
Sekitar jam 11 siang sekelompok mahasiswa itu sampai di depan sebuah rumah model Jawa yang cukup luas. Rumah itu terletak di pinggir jalan, dan ada sebuah masjid Jami tepat di seberangnya.
Rumah itu adalah rumah dari orang yang cukup di segani oleh warga sekitar. Penghuninya adalah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia dan anak-anaknya sudah berumahtangga semua. Salah satu anaknya ada yang membuat rumah tepat di samping rumah orang tua itu.
"Assalamualaikum Pak, Bu..." ucap Azam menyapa sepasang suami istri yang sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan mereka.
"Walaikumsalam... mari semuanya ayo masuk dulu" ucap ibu itu.
Karena sang suami sudah sangat sepuh jadi pendengarnya sudah tidak jelas, bicaranya pun agak kesulitan, namun beliau masih sehat saat berjalan.
Pak Haji Syarif dan ibu Hajah Murniati adalah nama sepasang suami istri yang tinggal hanya berdua di rumah yang luas itu.
Ibu Murniati langsung mempersilahkan mereka semua untuk duduk dan menjamu mereka.
Alia masih melihat ke sekeliling rumah itu, ruang tamunya sangat luas, ada begitu banyak pajangan yang masih berbau Jawa, seperti patung, topeng, dan juga tulisan-tulisan yang menggunakan aksara Jawa, suasana di dalam rumah itu juga sangat dingin.
"Wah ini si keren..." ucap Sandra sembari memegang sebuah patung kecil yang terletak di atas meja tamu.
"Hey Sandra! jangan sembarangan di rumah orang!" ucap Afi.
"Apaan si orang mau lihat aja kok" jawab Sandra.
Alia, Nafisah, dan juga Azam hanya terdiam sembari menatap sekeliling, sementara anak-anak yang lain masih sibuk mengobrol dan menikmati teh hangat yang di buatkan oleh Bu Murniati.
"Kalian mau langsung istirahat di kamar atau nanti saja?" tanya Bu Murniati.
"Oh boleh sekarang kah bu?" tanya Sandra.
"Boleh, ayo ikut Ibu"
Bu Murniati pun mengajak para perempuan terlebih dahulu untuk menaruh barang-barang mereka ke dalam kamar.
__ADS_1
Di rumah itu memiliki empat kamar dengan satu kamar utama yang terletak di bagian belakang dekat dengan dapur. Kamar utama itu adalah kamar yang di tempati oleh Bu Murniati dan suaminya.
Para perempuan di antar ke kamar yang terletak bersebelahan dengan kamar utama. Dua kamar yang di jadikan satu dengan pintu penghubung di bagian tengahnya, jadi memudahkan mereka untuk datang ke kamar yang lain tanpa harus keluar dari kamarnya.
Untuk para perempuan, dua kamar itu sudah sangat cukup dengan tiga orang di setiap kamarnya, sementara itu untuk para anak laki-laki, mereka harus berbagi satu kamar untuk empat orang. Kamar itu cukup luas, namun tidak memiliki ranjang, jadi mereka hanya menggunakan kasur lantai.
Setelah meletakkan barang-barang mereka semua di kamar, Bu Murniati mengajak semua orang untuk berkeliling, pertama mereka berkeliling di dalam rumah terlebih dahulu. Selain memiliki empat kamar, rumah itu juga memiliki ruang makan sederhana, ruang tengah yang cukup luas, dapur, ruang sholat dan juga dua bagian kamar mandi, sehingga untuk laki-laki dan perempuan mereka bisa menggunakan kamar mandi yang berbeda.
Setelah selesai berkeliling rumah, Bu Murniati kemudian berjalan menuju ke belakang rumah, di sana terdapat sebuah bangunan sederhana yang terdiri dari dua ruangan. Bangunan itu adalah sebuah TPQ untuk anak-anak di dekat situ.
Kemudian di belakang TPQ ada sebuah kandang ternak milik Bapak dan Ibu pemilik rumah, ternak itu berupa ayam, itik, dan juga kelinci.
