
Keadaan saat itu menjadi sangat hening ketika mbah Imah dan Bu Mia berhenti membacakan ayat Al\-Qur'an untuk Alia. Dia seperti pingsan dan bahkan hampir tak bernafas, tubuhnya menjadi semakin kaku, dan tiba\-tiba matanya kembali melotot melihat kearah langit\-langit.
"Hiiiii hi hi hi...."
Terdengar suara tawa yang sangat khas, suara itu sangat halus dan lembut, sambil tersenyum Alia terus tertawa, suara itu bukanlah suara tawa Alia, melainkan tawa khas seorang wanita yang merasuki nya. Suara tawa itu bahkan sangat mirip dengan MP3 horor yang sering di sebut dengan tawanya kuntilanak.
Bu Mia kembali merasa panik, dia terus memegangi tangan Alia yang semakin dingin.
"Bu ini sepertinya bukan yang tadi!" Bu Mia mulai sadar bahwa yang merasuki putrinya sekarang bukanlah sosok yang tadi.
"Ibu tahu nak, ayo cepat bacakan lagi!" Nenek Imah mencoba bersikap tenang dan mengajak Bu Mia kembali membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Suara tawa itu semakin melengking dan keras, sampai beberapa tetangga mendengar dan ada yang datang menghampiri.
Tak lama kemudian pak Aji datang sendirian, dia nampaknya tidak berhasil membawa orang mampu itu.
"Lho pak kenapa datang sendiri? mana orang nya?"
"Dia tidak bisa datang bu, karena sudah masuk waktu maghrib dan dia harus menjadi imam di masjid"
"Ya Alloh,, terus gimana Alia pak"
"Dia berpesan untuk membacakan beberapa do'a"
Suara adzan maghrib pun berkumandang dari Madjid, beberapa tetangga yang datang juga mulai pulang untuk menjalankan sholat Maghrib, sementara Alia mulai memejamkan matanya seperti orang yang tertidur namun ia tetap menangis dengan suara pelan dan air matanya terus mengalir.
Pak Aji mengajak Bu Mia untuk sholat Maghrib bersama sementara Nenek Imah masih menjaga Alia.
Setelah selesai sholat, Pak Aji mengambil segelas air dan membacakan beberapa doa.
Pak Aji mencoba meminumkan air itu ke Alia namun tiba\-tiba "Praaang!!!"
Alia menepis gelasnya dan terjatuh hingga pecah.
"Pergi kamu! saya tidak butuh itu! saya hanya butuh mata saya! dimana mata saya!" teriak Alia.
Pak Aji hanya terdiam, dia lalu pergi ke kamar Alia dan mencari sesuatu. Pak Aji teringat bahwa Alia mempunyai sebuah tasbih yang terbuat dari kayu dan sangat menyayangi tasbih itu, setelah menemukan nya ia langsung mengalungkan tasbih itu dileher Alia.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Alia mulai merasa tenang, namun tiba-tiba ia menarik tasbih itu dari lehernya dan putus sehingga butirannya tersebar di lantai.
"Hiiii hi hi hi hi" Alia kembali tertawa sambil tersenyum.
"Apa kamu tidak tahu siapa saya?" Alia berucap menggunakan bahasa Jawa kromo dengan sangat lembut.
Sosok ini sepertinya sangat berbeda dengan yang tadi berteriak meminta matanya. Melihat hal itu, Pak Aji mulai sadar bahwa yang merasuki Alia bukan hanya satu melainkan lebih.
"Ini tidak bisa dibiarkan! tubuh Alia tidak akan kuat jika terus seperti ini!" Pak Aji menjadi semakin panik.
"Oh iya pak, Alia pernah cerita kalau di SMP dia punya seorang guru yang ahli dalam mengobati orang yang kesurupan, kita coba minta tolong dia saja siapa tahu dia bisa" ucap Bu Mia.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 dan tanpa berpikir panjang Pak Aji langsung mencari alamat guru itu dan mendatangi rumahnya.
Kebetulan Sita juga bersekolah di sekolah lama Alia, jadi dia tau rumah guru yang di maksud itu. Pak Aji pergi bersama Sita sementara bu Mia dan mbah Imah masih terus berdoa sambil mengusap kedua tangan Alia yang dingin.
