
Mereka berdua mulai mengobrol dan menghilangkan keheningan di antara keduanya. Karena terlalu asyik mengobrol, Alia sampai lupa bahwa hari sudah semakin sore, Alia berniat untuk berpamitan pulang, namun saat ia baru saja ingin mengatakan hal itu, tiba\-tiba hujan deras kembali turun disertai petir dan juga angin.
"Yaahhh kok hujan lagi si!" ucap Alia.
"Kamu yakin mau pulang? hujannya tambah deras, kalau di terjang nanti kamu sakit" ucap Azam.
Alia hanya terdiam sembari terus melihat ke arah luar, langit menjadi semakin gelap karena hari memang sudah sore, ditambah lagi dengan awan mendung yang membuatnya menjadi semakin gelap.
"Mba, mending di sini dulu aja, sekalian nanti ikut pengajian" ucap Husna.
"Tapi aku kan belum mandi, dan baju aku..."
"Udah ayo ikut aku Mba"
Husna mengajak Alia untuk ikut ke dalam kamarnya, dia memberikan Alia bajunya untuk di pakai sebagi baju ganti.
Sementara itu Azam melihat ke arah burung kertas buatan Alia, dia mengambilnya dan meletakkan burung kertas itu di atas meja belajar di kamarnya.
"Aku akan menyimpan ini, dan akan aku pastikan ini tidak akan pernah berpindah dari kamarku" ucap Azam sembari terus menatapi burung kertas berwarna hitam itu.
Tak lama setelah itu suara adzan Maghrib mulai terdengar, Husna mengajak Alia untuk sholat Maghrib berjamaah di masjid yang berada di samping rumahnya.
Alia melihat ke sekelilingnya, terlihat ada cukup banyak santri dan santriwati yang mondok di pesantren milik almarhum ayahnya Azam.
"Husna..."
"Iya Mba kenapa?"
"Em... orang tua kamu kan juga punya pesantren, santrinya lumayan banyak juga, tapi kenapa Azam malah mondok di pesantren lain? kenapa nggak jadi santri di sini aja?" tanya Alia.
"Mba Alia gimana si, kalau belajar di sini ya namanya nggak mondok orang masih di rumah sendiri" jelas Husna.
__ADS_1
Alia terdiam dan melanjutkan perjalanannya, setelah selesai sholat Maghrib Alia kembali duduk di ruang tamu sendirian sementara Husna menaruh mukena di kamarnya.
"Aku udah cukup lama di sini, tapi dari tadi kok sama sekali nggak melihat ibunya Husna yah? apa mungkin dia masih sedih jadi belum mau ke luar?" gumam Alia dalam hati.
"Ragasy kamu sudah makan...?"
Azam menghampiri Alia yang sedang duduk di ruang tamu sendirian, Alia langsung berdiri saat mendengar suara Azam.
Azam terdiam saat melihat Alia yang berdiri di hadapannya, ini kali pertamanya melihat Alia menggunakan sebuah sarung dan juga baju muslim.
Alia mengenakan bju muslim berwarna coklat tua polos dan sarung hitam dengan motif bunga berwarna hijau tua, juga kerudung segi empat berwarna hitam polos.
"Subhanallah..."
"Kenapa? aku lucu ya?" awalnya Alia merasa minder karena baru pertama kali menggunakan pakaian seperti itu, dia bahkan tidak bisa menggunakan sarung itu sendiri, jadi Husna yang memakaikannya.
"Oh enggak kok, kamu..."
"Apa!? aku nggak cocok ya pakai pakaian kaya gini? kelihatan aneh?"
"Ah apaan si! kamu mengejek aku!" wajah Alia berubah jadi cemberut saat mendengar ejekan dari Azam, namun tak lama kemudian ia ikut tertawa karena merasa dirinya memang sudah seperti seorang santriwati.
Saat masih asyik tertawa, tiba-tiba saja dadanya terasa sangat sakit, nafasnya mulai sesak dan wajahnya berubah menjadi pucat.
Alia terjatuh dan terduduk di kursi yang berada di belakangnya sembari terus memegangi dadanya.
"Ragasy kamu kenapa?" tanya Azam.
"Aku... aku..."
Alia terlihat sangat sulit bernafas sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan Azam.
