
Semenjak selamatan hari itu, pekerjaan Pak Hari terasa sangat ringan, hasil panen yang di dapat juga selalu melimpah dan sangat lebih untuk mencukupi kebutuhan sehari\-harinya.
Hari demi hari berlalu, mereka mulai bisa menerima kepergian anak sulung mereka yaitu Nanang.
Tiga bulan telah berlalu, Pak Hari teringat dengan janjinya untuk kembali ke gunung itu dan melakukan ritual lagi agar ekonominya bisa terus stabil seperti sekarang.
Pak Hari mencari berbagai alasan agar bisa pergi dari rumah tanpa menimbulkan kecurigaan bagi istrinya. Seperti saat awal, setelah kembali dari gunung itu ia mengadakan selamatan dengan alasan untuk mensyukuri hasil panennya yang semakin meningkat.
Hari-hari terus berlalu, bulan demi bulan juga di lalui. Kini sudah setahun semenjak kematian putra sulungnya. Pada 3 bulan yang lalu kakek penjaga gunung memberi tahu Pak Hari bahwa jika lewat satu tahun maka ia harus datang kembali dengan membawa satu ekor lagi ayam kampung jantan.
Pak Hari tidak pernah berpikir bahwa syarat itu sebenarnya adalah simbol dari tumbal pengorbanan yang harus ia berikan. Yang ia tahu hanyalah pekerjaan mengurus ladangnya menjadi mudah, hasil panennya juga selalu bagus.
Hari itu Pak Hari berpamitan kepada istrinya untuk pergi, namun ia masih tidak memberi tahu istrinya kemana ia akan pergi.
Di perjalanan Pak Hari tidak lupa membeli seekor ayam kampung dan juga beberapa bunga terlebih dahulu.
Dengan tanpa beban, Pak Hari kembali mendaki gunung itu dan berpuasa selama tiga hari di puncak gunung itu. Pada hari ketiga kakek penjaga itu datang dan kembali melakukan berbagai ritual yang pernah dilakukan sebelumnya.
Kali ini Pak Hari kembali di minta untuk menyembelih ayam kampung yang di bawanya itu. Pak Hari memulai penyembelihan itu dan seketika ayam itu merengek kesakitan, namun yang terdengar oleh Pak Hari yaitu suara tangisan dari putra bungsunya yang masih sangat kecil.
Setelah ritual selesai Pak Hari pun bergegas kembali ke rumahnya. Untuk yang kedua kalinya ia kembali melihat anaknya terbaring kaku dan sudah tidak bernyawa lagi.
Istrinya menjelaskan bahwa putra bungsunya mendadak demam tinggi dan juga kejang-kejang. Istri Pak Hari juga sempat membawa anak ketiganya itu ke rumah sakit, namun karena demam yang begitu tinggi dan juga kejang-kejang yang sudah parah, pihak rumah sakit hanya bisa merawat semampunya sampai akhirnya anak itu tak tertolong lagi.
__ADS_1
Istri Pak Hari terus menangis sambil memeluk satu putranya yang masih tersisa. Dengan perasaan yang sangat bersalah karena tidak ada di sisinya saat-saat terakhir, Pak Hari mencium kening tubuh putra bungsunya dan menggendongnya menuju ke pemakaman. Pak Hari sendiri yang turun ke liang lahat dan menguburkan anak bungsunya.
Keesokan harinya Pak Hari kembali mengadakan selamatan seperti biasa. Sejak saat itu perekonomian Pak Hari benar-benar sangat berubah. Hasil panennya selalu bagus, ia bahkan sudah tidak bekerjasama dengan orang lain lagi. Semua usaha berladang ia mengeluarkan modal sendiri dan juga menikmati hasil panennya sendiri.
Tahun ke dua istrinya mulai merasa curiga, sebenarnya kemana suaminya pergi setiap 3 bulan sekali itu. Tadinya Pak Hari tidak mau menceritakan, tapi istrinya terus mendesak agar Pak Hari mau memberitahu yang sebenarnya.
Setelah mendengar cerita dari Pak Hari, istrinya itu terduduk lemas, dia menangis sejadi-jadinya.
