Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Kampung masa kecil


__ADS_3

"Alia?" tiba\-tiba terdengar suara pemuda yang tak asing dan menyapa Alia dari belakang.



Alia kaget mendengar suara itu, dia langsung membalikkan badan dan melihat siapa pemuda yang memanggil nya itu.



"Kak Rio!!" Alia berlari dan memeluknya karena sangat merindukannya.



Rio adalah putra bungsu dari mbah Hadi dan satu\-satunya anak laki\-laki mbah Hadi. Rio memiliki 2 saudara perempuan dan semuanya sudah menikah. Alia harusnya memanggil Rio dengan sebutan om, tapi berhubung usia mereka hanya terpaut 2 tahun dia jadi dipanggil kaka oleh Alia. Rio masih kuliah di semester 2 dan kebetulan sekarang sedang libur jadi dia bisa bertemu dengan Alia.



"Kamu sudah besar ya" ucap Rio.



"Apaan si! kita ini kan seumuran!"



"Tapi sikapmu masih sama, seperti waktu kecil" Rio tersenyum sambil memegang kepala Alia.


Rio mengajak Alia berjalan-jalan ke sungai dan melihat air terjun. Karena saat kecil mereka sering bermain disana.


"Haaaaahhhh ini masih sama! indah banget!" sambil menghela nafas dan merentangkan kedua tangannya di depan air terjun.



"Ya ini masih sama, jadi kenapa kamu kesini? bukannya kamu harus sekolah?" Rio duduk diatas batu yang cukup besar.



"Yah aku kesini buat nenangin pikiran aja... lagi suntuk" sambil tersenyum Alia pun ikut duduk di sebuah batu.



Mereka berdua duduk sambil menikmati pemandangan alam yang masih alami, banyak bukit\-bukit tinggi yang mengelilingi sungai itu. Alia menceritakan semua yang terjadi padanya, karena sejak kecil hanya Rio yang bisa menjadi tempatnya bercerita. Rio satu\-satunya orang yang bisa menjadi sosok kaka untuk Alia.



Mereka berdua terlalu asyik bermain sampai tak sadar hari sudah mulai sore.



"Alia sudah sore ayo pulang!"



"Sebentar lagi ka" masih asyik bermain air di dekat air terjun.


. Rio mulai merasa kesal dan akhirnya berjalan pelan meninggalkan Alia.


"Eh kok aku ditinggal si, kaka tunggu aku!" Alia langsung berlari mengejar Rio yang belum jauh.



"Kaka marah ya?" tanya Alia yang agak takut melihat Rio diam sedari tadi.



"Kamu tuh ya! masih kaya anak kecil aja!" sambil memegang kepala Alia.

__ADS_1


"Ya maaf ka... habisnya kan udah lama ngga main"


Mereka terus berjalan naik turun bukit, setelah kurang 15 menit berjalan mereka akhirnya sampai di rumah mbah Hadi.


"Kalian berdua itu dari mana saja! ini sudah mau maghrib, cepat mandi dan bersiap untuk sholat!" ucap mbah Hadi.


Rio dan Alia mandi bergantian dan bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah di rumah mbah Hadi.



Setelah selesai sholat, mbah Hadi meminta Alia duduk di sebuah kursi, dan menaruh segelas air putih di depannya.



Mbah Hadi membacakan surat\-surat Al\-Qur'an dan juga beberapa doa sambil terus memegangi kepala Alia. Setelah selesai Alia diminta untuk meminum air putih yang sudah di sediakan.


Setelah selesai, Alia berniat mengajak ka Rio untuk berjalan-jalan melihat pemandangan malam. Namun saat itu orang-orang disana masih sangat kolot dan tidak mengijinkan orang keluar malam setelah waktu isya'. Jadi Alia hanya bisa duduk di ruang tamu dan mengobrol bersama dengan ka Rio, sementara Mbah Hadi dan istrinya sudah masuk kamar untuk tidur.


Empat hari Alia sudah tinggal di sana, dan ia mulai merasa bosan. Pagi itu Alia berjalan-jalan di depan rumah, lalu mbah Hadi meminta Alia untuk mengantarkan sesuatu ke rumah putri sulungnya. Alia pun bergegas pergi dengan di temani ka Rio. Mereka berdua berjalan menuruni bukit selama kurang lebih 15 menit, karena rumah anak sulung mbah Hadi tidak jauh dari jalan raya.


