
**Cerita kakak Ziva \(2**\)
Setelah pulang dari pemakaman, aku masih tetap diam dan terus memegangi tangan kak Vita, saat malam bahkan aku masih meminta kak Vita untuk tetap menemani aku tidur.
Sejak hari pemakaman kak Vika, sikap kak Vita juga berubah, dia jadi lebih diam dan dingin, tapi dia masih mau bicara denganku, hanya saja dia jadi lebih sering menyendiri sama seperti kak Vika dulu.
Setiap hari aku selalu berusaha untuk mendekati dan mengajaknya bicara, karena aku tidak ingin kehilangan dia juga. Aku juga selalu mengajaknya untuk melihat adik baru kami yang masih bayi.
Sejak saat itu aku dan kak Vita mulai terbiasa dengan kemampuan baru kami. Aku bisa merasakan hal-hal yang berbau mistis, namun aku hanya bisa melihat dan berkomunikasi jika kak Vita mau membantuku.
"Jadi soal lukisan itu?" tiba-tiba Alia menyela cerita Ziva.
Ah iya! lukisan itu dilukis oleh kak Vita setahun setelah kematian kak Vika. Di kamar itu, kak Vita semalaman tidak tidur, dia asyik melukis sambil terus bicara, padahal aku jelas melihat kalau tidak ada siapapun di kamar itu kecuali kak Vita.
Paginya aku melihat lukisan itu sudah terpasang di dinding, aku sempat bertanya pada kak Vita, dia hanya berkata "Kita akan selalu bersama!" sambil terus menatap lukisan itu.
Beberapa bulan kemudian aku baru sadar bahwa lukisan yang di buat oleh kak Vita bukanlah lukisan dirinya, melainkan saudara kembarnya yang sudah tiada. Aku sangat terkejut saat aku melihat kak Vita bicara dan mengobrol di depan lukisan itu, dan yang membuatku semakin heran saat aku benar-benar mendengar suara kak Vika di dalam kamar itu.
Aku berusaha untuk segera masuk dan lagi-lagi yang aku lihat hanyalah kak Vita bersama lukisan itu.
Kedua orangtuaku sempat kembali memanggil Om ku untuk menanyakan keadaan kak Vita, namun dia hanya berkata bahwa itu tidak berbahaya, tapi justru akan membuat sebuah perubahan dalam hidupnya.
Ibuku hanya diam, dia sempat kesal dan meminta ayah untuk mencari orang pintar agar bisa mengembalikan kak Vita seperti semula, namun setelah banyak menemui orang pintar hasilnya sama saja. Sampai akhirnya kedua orangtuaku mencoba untuk menerima bahwa kak Vita memang sudah di beri kemampuan untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata.
Sebenarnya saat itu aku pun sudah memiliki kemampuan itu, hanya saja aku belum menyadarinya karena keadaan tubuhku yang lemah.
Sejak hari itu aku sangat tergantung sekali pada kak Vita, Suatu hari saat ia hendak berangkat kuliah ke luar kota, aku menangis karena tidak ingin di tinggal, dia memberiku sebuah kalung dan berkata bahwa itu akan selalu menjagaku.
Semakin hari aku semakin merasakan bahwa kemampuan kak Vita terus meningkat, dia bahkan mampu menyembuhkan orang yang terkena gangguan mahluk halus lewat jarak jauh, yaitu hanya dengan lewat telepon.
Cerita itu terjadi saat Tante tiba-tiba sakit, Om ku bilang itu karena gangguan dari mahluk halus, dia mencoba untuk memanggil orang pintar karena dirinya sudah tidak mampu mengatasi. Aku menelepon kak Vita dan menceritakan keadaan Tante, lalu dia berkata bahwa dia bisa menolongnya.
Tadinya aku tidak percaya, aku memberitahu Om ku dan akhirnya mereka berdua bicara lewat telepon.
Om ku bahkan melakukan semua yang dikatakan oleh kak Vita demi bisa menyembuhkan Tante, dan benar saja tidak sampai sehari keadaan Tante sudah mulai membaik, dan sejak saat itu kak Vita menjadi lebih di segani oleh keluarga besar kami.
__ADS_1
Dia juga yang selalu membantuku di saat aku kesakitan karena tidak kuat menerima aura mistis yang menyelimuti tubuhku, dan itu semua dilakukannya melalui jarak jauh.
