Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Terlambat


__ADS_3

 


"Astaghfirullah... itu darah apaan?" teriak Sandra.


 


"Sssttt!! jangan berisik! Alia baru saja tenang" ujar Rahma.


Rahma menceritakan hal yang tadi terjadi, dia meminta Sandra dan juga Nila untuk membantunya membersihkan noda darah yang masih mengalir di dinding sementara Nafisah berusaha mengganti baju Alia yang berlumuran darah.


Untuk sementara mereka bergantian membersihkan diri dan makan, mereka juga tidak memberitahu Afi tentang keadaan Alia karena tidak mau Afi merasa khawatir dan mengganggu proses pemulihan tubuhnya.


Semua anggota perempuan juga melakukan sholat di dalam kamar secara bergantian sembari terus mengawasi Alia.


Sandra duduk di samping Alia saat yang lainnya sedang sholat dan menjaga Afi, dia merasa sangat iba melihat tubuh Alia yang dipenuhi luka memar.


Lehernya bahkan sampai membiru karena bekas cekikan oleh tangannya sendiri.


"Alia... aku nggak nyangka ini semua terjadi sama kamu, selama ini aku pikir kamu anak biasa seperti aku dan yang lainnya..." Sandra berbicara pada Alia yang masih pingsan, dia juga memegang tangan Alia.


Tak lama kemudian Alia membuka matanya, namun tatapannya masih sangat tajam seperti hendak memangsa orang yang ada di hadapannya.


"Alia? kamu bangun?" tanya Sandra pelan.


Alia langsung menengok ke arah Sandra dan memegang tangannya dengan sangat kencang.


"Aw Alia lepasin dong ini sakit!"


Sandra terus bicara namun Alia sama sekali tidak menghiraukannya, tangan Alia malah semakin kencang menggenggam tangan Sandra.


Sandra berusaha melepaskan tangannya, tapi Alia justru mencakar tangan Sandra sampai berdarah.


"Ya ampun ini sakit banget!"


Sandra berlari keluar dan memanggil teman-temannya yang lain, dia juga menunjukkan luka cakaran di tangannya.


Nafisah segera masuk ke kamar dan menghampiri Alia. Saat sampai di dalam kamar, Alia sudah membuang perban yang digunakan untuk menutup luka di dahinya dan terus memukuli kepalanya.


"Pergi kamu! keluar kamu! aku sakit! cepat keluar!" teriak Alia.


Nafisah segera berusaha untuk menghentikan Alia, dia memegangi kedua tangannya sembari terus membacakan doa-doa yang ia bisa. Darah di dahi Alia kembali menetes karena lukanya terbuka dan menjadi semakin parah.


Semua temannya datang ke kamar dan membantu Nafisah untuk memegang Alia.


Seluruh tubuh Alia berubah menjadi kaku dan keras seperti kayu. Dia juga kejang-kejang karena mulai kesulitan bernafas.


"Astaghfirullah Alia... sadar Al... kamu kuat, ayo istighfar..." Rahma terus berusaha mengingatkan Alia.


"Sandra! tolong kasih tahu Azam!" teriak Nafisah.


"Kan mereka lagi jamaah di masjid, belum pulang" jawab Sandra.

__ADS_1


"Aduh! gimana ini!" Nafisah kebingungan, namun tiba-tiba dia teringat bahwa beberapa waktu lalu sempat menemukan gelang milik Azam yang terlepas dari tangan Alia.


"Nafisah kamu mau kemana?" tanya Sandra.


"Sebentar aja kok"


Dengan segera Nafisah mengambil gelang itu dan langsung memakaikannya ke pergelangan tangan kiri Alia.


Seketika Alia langsung menjerit kesakitan karenanya.


Pak Syarif, Bu Murniati, dan semua anak laki-laki sedang berada di Madjid, jadi hanya Nafisah beserta teman perempuannya saja yang mendengar teriakkan itu.


Tak lama setelah itu Alia kembali pingsan, tubuhnya mulai melemas dan sudah tidak kejang-kejang lagi.


Sementara itu Azam segera berjalan keluar dari masjid setelah sholat selesai. Hidungnya kembali mengeluarkan darah segar dan ia berusaha menutupi dengan sapu tangan yang ia bawa.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam... eh Azam kamu pulang" ucap Nila yang melihat Azam masuk ke dalam rumah.


"Apa terjadi sesuatu sama Alia?" tanya Azam.


"Tadi dia sempat teriak dan juga mengamuk, tapi Alhamdulillah sekarang sudah tenang"


"Syukurlah..."


Azam lalu masuk ke dalam kamarnya.


