
Semua orang masih terdiam melihat Alia yang terus bertingkah layaknya seorang putri solo sampai Sandra berteriak dan memanggil semua orang.
"Afia sadar teman-teman!! ayo ke sini!"
Seketika semua teman perempuan pun masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan Afi, begitu juga Bu Murniati. Beliau merasa sangat senang karena Afi sudah sadar, dan itu membuat rasa bersalahnya sedikit berkurang.
Meskipun sadar, namun keadaan Afi masih sangat lemah, dia juga belum terlalu bisa untuk bicara karena tenggorokannya terasa sangat kering. Rahma pun segera mengambilkan air hangat untuk Afi.
Azam meminta Nafisah untuk membawa Alia masuk ke dalam kamar dan menjaganya, sementara yang lain di minta untuk berkumpul di ruang tengah termasuk Bu Murniati. Karena Pak Syarif sudah sepuh dan jarang berkomunikasi dengan orang lain, jadi dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbaring di kamarnya. Semua urusan dan kejadian yang ada di rumah di urus oleh Bu Murniati.
"Jadi sebenarnya ini ada apa?" tanya Anton.
"Jadi... Afi sebenarnya sudah dua hari hilang dan di bawa oleh penunggu dari mata air tempat dimana kalian menemukan Afi tadi" jelas Azam.
"What? dua hari? lah terus yang selama ini kita lihat itu setan?" ujar Sandra.
"Gila serem banget si!" sahut Erik.
"Terus soal Alia..."
Azam menceriterakan segala sesuatu yang sebenarnya terjadi kepada semuanya, dia juga meminta mereka untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun dan cukup mereka saja yang tahu.
"Bu... saya juga mau Ibu tidak menceritakan ini kepada siapapun termasuk anak-anak Ibu" pinta Azam.
"Insyaallah nak, Ibu tidak akan memberitahu siapapun" jawab Bu Murniati.
"Soal Alia... aku butuh bantuan kalian semua" imbuh Azam.
"Bantuan apa? insyaallah kami semua siap membantu, karena kita satu tim jadi harus saling menolong" ujar Anton.
Azam menjelaskan kepada semua temannya bahwa acara penutupan yang akan diadakan sore hari harus tetap berlangsung karena sudah terlanjur memberitahu semua anak-anak dan juga mengundang beberapa tokoh masyarakat, meskipun tidak semua anggota bisa mengikutinya namun ia mengatur agar acara itu tetap bisa berjalan dengan lancar.
Setelah selesai dengan perkumpulan itu, sebagian dari mereka bersiap untuk acara penutupan, sementara Nafisah dan juga Rahma bertugas untuk menjaga Alia dan Afi.
"Sabar Ragasy, kita akan pergi dari tempat ini besok pagi!" ucap Azam dalam hati sembari pergi dari ruang tengah.
_____------_____
Selama yang lain mengatasi acara, Nafisah masih sibuk mengamati Alia yang terus saja diam sembari tersenyum. Dia seperti merasa sangat senang dan duduk dengan tenang. Namun lama kelamaan senyum di wajah Alia itu berubah menjadi teriakan yang sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa!!!!!!!! sakit! sakit sekali!!" teriak Alia.
"Hei kamu kenapa?" tanya Nafisah yang kaget dengan perubahan sikap Alia.
Kedua tangan Alia mengepal dan memukuli dadanya sembari terus berteriak kesakitan. Kejadian itu berlangsung tidak lama sampai akhirnya dia mulai tertawa lepas dengan suara yang melengking.
"Itu suara Alia kan?"
Afi mendengar suara Alia yang berasal dari kamar sebelahnya.
"Iya..." jawab Rahma.
Karena rumah Bu Murniati cukup luas dan jaraknya agak berjauhan dari rumah lain, maka tidak ada satupun tetangga yang mendengar teriakan Alia.
Afi berniat untuk bangun dan melihat Alia, namun Rahma melarangnya karena kondisi tubuh Afi masih sangat lemah dan keadaan Alia juga sedang tidak memungkinkan.
Sikap Alia terus saja berubah-ubah sampai membuat Nafisah kewalahan, dalam tubuhnya seperti sedang terjadi perang antara sesepuhnya dengan sosok wanita penghuni mata air itu. Hal terparah yang dilakukan Alia adalah saat dirinya mencekik lehernya sendiri dan mendorong Nafisah sampai kepalanya terbentur.
