Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Toh Brahma


__ADS_3

Bu Mia masih sibuk menyuapi suaminya dan memberikan obat. Sementara Alia masih gelisah memikirkan kata\-kata mamanya.


Dia berpikir dan terus berpikir sampai pikirannya menjadi sangat terganggu.


Bu Mia tersenyum melihat sikap putrinya yang sedang gelisah itu.


"Ih mama kok malah senyum-senyum gitu sih! ngga mikirin nasib anaknya apa!"


Alia masih mondar-mandir di kamarnya sampai akhirnya Bu Mia datang dan menyuruhnya untuk duduk.


"Kamu masih memikirkan itu?"


"Ya gimana ngga di pikirin mah..."


"Sini mama kasih tahu"


Bu Mia menyuruh Alia untuk mendekatinya dan mengatakan sesuatu.


Ia mulai bicara bahwa toh yang dimiliki oleh Alia adalah jenis toh yang lain.


"Maksud mama apa sih, aku ngga ngerti"


"Jadi... yang kamu punya itu toh Brahma"


Orang Jawa percaya bahwa ada dua jenis toh, yang satu Tohpati (yang membawa keburukan) dan satunya lagi Toh Brahma (yang membawa kebaikan)


Toh Brahma ini berwarna coklat kehitam-hitaman dan agak samar.


Sesepuh mereka mengatakan bahwa orang yang memiliki toh jenis ini maka akan membawa banyak kebaikan dalam hidupnya, dia juga akan memiliki keistimewaan yang tidak di miliki oleh orang lain, seperti kelebihan yang di miliki oleh Alia sekarang ini.


"Jadi maksudnya karena aku punya tanda lahir itu maka aku punya kelebihan ini?" tanya Alia.


Bu Mia hanya mengangguk sambil tersenyum.


Dia juga berkata bahwa saat Alia baru saja lahir, Mbah Arsa dan istrinya sudah mengatakan bahwa Alia akan menuruni kemampuan dari nyai Wangsa, sesepuh mereka.


Alia mulai merasa lega setelah mendengar penjelas itu dan tidak berpikir aneh-aneh lagi.


Tapi Alia masih bingung dimana letak toh itu, karena ia sendiri merasa bahwa belum pernah melihat sebuah tanda lahir itu di tubuhnya.


"Alia... coba kamu berkaca"


"Kenapa harus berkaca?"


"Coba saja!"


Alia pun berdiri dan mendekat ke cermin lemarinya. Dia berdiri dan melihat bayangan wajahnya.

__ADS_1


"Lihat baik-baik di sekitar wajah dan rambutmu" pinta Bu Mia.


Alia terus memandangi wajahnya dan belum menemukan apapun, setelah beberapa lama ia mulai tersadar bahwa ada sebuah titik besar dengan diameter kurang lebih satu centimeter berwarna coklat pudar di keningnya. Itu terletak di kening bagian kanan atas dan hampir tertutup oleh rambut di sekitarnya.


"Wah ketemu mah!"


Alia mendekatkan wajahnya untuk memastikan lagi bahwa itu benar tanda yang di maksud atau bukan. Setelah memastikan, itu ternyata benar sebuah tanda lahir berwarna coklat kehitam-hitaman yang di maksud oleh Bu Mia.


"Ini ya mah?"


Alia langsung menunjukkan itu kepada namanya, sementara mamanya hanya tersenyum menandakan bahwa hal itu adalah benar.


"Selama ini aku ngga pernah sadar loh..."


"Kamu mau tahu satu hal lagi?" tanya Bu Mia.


Alia langsung mengangguk, dia sangat penasaran hal apa yang akan di tunjukan oleh Bu Mia. Bu Mia membuka satu kancing bajunya di bagian atas lalu menarik dan menunjukkannya pada Alia.


Dia melihat sebuah tanda lahir coklat kehitaman juga ada di tubuh Bu Mia, tepatnya di bawah leher bagian kanan. Namun bentuknya lebih lebar dan tidak teratur seperti tinta yang tumpah.


"Berarti mama juga?"


Bu Mia mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi kelebihan orang itu pasti berbeda-beda, tidak ada yang sama" jelas Bu Mia.