Setelah sampai Alia hanya duduk di teras depan rumah sambil menghilangkan penat dan menikmati angin. Sementara Rio pergi ke kebun belakang rumah untuk membantu kaka iparnya.



Bibi Eni, merupakan putri sulung dari mbah Hadi dan juga kaka tertua dari Rio, dia sudah lama menikah dan punya dua orang anak yang masih kecil. Saat itu ia berniat mengantarkan segelas minuman untuk Alia yang berada di depan rumahnya. Saat masih di depan pintu ia tiba\-tiba berhenti.


Dia kaget melihat sikap Alia yang berubah-ubah dengan cepat. Tadinya Alia melamun, namun tak lama kemudian dia tertawa dan juga menangis.


"Ya Allah,, apa sebenarnya yang terjadi pada keponakan ku ini?" ucap bibi Eni lirih.



"Alia ini minumnya ya" dia memberanikan diri untuk menyapa Alia.




"Kamu sudah berapa hari dirumah mbah?"



"Ini hari ke lima bi" jawab Alia sambil meminum air yang sudah disiapkan oleh bibinya.



"Oh kenapa baru main ke sini?"


Alia hanya tersenyum, mereka berdua mengobrol cukup lama. Lalu terlihat dari jauh sebuah motor mendekati rumah bibi Eni, dan ternyata itu adalah mama dan papanya Alia.


"Loh Alia kamu disini" ucap Bu Mia sembari mendekati nya.



"Iya mah, nganter itu tadi disuruh sama mbah"



Bibi Eni mempersilahkan Bu Mia dan pak Aji untuk masuk. Namun pak aji lebih memilih untuk ke kebun belakang rumah dan menyusul suami bibi Eni.



Alia masih duduk di teras depan rumah sementara bibi Eni dan bu Mia masuk ke dalam.


Bu Mia langsung menuju ke dapur untuk meletakkan barang bawaannya, dan bibi Eni membuatkan minuman.

__ADS_1


"Mbak yu, saya nelangsa lho liat Alia" ucap bibi Eni sambil mengaduk minuman yang ia buat.



"Memang kenapa?"



"Tadi lho saya lihat dia itu melamun, terus ketawa sendiri, udah kaya orang gila"



Bu Mia hanya terdiam, dia tidak bisa berkata apa\-apa.



"Apa mungkin bisa sembuh ya?" ucap bibi Eni lagi.



"Doakan saja ya En, saya juga sudah sangat berusaha"



Tanpa sadar air mata bu Mia menetes, dia merasa sangat sedih dengan keadaan putrinya sekarang.



"Maaf mbak yu! saya ngga bermaksud lho"



"Ngga papa kok"


Bu Mia lalu keluar menghampiri Alia yang masih duduk sendirian di teras.


"Mah gimana keadaan rumah? lama\-lama kangen juga sama rumah" ucap Alia.


"Di rumah baik kok, semuanya juga baik, kamu sabar yah, nanti kalau udah selesai secepatnya kita pulang ya"


"Iya mah"


"Oh iya, kemarin wali kelas kamu datang bersama beberapa teman sekelasmu"



"Oh iya? wah sayang banget pas aku ngga dirumah"



"Iya, mereka datang buat nengok kamu, tapi mama udah bilang kok kamu lagi disini"


Mereka berdua mengobrol banyak sampai hari sudah mulai sore dan Bu Mia berpamitan untuk pulang.


"Loh mama ngga mampir kerumah mbah?"


"Mama tadinya mau ke sana buat jenguk kamu, tapi kebetulan sudah ketemu kamu disini jadi mama ngga mampir yah, salam saja buat mbah"


"Oh gitu ya, ya sudah hati-hati ya mama"


Bu Mia tersenyum, tak lama mereka pergi meninggalkan rumah bibi Eni.


"Alia ayo kita naik!" ucap ka Rio.


Alia mengangguk, namun sebelum itu mereka berpamitan terlebih dahulu kepada bibi Eni.

__ADS_1


Mereka berjalan naik bukit untuk pulang ke rumah mbah Hadi. Sementara itu mbah Hadi merasa sangat cemas menanti Alia dan putranya belum juga sampai karena hati sudah mulai gelap.


__ADS_2