"Rahma... Rahma tolong!!"
Nafisah berteriak minta tolong, karena di rumah hanya ada mereka ber empat, jadi hanya Rahma yang datang, dia pun segera menghampiri Nafisah. Dia melihat Nafisah sudah tergeletak di lantai sambil memegangi dahinya yang berdarah.
"Nggak usah urusin aku, cepat panggil Azam!" ujar Nafisah.
"Tapi kamu... dan Alia..."
Rahma bingung saat melihat Nafisah terluka dan juga Alia yang terus mencekik lehernya sendiri. Di tengah-tengah acara, Rahma segera masuk ke ruang TPQ dan memberitahu Azam.
Azam pun segera berlari ke dalam rumah Bu Murniati dan berdiri di samping tembok kamar dimana Alia berada.
"Loh Azam kok malah berdiri di sini? ayo masuk ke dalam!" teriak Rahma.
"Kamu ambilkan saja segelas air putih cepat" ujar Azam.
Tanpa berpikir lagi, Rahma pun segera mengambil segelas air putih di dapur dan memberikannya kepada Azam.
Dengan tenang Azam memegang segelas air itu dan membaca beberapa doa.
"Usapkan air ini ke wajahnya, jika sudah tenang, suruh dia untuk meminumnya" ucap Azam sembari menyerahkan segelas air itu pada Rahma.
"Tapi dia..." Rahma sempat ragu karena tadi melihat Nafisah yang di dorong oleh Alia.
"Cepat!" ucap Azam.
__ADS_1
Akhirnya Rahma pun segera masuk ke dalam kamar dan ia kembali terkejut saat melihat Alia sedang membenturkan kepalanya ke dinding sampai berdarah.
"Astaghfirullah Alia..."
"Rahma ayo cepat, biar aku bantu!"
Nafisah pun segera bangun dan mencoba untuk memegangi Alia, sementara itu Rahma mencoba membasuh wajah Alia menggunakan air yang ia bawa.
Praaannnggg!!!!
Alia mendorong Rahma dan membuat gelas itu terlempar hingga pecah, namun Rahma sudah berhasil membasuh wajah Alia sehingga tak lama setelah itu Alia terjatuh dan pingsan.
"Alhamdulillah akhirnya dia tenang" ujar Nafisah.
Rahma segera membereskan pecahan gelas itu lalu mengambil kotak obat untuk membalut luka Nafisah dan juga Alia.
"Biar aku sendiri aja, kamu obati luka Alia aja" ujar Nafisah.
"Oh baiklah, ya ampun ini lukanya cukup dalam Nafisah..."
"Benarkah?"
"Iya... sepertinya tadi dia membenturkan kepalanya cukup keras" ucap Rahma.
Tak lama setelah itu, semua teman yang lain datang karena acara penutupan sudah selesai, mereka semua masuk ke dalam rumah termasuk bu Murniati dan Pak Syarif. Saat sampai di ruang tengah, mereka semua heran melihat Azam yang terduduk lemah menghadap ke arah kamar yang ditempati Alia.
"Azam... kamu kenapa?" tanya Anton.
Azam hanya terdiam dan terus menundukkan kepalanya, Bu Murniati langsung mengajak Pak Syarif untuk masuk ke dalam kamar dan menyuruhnya beristirahat.
"Ayo bangun Zam"
Latif mencoba membantu Azam untuk berdiri, ia terkejut saat melihat darah yang keluar dari hidung Azam.
"Loh kamu kenapa?" tanya Latif.
"Aku nggak papa"
Latif lalu membantu Azam untuk berjalan masuk dan beristirahat ke dalam kamar diikuti oleh Anton dan juga Erik.
"Azam kamu beneran nggak papa?" tanya Anton.
Azam hanya mengangguk sembari memegangi hidupnya yang terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Ini lap pakai tissue" ucap Latif sembari memberikan tissue kepada Azam.
Sementara itu Sandra dan Nila langsung berlari masuk ke dalam kamar dan melihat Alia. Mereka berdua merasa sangat terkejut saat melihat ada darah segar yang mengalir di dinding.