
"Eh Fi, hari ini les nya apa?" tanya Alia.
"Oh hari ini matematika, kenapa?" Afi bertanya kembali.
"Nggak papa kok, berarti les nya di kelas ini yah?"
"Iya. Eh aku ke kantin dulu yah, lapar nih kamu mau nitip apa?" tanya Afi sambil berjalan keluar kelas.
"Nggak lah aku udah bawa bekal ini" jawab Alia sambil mengeluarkan kotak bekalnya.
Afi pergi ke kantin untuk membeli makanan, sementara Alia duduk di dalam kelasnya sendirian.
Saat hendak membuka kotak makannya tiba-tiba Aldi masuk menghampiri Alia dan memberikan secarik kertas. Dia meletakkan kertas itu di meja tepat di depan Alia, Sambil tersenyum padanya lalu pergi.
"Eh Aldi? mau makan bareng kita nggak, aku mau makan nih sama Alia" sapa Afi saat berpapasan dengan Aldi di depan pintu kelas.
"Eh nggak lah, kamu aja sama Alia, aku udah makan kok tadi" Aldi langsung pergi.
Afi masuk ke kelas dan dia melihat Alia yang sedang membaca selembar kertas.
"Eh apaan tuh?" tanya Afi sambil melirik kearah selembar kertas yang sedang di pegang Alia.
"Bukan apa-apa kok" langsung menyimpan kertas yang ia pegang.
"Pelit banget si? oh jangan-jangan itu surat cinta dari Aldi yah" kata Afi yang meledek Alia.
"Apaan si ya nggak lah!" Alia terlihat malu.
" Iya juga nggak papa kok. Eh tapi bukannya dia punya no telepon kamu yah? kok masih pake surat segala si?" tanya Afi penasaran
Alia hanya terdiam karena dia merasa bersalah, Aldi sering menghubungi Alia lewat telepon namun ia tidak pernah membalasnya.
"Udahlah nggak usah di bahas! nggak penting juga" kata Alia.
"Eh jangan gitu! nanti kalau dia pergi baru nyesel kamu!" Afi mencoba memperingatkan Alia.
"Nggak lah, masih kecil juga ngapain mikirin gituan. Eh nanti pulangnya temenin aku ke suatu tempat yah" kata Alia
"Kemana?"
"Ada deh, nanti juga kamu tahu kok" Alia membuat Afi semakin penasaran.
__ADS_1
Sepulang sekolah Alia kembali mengajak Afi ke tempat yang ingin ia tuju.
"Aduh Alia! ngapain ke sini lagi? mau beli pewarna rambut lagi?" tanya Afi yang agak kesal setelah tahu Alia mengajak nya ke salon yang kemarin.
"Nggak kok, aku mau potong rambut!" jawab Alia berbisik.
" Lah bukannya kemarin udah?" jawab Afi dengan nada sewotnya.
"Pengin nyoba model baru lah, jangan papak melulu" jawab Alia sembari masuk ke dalam untuk memotong rambutnya.
Setelah selesai potong rambut, kini rambut Alia semakin pendek dari kemarin, namun tidak terlalu nampak beda jauh karena dia hanya meminta untuk dirapikan saja dan mengubah modelnya menjadi segi atau bagian kanan kirinya pendek dan tengahnya agak panjang.
"Gimana bagus nggak?" tanya Alia sambil memamerkan rambut barunya.
"Yah lumayanlah" ucap Afi dengan santai.
Mereka berdua pun pulang kerumahnya masing-masing.
"Assalamualaikum... Alia maaf kalau aku ganggu kamu dengan selalu menghubungi kamu lewat telepon, tapi aku cuma ingin cerita sama kamu, aku ingin dekat sama kamu, aku juga ingin kenal kamu lebih jauh, aku ingin berusaha buat jadi teman kamu, aku janji akan berusaha selalu ada buat kamu, jadi kalau kamu ada apa-apa tolong jangan segan buat cerita sama aku. Jadi tolong kamu jangan hindari aku ya? wassalamu'alaikum" isi secarik kertas yang diberikan Aldi kepada Alia.