Setelah selesai sholat isya, semuanya sudah berada di dalam rumah. Azam mengajak semua temannya untuk berkumpul di ruang tengah.


"Malam ini, aku mau semua anak laki-laki tidur secara bergantian" jelas Azam.


"Tapi kenapa?" tanya Erik.


"Aku nggak mau sampai terjadi hal buruk lagi.


Azam meminta semua temannya untuk berkemas lebih awal karena besok pagi mereka akan pulang pagi sekali.


Anton dan Erik di minta untuk tidur lebih dulu sementara Azam dan Latif berjaga-jaga.


Nafisah juga tidak tidur karena terus berusaha menjaga Alia.


Sekitar tengah malam, suasana sudah sangat sepi, semua orang sudah tertidur kecuali Azam dan latif. Nafisah dan Rahma yang tadinya tidak mengantuk pun tiba-tiba saja tertidur.


Kurang lebih jam 00.20 Azam masih duduk sambil memejamkan matanya dan terus berdzikir di ruang tengah, sementara Latif hanya memainkan ponselnya agar tidak mengantuk. Tak lama kemudian Azam membuka matanya dan beranjak bangun.


"Eh ada apa Zam? kamu mau kemana?" tanya Latif.


"Kamu tadi lihat seseorang lewat?"


"Orang? mana ada! dari tadi kan kita sama-sama duduk di sini!" ujar Latif.

__ADS_1


Azam berjalan menuju ke pintu kamar anak perempuan dan mengetuk pintu dengan perlahan.


"Eh Azam, kenapa malam-malam begini?" tanya Rahma yang masih memegangi pintu kamar itu.


"Alia masih ada?" tanya Azam.


"Heh kamu bercanda, dari tadi juga dia di dalam" ujar Rahma.


"Coba kamu lihat dulu!"


"Ya iya aku lihat! aneh banget si, orang dari tadi juga aku tidur di samping Alia" gumam Rahma.


Rahma pun menengok ke belakang, melihat ke arah kasur tempatnya tidur. Namun betapa terkejutnya saat ia hanya melihat Nafisah yang tertidur di atas kasur sendirian tanpa adanya Alia.


"Astaghfirullah! kenapa nggak ada?" teriak Rahma.


Nafisah pun terbangun karena mendengar teriakan Rahma, dia juga merasa terkejut saat melihat Alia tidak ada di kamar.


Rahma lalu kembali ke luar dan memberitahu Azam.


"Kamu bangunkan yang lain, aku pergi dulu!" ujar Azam.


Rahma lalu membangunkan semua temannya termasuk Afi, Sementara itu Azam mengajak Latif untuk ikut bersamanya.


"Zam kamu gila yah, tengah malam begini mau kemana!" teriak Latif.


"Telat sedikit saja semuanya akan terlambat!" ujar Azam.


Mereka berdua sampai di belakang rumah dan dari kejauhan terlihat sosok perempuan yang sedang berdiri di atas jembatan bambu. Sosok perempuan itu melambai-lambai seperti sedang menari dengan asyiknya.


"Astaghfirullah Azam... itu apaan! aku takut!" ujar Latif.


"Bodoh! itu Ragasy! arahkan senternya dan kita ke sana!" ucap Azam.


"Ragasy? Alia maksudnya? eh tungguin aku dong!"


Azam dan latif berlari menghampiri Alia yang masih asyik menari-nari di atas jembatan bambu yang sangat rentan.


"Ragasy!!"


"Alia!!"


Azam dan latif langsung berteriak saat Alia tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke dalam sungai kecil itu. Meskipun tidak ada airnya, dan jarak dari jembatan ke dasar juga tidak terlalu dalam, namun ada bebatuan yang cukup besar dan akan berbahaya jika kepala Alia sampai terbentur saat jatuh.


"Ah sial! terlambat!"


Azam langsung turun ke bawah dan menghampiri Alia, namun hal yang ditakutkan ternyata terjadi, kepala Alia terbentur bebatuan yang ada di bawah jembatan bambu itu.


"Ragasy..."


Seketika air mata Azam mengalir karena tidak tahan melihat orang yang ia sayangi terluka parah. Nafas Alia mulai melemah, Azam berusaha mengeluarkan Alia dari tempat itu, namun karena keadaan yang sangat gelap membuatnya agak kesulitan. Untung saja Erik dan juga Anton segera menyusul, mereka berdua ingin membantu untuk mengangkat Alia, namun Azam menolaknya.

__ADS_1


Azam menggendong Alia sendirian dan membawanya kembali ke rumah bu Murniati, sementara yang lain hanya menerangi jalannya menggunakan senter dari ponsel mereka.


__ADS_2