperhatikan seorang perempuan seperti itu*" Amar bergumam dalam hati.
"Kenapa kamu terus bertanya tentang dia?" Amar bertanya karena semakin penasaran.
"Aku mengkhawatirkan dia"
"Apa jangan-jangan perempuan spesial yang selama ini dia ceritakan adalah Alia? ya Allah bagaimana ini? bagaimana jika selama ini dia memang menyukai Alia? apa yang harus aku lakukan?" Amar terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kamu kenapa melamun?" Azam Tiba\-tiba mengagetkan Amar.
"Ah aku tidak papa, hanya sedang memikirkan desain saja"
"Ya sudah aku ke kelas dulu ya" Azam pergi meninggalkan Amar, dan Amar hanya mengangguk diam. Dia menjadi semakin khawatir dengan apa yang akan terjadi.
"*Selama ini aku selalu menyimpan perasaan ku karena aku pikir ini belum saatnya, tapi apa yang harus aku lakukan jika ternyata Azam juga mempunyai perasaan yang sama*?" Amar kembali berguman dalam hati.
__________
Tak terasa waktu istirahat siang pun tiba, Nida bergegas untuk pulang ke pesantren dan dia berniat untuk pergi ke kamar Zizi. Nida berpikir bahwa Zizi pasti tau apa yang sebenarnya terjadi pada Alia.
"Assalamualaikum mba Zizi"
"Walaikunsalam, eh Nida silakan masuk"
"Berbaring saja tidak papa mba" Nida melarang Zizi yang berusaha untuk duduk, namun Zizi tetap bersikeras untuk mencoba duduk.
"mba,, ini sudah 3 hari dan Alia masih belum berangkat ke sekolah" tanpa basa-basi Nida langsung bertanya.
__ADS_1
"Jadi dia belum berangkat?"
Nida hanya mengangguk,
"Kamu tenang saja, dia tidak apa, hanya mungkin sedang menghindar"
"Maksudnya? menghindari siapa? dan kenapa?"
"Yang kemarin itu sangat kuat, dan Alia sulit untuk menahannya, begitupun aku dan Mita"
"Kenapa dengan njenengan dan mba Mita?"
"Saya dan Mita bisa merasakan sedikit tentang apa yang dirasakan Alia, jadi saya tahu kalau sekarang Alia sedang menghindar"
"Tapi sampai kapan dia harus menghindar mba?"
"Entahlah..."
Nida merasa semakin resah, dia lalu meninggalkan kamar Zizi dan pergi ke kamarnya.
Dikamar Nida masih saja resah, segala sesuatu yang ia lakukan sama sekali tidak ada semangat. Puncaknya saat di dapur Nida sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
Mba Lila yang geram melihat hal itu akhirnya menegur Nida.
"Kamu mau sampai kapan seperti itu?"
"Maaf mba, saya akan berusaha buat melakukan dengan benar"
"Jadi temanmu itu masih belum berangkat?"
Nida hanya mengangguk sambil menekuk wajahnya.
"Itu yang saya takutkan, dulu Azam memang pernah berkata jika cerita itu diungkit lagi, pasti akan ada korban" jelas mba Lila.
"Jadi maksudnya Alia bakalan jadi korban? atau dengan kata lain dia bisa meninggal?" Nida menjadi semakin emosi mendengar perkataan mba Lila.
__ADS_1
"Saya tidak tahu maksud dari menjadi korban itu yang seperti apa! tapi yang saya dengar seperti itu, entah itu meninggal atau sakit, tidak ada yang bisa memastikan! jadi lebih baik doakan saja agar dia tidak apa\-apa"
Nida hanya terdiam, dia langsung mengambil air wudhu dan sholat serta berdoa untuk keselamatan sahabatnya.