Saat semua orang sedang sibuk melihat kelinci, pandangan Alia tertuju ke bagian paling belakang dari halaman itu, terdapat sekelompok pohon bambu yang cukup banyak dengan sebuah jembatan kecil yang terbuat dari bambu.
"Itu sungai ya Bu?" tanya Alia sembari menunjuk ke arah jembatan bambu itu.
"Ah iya itu sungai, tapi hanya sungai kecil, airnya juga tidak sampai lutut tingginya, karena sekarang tidak hujan jadi sungai itu juga kering" jelas Bu Murniati.
"Ragay!"
Azam mencoba menghentikan Alia yang berjalan menuju hutan bambu itu. Mendengar panggilan Azam, Alia pun langsung berhenti dan kembali bergabung dengan yang lainnya.
Setelah selesai berkeliling, mereka kembali masuk ke dalam rumah, dan tak lama kemudian suara adzan Dzuhur mulai terdengar. Para anak laki-laki pun langsung bergegas menuju ke masjid untuk sholat berjamaah, sementara yang perempuan pergi ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil mukena.
Setelah selesai sholat Dzuhur, semua anggota berkumpul di ruang tengah untuk membahas program kerja yang akan mereka lakukan, sementara Alia dan Afi membantu Bu Murniati untuk menyiapkan makan siang.
Karena Alia adalah mahasiswa dengan jurusan pendidikan, maka dirinya tidak terlalu pusing dengan program yang akan dia lakukan.
Setelah rapat selesai, semua anggota di bebaskan untuk hari itu karena mereka baru akan memulai kegiatan mereka esok hari.
Alia masuk ke dalam kamar dan membuka laptopnya.
__ADS_1
Saat sedang asyik mengetik, tiba-tiba saja tanpa sengaja Afi menumpahkan air yang sedang dia minum dan mengenai baju Alia.
"Eh sorry sorry Al, aku nggak sengaja beneran!" ucap Afi yang juga kaget ketika minumannya tumpah.
"Ah kamu Fi!"
Alia agak kesal dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Saat sampai di depan pintu kamar mandi, Alia berhenti. Perlahan-lahan ia mengarahkan kepalanya dan melihat ke atas.
Tepat di atas pintu kamar mandi, pandangan matanya tertuju ke sana tanpa berkedip sedikitpun. Dia berusaha untuk melihat dengan jelas apa yang ia lihat tadi, namun yang ia lihat kembali hanyalah sebuah kayu besar yang terdapat di atas pintu tersebut.
Karena tidak melihat apapun, Alia pun berniat untuk masuk ke dalam dan mengganti bajunya. Setelah selesai ganti baju Alia pun langsung keluar, ia melihat ke bawah dan tanpa sengaja melihat sebuah cairan merah yang membasahi lantai tepat di depan pintu.
Alia pun segera melangkahi tetesan cairan itu dan berdiri di luar pintu, ia kembali melihat ke atas dengan seksama, namun yang ia lihat masih sama dengan pemandangan kayu besar tadi.
"Apa si itu? kenapa bisa ada tetesan darah coba!" gumam Alia.
Tanpa sengaja Azam masuk dari pintu belakang dan melihat Alia yang sedang menatapi bagian atas pintu kamar mandi.
Azam merasa terkejut dengan apa yang sedang di lihat oleh Alia, namun dia mencoba untuk tidak memberitahunya. Hal itu bertujuan agar Alia tidak memiliki pikiran yang macam-macam.
"Ragasy... kamu sedang lihat apa?" tanya Azam.
"Eh ini ada... loh kok nggak ada?"
Alia menunjukkan tetesan darah yang tadi ia lihat di lantai dan ingin memperlihatkan itu pada Azam, namun tiba-tiba lantainya berubah menjadi bersih dan tidak ada noda apapun.
"Apa?" tanya Azam lagi.
"Oh nggak papa kok, tadi ada yang kurang kerjaan aja" jawab Alia.
"Jangan bertingkah aneh, ini bukan daerah kita" ucap Azam.
__ADS_1
Perasaan Alia tiba-tiba berubah menjadi kesal dan pergi meninggalkan Azam.