"Tapi mama banyak tahu hal apa yang akan terjadi kan, dan itu semua sebagian besarnya benar"


_____------______


Tak lama kemudian nenek Imah datang untuk memberitahu bahwa kondisi nenek Wanda menjadi semakin parah, dia pun meminta Bu Mia untuk membantu menjaganya.


Bu Mia langsung pergi dan meminta Alia untuk menjaga pak Aji dan Sita.


Waktu berlalu, hari menjadi semakin gelap, saat itu pak Aji sudah merasa sangat baik dan dia pun memutuskan untuk menengok nenek Wanda.


Setelah selesai sholat isya pak Aji, Alia dan juga Sita bersama-sama menuju ke rumah nenek Wanda. Bu Mia sadar betul bahwa kondisi nenek Wanda sudah sangat parah, sakitnya bukan hanya stroke, dia juga mempunyai penyakit lama yang sulit disembuhkan, namun ia menolak untuk di bawa ke rumah sakit karena tidak mau merepotkan orang untuk menunggunya. Jadi dia hanya minta di rawat di rumah saja.


Alia, pak Aji dan Sita sampai di sana, mereka bersama-sama mendoakan nenek Wanda. Terakhir Bu Mia meminta Alia untuk membacakan surat Yasin.


Alia tiba-tiba merasa gelisah, dia kembali teringat dengan kejadian di rumah sakit tempo hari.


Namun Alia tidak dapat menolak perintah mamanya.


Alia pun mulai membacakan surat Yasin dengan menaruh segelas air putih di depannya.


Lalu meminumkan air putih itu ke nenek Wanda setelah selesai membaca surat Yasin.

__ADS_1


"Alia, Sita kalian pulang saja dulu yah"


Alia dan Sita pun berjalan pulang, setelah sampai rumah seperti biasa Alia langsung mencuci tangan, kaki dan juga wajahnya, lalu ia masuk ke kamar untuk istirahat.


Alia duduk dan bersandar di dinding sambil memikirkan keadaan nenek Wanda.


"Mungkinkah dia sudah tidak lama lagi?"


Alia terus bergumam dalam hati sampai tanpa sadar ia mulai terlelap.


Adzan subuh sudah berkumandang, Alia masih terlelap. Toko tok tok!!! tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu namun Alia tidak mendengarnya. Sita yang sudah terbangun langsung membuka pintu dan ternyata itu adalah papanya.


"Kakak kamu mana?" tanya pak Aji.


"Masih tidur pah" jawab Sita.


"cepat bangunkan, kita ke rumah nenek Wanda sekarang"


Sita mengangguk lalu pergi ke kamar Alia dan membangunkannya.


"Kak bangun kak!!" Sita menggoyang-goyangkan tubuh Alia sampai akhirnya dia terbangun.


Sita memberitahu Alia untuk segera bersiap ke rumah nenek Wanda, dia juga mengatakan bahwa nenek Wanda sudah meninggal.


"Apa!? meninggal? jam berapa?" tanya Alia kaget.


"Katanya tadi jam dua pagi" jawab Sita.


Alia lalu bangun dan melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah jam lima pagi, dia pun langsung mengambil wudhu untuk sholat subuh lalu bergegas pergi ke rumah nenek Wanda.


Begitu Alia sampai, ternyata jenazahnya baru akan dimandikan, dia pun langsung ikut untuk menjadikan jenazah nenek Wanda lalu mengkafani dan menyiapkannya untuk segera di makamkan.


Sebelum itu mereka juga tidak lupa untuk menyolatkan jenazah dan mendoakannya terlebih dahulu.


Tiba-tiba perhatian Alia teralihkan oleh nenek Sasi yang tetap duduk diam, dia terlihat tidak sedih ataupun menangis.


Alia lalu menghampirinya dan memegang tangannya. Nenek Sasi lalu memegang tangan Alia dengan kencang dan menangis.


"Nek... jangan sedih lagi yah..."


"Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi"


Air matanya terus mengalir, dan itu juga membuat air mata Alia mulai menetes tak kuasa melihat kesedihan nenek Sasi yang kini menjadi sebatang kara.


"Kamu ikut ke pemakaman yah!" pinta nenek Sasi.


"Iya Nek, saya pasti ikut"

__ADS_1


Nenek Sasi melepaskan tangannya lalu berjalan menuju ke kamarnya. Setelah jenazahnya siap, mereka pun mulai membawanya ke pemakaman untuk segera di kuburkan.


__ADS_2