******
"Aku sungguh ingin menjadi seperti kak Vita, bisa membantu banyak orang" ucap Ziva.
"Jadi kamar ini, juga sudah di Pagari oleh kakakmu Vita?" tanya Mita.
Ziva mengangguk sembari tersenyum dan menatap ke langit-langit kamarnya.
"Tapi jujur mba, sebenarnya energi dingin ini aku merasa asalnya dari lukisan itu" Alia menimpali.
"Yah mungkin saja seperti itu, karena aku sendiri juga merasakan kalau kak Vika memang selalu ada di dekatku..." ucap Ziva pelan.
"Ziva... temanmu apa nggak di suruh makan to?"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai bawah. Dan ternyata itu adalah suara ibunya Ziva yang memanggil kami untuk makan karena tadi ada begitu banyak tamu jadi tidak sempat.
"Iya Bu sebentar" jawab Ziva.
Ziva pun mengajak Alia dan Mita untuk turun dan makan terlebih dahulu.
Dia menengok kebelakang namun tidak ada siapapun.
Alia kembali berjalan dan ternyata hal itu terjadi lagi, ada sesuatu menarik bajunya dari belakang. Alia kembali menengok ke belakang dan ternyata di bagian bawah berdirilah seorang anak kecil perempuan yang tersenyum padanya, dia juga masih memegangi baju bagian belakang Alia.
Anak kecil itu berumur sekitar 7 tahun dan memakai dress putih di bawah lutut dengan rambut panjang yang tergerai.
Alia berbalik dan berjongkok di depan anak kecil itu untuk menyeimbangkan tingginya agar dapat bicara dengan leluasa.
"Kamu siapa?" tanya Alia dengan pelan.
Anka kecil itu hanya tersenyum dan tidak mau bicara. Alia menjadi bingung, dia heran kenapa anak itu hanya tersenyum dan tidak mau bicara.
"Alia kamu ngapain?"
__ADS_1
Ziva menghampiri Alia yang masih berada di dalam kamarnya, sementara Mita sudah berada di lantai bawah.
Alia kaget saat mendengar suara Ziva, dia langsung berdiri dan berbalik menghadap Ziva.
"Eh ini tadi ada... loh kok nggak ada?"
Alia berniat untuk menunjukkan sosok anak kecil yang tadi ia temui, namun saat Alia kembali berbalik ternyata sosok anak kecil itu sudah tidak ada lagi. Ziva hanya tersenyum melihat kebingungan Alia.
"Kamu nyari apa?" tanya Ziva.
"Tadi beneran deh, tadi ku lihat anak kecil..."
"Dia maksudnya?"
Ziva menunjukkan sesosok anak kecil yang sedang bersembunyi di belakangnya pada Alia. Alia merasa heran karena tadi sosok itu jelas berada di belakangnya, namun dengan cepat sudah ada di belakang Ziva.
"Kok... dia..."
"Dia teman aku, nggak papa kok, dia emang suka iseng sama teman aku yang datang ke sini" jelas Ziva.
"Oh aku kira dia tadi..."
"Apa?"
"Aku nggak pernah tahu kalau kamu punya teman anak kecil kaya dia"
Ziva menceritakan bahwa sosok anak kecil itu adalah anak dari pemilik rumah itu yang sebelumnya, sejak saat Ziva bisa melihat mahluk tak kasat mata, sosok anak kecil itulah yang selalu menemani, dia tidak jahat tapi terkadang dia memang suka usil, terutama pada orang baru.
"Udah ayo ke bawah, Mita sudah nunggu"
Alia dan Ziva pun kembali berjalan menuju ke lantai bawah. Ziva menyuruh Alia dan Mita untuk makan terlebih dahulu setelah itu baru melanjutkan percakapan mereka.
Setelah selesai makan, Alia membantu ibunya Ziva untuk membereskan beberapa piring kotor.
"Eh sudah nggak usah nak, taruh saja di situ"
__ADS_1
"Nggak papa Bu"
Langit sudah berubah menjadi gelap, hari semakin malam dan Alia pun berpamitan untuk segera pulang karena besok dia ada jadwal kuliah pagi, sementara Mita sejak awal memang sudah berniat untuk bermalam di rumah Ziva, jadi mereka berdua mengantar kepergian Alia sampai di depan gerbang rumah Ziva.