Azam pun langsung berjalan menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
"Astaghfirullah... ini kenapa sakit sekali! rasanya sangat sulit untuk bernafas!" gumam Alia.
__ADS_1
Di saat Alia masih merasa kesakitan, dia melihat ada cahaya putih yang mengelilinginya, cahaya itu terlihat sangat terang sehingga membuatnya silau, bahkan semakin membuat Alia merasa sulit untuk bernafas.
"Hah! ini buruk! sepertinya mereka tidak cocok denganku!" ucap Alia dalam hati.
Alia mulai merasakan hawa panas di dalam tubuhnya, wajahnya berubah menjadi merah karena kepanasan, keringat dingin mulai menetes di tubuhnya.
Azam kemudian datang membawa segelas air yang sudah ia bacakan doa dan meminta Alia untuk segera meminumnya.
Tak lama setelah itu suhu tubuhnya Alia mulai kembali normal, rasa sakit di dadanya sedikit demi sedikit berkurang dan sudah tidak merasa sesak lagi, wajahnya juga sudah tidak memerah lagi, namun masih terlihat pucat.
Alia melihat ke arah Azam yang duduk di depannya, sangat terlihat jelas cahaya putih terang yang terpancar dari tubuhnya, lalu ia melihat ke sekeliling tubuhnya sendiri, hanya ada cahaya hitam gelap yang mengelilinginya, ia merasa sangat salah karena datang ke tempat yang sangat bertentangan dengan auranya.
Hal itu kembali menyadarkan Alia bahwa nenek buyut dan sesepuhnya dulu menganut sebuah ilmu yang beraliran hitam, mereka semua adalah dukun yang masih bersekutu dengan jin dan setan, sedangkan orang yang berada di hadapannya sekarang adalah keturunan dari seorang ulama, auranya bahkan sangat suci dan menyejukkan, tidak seperti dirinya yang penuh dengan aura kegelapan, jadi setiap dirinya datang ke tempat yang bertentangan dengan aliran nenek buyutnya, maka mereka yang merasa tidak cocok akan menyerang, dan hal itu yang membuat tubuhnya menjadi korban, sama seperti saat pertama ia memasuki pondok pesantren di sekolahnya dulu.
"Udah mendingan kan?" tanya Azam.
"Aku sepertinya tidak cocok ada di sini" ucap Alia.
"Kenapa kamu bilang begitu?"
Alia hanya menunduk diam, jauh dalam lubuk hatinya, dia sebenarnya sangat tidak menginginkan kemampuan yang ia miliki sekarang, oleh karena itu setiap kali Alia di minta untuk berlatih agar bisa mengendalikan dan meningkatkan kemampuannya, ia tak pernah mau.
"Aku tahu kalau itu bukan kemauan kamu, jadi kamu nggak perlu menyalakan diri kamu seperti ini" jelas Azam.
"Mba Alia... ayo makan dulu, nanti takutnya nggak sempat, soalnya nanti habis isya tahlilan di mulai, dan semua santri dari pesantrennya mas Azam bakalan datang" ucap Husna yang tiba-tiba datang ke ruang tamu.
Alia hanya terdiam dan mengiyakan ajakan Husna. Dia bangun dari tempat duduknya dan tanpa sengaja menengok ke arah pintu. Terlihat ada tiga mahluk mengerikan yang sedang melihat ke arahnya, seluruh tubuhnya berwarna hitam dengan mata merah menyala, rambutnya panjang, kedua tangannya juga sangat panjang sampai menyentuh tanah meskipun mereka sedang berdiri.
Ketiga mahluk itu terlihat ingin masuk dan mendekat kepada Alia, namun tidak bisa karena terhalang oleh pagar suci yang sengaja di buat untuk mengelilingi rumah itu, dan mencegah agar mahluk seperti mereka tidak bisa masuk.
Alia tahu bahwa ketiga mahluk itu memang sering mengikutinya, dia juga tidak merasa heran ataupun takut karena sudah sering melihat wujud mereka.
"Mba Alia, kok malah bengong si, ayo ikut aku" ucap Husna.
"Ragasy kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa" imbuh Azam. Dia tahu betul bahwa Alia sedang melihat ketiga mahluk yang berada di luar pintu itu.
__ADS_1
Alia mengangguk dan mengikuti Husna ke dalam.