"Kamu tega mas kamu tega!" teriak istri Pak Hari itu.
"Tega bagaimana? aku melakukan semua ini demi keluarga kita, untuk anak kita!" jawab Pak Hari.
"Anak kita? Anak kita yang mana? kamu bahkan sudah mengorbankan kedua anak kita, apa kamu masih belum sadar!?".
"Maafkan aku dek, aku benar-benar sudah dibutakan oleh hawa nafsu"
Pak Aji terjatuh lemas dan menangis, ia benar-benar menyesal kenapa baru sadar akan hal itu. Pak Hari mencoba meraih tangan istrinya, namun istrinya justru menghindar dan pergi ke kamar bersama anaknya.
Cukup lama Pak Hari membujuk dan meminta maaf sampai akhirnya istrinya itu mau menemui Pak Hari. Istrinya juga meminta Pak Hari untuk berjanji agar tidak pergi ke gunung itu lagi. Dengan hati yang mantap Pak Hari pun berjanji untuk tidak pergi lagi.
_____------______
Tiga bulan berlalu sejak hari itu. Perasaan Pak Hari mulai resah karena hari itu adalah saatnya untuk dia datang ke gunung itu dan berpuasa. Istrinya terus mengingatkan Pak Aji agar menepati janjinya dan tidak lagi menyembah kepada iblis yang menyesatkan.
__ADS_1
Pak Hari akhirnya merelakan untuk benar-benar berhenti menyembah makam yang berada di puncak gunung itu. Tiga bulan berikutnya berlalu, Pak Hari masih tidak pergi.
Sejak hari itu kehidupan Pak Hari dan istrinya benar-benar kembali ke titik semula. Hasil panen yang biasanya melimpah, kini menjadi sedikit dan terus berkurang dari bulan ke bulan sampai akhirnya mereka tidak bisa mendapatkan keuntungan dari ladang yang mereka garap.
Cara terakhir pun dilakukan, Pak Hari mulai menjual ladang-ladang miliknya yang belum lama dibeli sejak meninggalnya putra bungsu mereka. Satu tahun setelah itu ujian dari rumah tangga Pak Hari mencapai puncaknya.
Semua lahan miliknya sudah habis terjual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kini mereka hanya memiliki tanah yang mereka tinggali saja. Hari itu anaknya yang tinggal satu-satunya jatuh sakit, penyakitnya agak aneh dan sulit di sembuhkan. Karena mereka juga sudah tidak punya uang lagi, jadi hanya merawat anak mereka di rumah, sampai akhirnya anak yang hanya tinggal satu-satunya itu benar-benar tidak bisa tertolong lagi.
Istri Pak Hari itu sudah tidak bisa menahan kesedihannya, dia terus saja menyalahkan Pak Hari sampai akhirnya mereka bercerai dan Pak Hari kehilangan segalanya.
************
"Jadi begitu ceritanya nak" ucap Pak Aji sembari meminum kopi yang sudah mulai dingin.
"Oh jadi istri Pak Hari yang sekarang itu istri kedua?"
Alia kembali bertanya dan Pak Aji hanya mengangguk. Dari cerita itu Alia bisa mengerti kenapa sosok jubah hitam itu sangat ingin Alia membantunya. Alia juga sudah paham kenapa banyak sosok jin dengan berbagai bentuk mengerikan yang mencoba untuk menghalangi Alia sampai ke puncak saat itu. Ternyata para mahluk jahat itu hanya menyambut serta memudahkan orang-orang yang hatinya telah di selimuti niat buruk dan menyimpang.
"Kamu bisa bicara baik-baik jika memang kamu tidak bisa membantu, itu adalah hak kamu, karena kamu tidak meminta apapun pada mereka, maka mereka juga tidak akan menuntut kamu" jelas Pak Aji.
"Iya Pah, insyaallah Alia akan membuat keputusan yang terbaik"
Alia meraih cangkir putih berisi teh manis yang sudah hampir dingin karena lama ditinggal mendengar cerita dari Pak Aji.
__ADS_1