Sudah hampir satu jam Pak Aji pergi, namun belum juga kembali, sementara itu sikap Alia terus saja berubah\-ubah. Terkadang ia berteriak seperti orang mengamuk, lalu tertawa seperti mengejek dan bahkan ia sesekali juga menangis. Dan yang terakhir, dia mulai nembang, atau menyanyikan lagu Jawa dengan suara yang sangat halus.
"Ini, dalam tubuhnya seperti ada yang sedang perang dan berebut untuk masuk!" kata mbah Imah.
"Maksud Ibu?" Bu Mia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan mbah Imah.
"Jadi, tubuh putriku sekarang sedang digunakan sebagai media perang untuk mereka!?" ucap Bu Mia dalam hati.
Bu Mia melihat kearah jam dan ternyata sudah pukul 20.45.
"Ya Alloh, kenapa Bapak belum pulang juga" Bu Mia mencoba untuk terus berdoa sementara Alia masih asyik dengan tembangnya, namun tiba-tiba sikapnya kembali berubah. Matanya kembali melotot dan mengumpat kesal seolah merasakan kedatangan orang yang tidak diinginkan.
Dan benar saja, pak Aji dan Sita pulang, dia juga berhasil membawa Pak Sutrisno, guru yang dimaksud oleh Bu Mia.
"Kamu! ngapain kamu datang kesini!" masih menggunakan bahasa Jawa kromo, Alia kembali berucap, namun sikapnya itu sangat angkuh dan lebih kasar.
Pak Sutrisno hanya tersenyum, dia langsung memegang tangan Alia dan menekan salah satu bagian telapak tangannya.
"Aaaaagggghhhhhhh!!!!! lepaskan! lepaskan itu sakit!" Alia mulai berteriak kesakitan.
Pak Sutrisno hanya tersenyum sambil terus menekan tangan Alia.
Alia kembali berteriak kesakitan, dia berusaha memukul Pak Sutrisno menggunakan tangan yang satunya, namun Pak Sutrisno menekan tangannya lebih keras lagi.
__ADS_1
"Sakit! ini sakit! cepat lepaskan!"
"Kamu mau keluar atau tidak! kalau tidak keluar saya akan terus menyiksa kamu!" Pak Sutrisno terus membacakan do'a.
Alia terus berteriak dan tak lama kemudian dia pingsan.
Pak Sutrisno mulai melepaskan tekanan ditangan Alia dan meminta segelas air putih.
Perlahan Alia membuka matanya dan pak Sutrisno langsung meminumkan air yang sudah ia bacakan doa.
Tubuh Alia mulai kembali normal dia mulai mencoba untuk duduk, dia tersenyum kearah pak Sutrisno seolah merasa malu dengan apa yang terjadi.
"Kamu itu! ngga berubah! masih suka ngalamun aja!" ucap Pak Sutrisno yang mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang.
"Hehe maaf pak, ngga berniat kok" ucap Alia dengan polosnya.
"Alhamdulillah... Alia akhirnya kamu ngga papa!" Bu Mia duduk di samping Ali dan memeluknya. Mbah Imah kembali kerumahnya dan Sita masuk ke kamarnya.
Setelah itu Bu Mia pergi ke dapur dan membuatkan minum untuk Pak Sutrisno. Lalu ia kembali duduk di samping Alia.
Alia, Pak Aji Bu Mia dan Pak Sutrisno duduk di ruang tamu.
"Jadi Alia kamu tau apa yang terjadi sama kamu?" tanya pak Sutrisno.
"Tau pak, perempuan itu ..."
"Bukan hanya perempuan itu! tapi yang lain juga!"
"Maksudnya ngga cuma perempuan itu yang merasuki saya?"
Pak Sutrisno mengangguk, Pak Aji dan Bu Mia juga sudah paham dengan hal itu.
"Jadi siapa saja pak?" Alia kembali bertanya.
"Itu para mbah buyutmu!"
__ADS_1
Pak Aji dan Bu Mia kaget mendengarkan pernyataan Pak Sutrisno, karena selama ini mereka selalu berpikir bahwa sesepuh tidak akan mengganggu cucunya.