Alia melipat kembali kertas itu dan menyimpan nya di dalam laci lemari nya. Dia melamun sambil tersenyum senang karena mendapat surat dari Aldi.
"Apa mungkin sebaiknya aku coba dulu yah?" ucap Alia dalam hatinya.
Alia masih memikirkan tentang Aldi, namun malam harinya ternyata ia kembali demam tinggi.
"Maaaaa.... Mama...." Alia merengek memanggil Mama nya.
"Masyaallah nak,, kamu kok demam lagi" Bu Mia kaget melihat anaknya kembali demam tinggi.
"Kamu tadi kemana aja nak? kamu ngapain aja? atau kamu makan apa aja di luar?" pertanyaan Bu Mia tidak berhenti, ia terus bertanya dengan rasa khawatirnya.
Pak Aji yang baru pulang bekerja pun kaget melihat keadaan Alia.
"Alia nggak makan diluar mah, Alia makan bekal dari Mama, tapi tadi Alia mampir ke salon buat potong rambut" ucap Alia dengan suara yang gemetar.
"Potong rambut?" Bu Mia kaget mendengar ucapan Alia. Dia menatap Pak aji seolah mempunyai pikiran yang sama.
__ADS_1
Bu Mia langsung memberikan obat kepada Alia dan memijat kepalanya.
Sementara Pak Aji memberikan segelas air putih yang sudah dibacakan doa-doa, setelah Alia meminumnya, demamnya pun mulai turun.
"Syukurlah demamnya sudah tidak terlalu tinggi, sekarang kamu istirahat yah, biar Mama mu yang temani kamu tidur" ucap Pak Aji.
Alia hanya mengangguk, Pak Aji lalu keluar dari kamar Alia.
"Mah kayak nya sekarang aku paham deh" ucap Alia.
"Mama tahu apa yang kamu pikirkan, Mama juga memikirkan hal yang sama" ucap Bu Mia.
Mereka berdua mulai paham penyebab Alia mengalami demam tinggi secara tiba-tiba.
Ternyata rambut Alia memang mengandung kekuatan yang bisa menarik mahluk halus untuk mendekat padanya, dan jika dia memotong rambut nya maka dia akan mengalami demam tinggi selama satu malam.
Alia mulai merasa khawatir dengan keadaan dirinya, dia merasa bahwa dirinya semakin lama semakin aneh dan mulai merasa hilang semangat untuk terus menganggap kemampuannya itu sebagai kelebihannya.
Pagi harinya demam Alia sudah sembuh, dia kembali mencari pewarna rambut yang ia pakai kemarin.
"Ah akhirnya ketemu! walaupun sedikit tapi kayaknya masih cukup kok, kan sekarang rambut aku udah nggak terlalu panjang, jadi ini pasti cukup!" ucap Alia pada dirinya sendiri.
Alia kembali mewarnai rambut hitamnya menjadi warna kuning keemasan, kali ini ia mewarnai seluruh bagian rambutnya tanpa ada sehelai pun yang tersisa. Seluruh rambutnya kini sudah berubah warna.
"Nggak ada jalan lain! bukannya aku mau jadi anak badung atau banyak tingkah, tapi ini biar aku bisa beda sama mereka!" Alia terus bicara pada dirinya sendiri sambil bercermin dan melihat rambutnya yang baru.
Alia terus memandangi bayangan wajahnya di cermin, "kok cantik banget si!" ucapnya sambil menatap wajah yang ada di cermin.
"Astaghfirullah!!!" Alia langsung memalingkan wajahnya dari cermin, dia kaget karena tiba-tiba wajah cantik itu berubah menjadi wajah yang sangat menyeramkan.
"Ini yang ngerasukin badan aku bukan cuma satu ini pasti!" ucap Alia sambil menghela nafasnya.
Semenjak saat itu, Alia selalu mewarnai rambutnya. Saat warna rambut itu mulai pudar, ia mewarnai nya lagi dan lagi. Dia juga sangat jarang memotong rambut nya lagi.
__ADS_1