Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Sebuah sikap


__ADS_3

 


Beberapa hari kemudian semua mahasiswa semester akhir sedang sibuk menyiapkan program KKN mereka setelah mengetahui kelompok berserta teman anggotanya.


 


Suasana hati Alia masih sama saja, dia belum mau banyak bicara pada orang lain kecuali sahabatnya yaitu Afi.


Dia bahkan tidak tahu sama sekali siapa saja orang yang akan satu kelompok dengannya.


Siang itu Alia sedang duduk di kursi taman sendirian sembari memegang sekuntum bunga mawar merah yang sudah mekar. Warna dari bunga Mawar itu terlihat sangat gelap seperti darah. Perlahan-lahan Alia mulai melepaskan beberapa mahkota bunga itu dan melahapnya seolah-olah sedang memakan makanan manis.


"Ah sungguh manis sekali rasa bunga ini, tidak ada duanya!" ujar Alia.


Karena saking asyiknya, sampai-sampai Alia tidak sadar bahwa mahkota bunganya sudah habis termakan dan tanpa sengaja tangannya memegang batang dari bunga mawar itu.


"Aw!"


Jari tangannya tertusuk oleh duri yang ada pada batang bunga mawar tersebut sampai berdarah. Dia pun segera mengelap darah itu menggunakan tissue yang ia punya.


Tak lama kemudian Azam datang menghampiri Alia sembari menyodorkan sekuntum bunga Mawar berwarna putih.


"Apa ini?" tanya Alia yang heran melihat sikap Azam.


"Kamu kan tadi makan mawar merah, siapa tahu mau coba yang putih juga"


Ucapan dan ekspresi Azam terlihat sangat serius, jadi Alia pun menanggapinya dan mencoba memakan mahkota bunga mawar yang berwarna putih itu.


"Cih! kok pahit si! nggak enak sama sekali!" ujar Alia sembari membuang beberapa mahkota bunga yang masih ada di dalam mulutnya.


Azam hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Alia yang begitu mudahnya di bohongi.


"Ketawa? kamu ngerjain aku!?" tanya Alia dengan wajah sinis.


"Nggak kok, cuma mau mengingatkan aja, masalah itu nggak akan selesai dengan kamu seperti ini" jelas Azam.


Alia terdiam, dia merasa tidak enak karena Azam selalu saja tahu apa yang sedang ia rasakan dan juga ia alami.


"Oh iya, beberapa bulan ini aku nggak pernah lihat kamu, kemana aja?" tanya Alia untuk mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Aku mengambil alih usaha ternak Abah" jawab Azam dengan singkat.


Karena Abah nya sudah meninggal, maka pesantren dan usahanya pun tidak ada lagi yang mengurus. Azam bercerita bahwa kakak sulungnya sudah mengambil alih untuk mengurus pesantren, jadi mau tidak mau Azam harus bersedia untuk mengurus usaha ternak milik Abah nya.


"Oh begitu, oh ya, ibu kamu sehat? dulu waktu ke rumahmu aku nggak sempat bertemu" imbuh Alia.


Seketika ekspresi wajah Azam berubah jadi murung saat mendengar pertanyaan Alia itu, dia terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Kamu kenapa? ada yang salah sama pertanyaan aku?" Alia kembali bertanya karena Azam hanya diam saja.


"Ibu... ibu sudah meninggal dua bulan yang lalu" ucap Azam pelan.


"Apa? Innalilahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Maaf, aku nggak tahu"


Alia terkejut sekaligus merasa bersalah saat mendengar hal itu, dia sama sekali tidak menyangka jika orang yang duduk bersamanya sekarang sudah menjadi yatim piatu, namun sama sekali tidak pernah menunjukkan kesedihannya di hadapan semua orang. Dirinya menjadi merasa malu karena mengingat masalah yang ia hadapi sekarang bukanlah apa-apa di bandingkan dengan sesuatu yang menimpa Azam.


"Dia bahkan masih bisa tersenyum saat mengalami hal itu? aku sungguh malu pada diriku sendiri" gumam Alia dalam hati.


"Kamu sudah tahu kalau kita satu kelompok?" Azam mencoba mengalihkan pembicaraan agar dirinya tidak lagi mengingat kesedihannya.


"Satu kelompok? kelompok apa?" tanya Alia yang tidak paham karena pikirannya masih kemana-mana.


"What? serius kamu?" Alia kembali terkejut mendengar hal itu, karena sejak kemarin ia sama sekali tidak menghiraukan siapa saja yang satu kelompok dengannya.


Alia langsung pergi tanpa berkata-kata, dia berjalan cepat untuk menemui Afi dan melihat daftar nama kelompok miliknya.


Dari kejauhan Nafisah melihat Alia yang sedang berjalan terburu-buru, dia terus menatap Alia karena merasa heran.


Jika biasanya Alia selalu diikuti oleh beberapa mahluk yang mengerikan dan memiliki aura hitam, namun sekarang malah terdapat mahluk berjubah putih yang memancarkan cahaya putih terang mengelilingi tubuhnya.


"Itu seperti..." Nafisah terus memandangi Alia dengan rasa heran.


"Alia!" teriak Sandra yang melihat Alia berjalan dengan buru-buru.


"Eh Sandra, kenapa?" tanya Alia.


"Kamu udah lihat daftar kelompok kita?"


"Kelompok kita?"

__ADS_1


Sandra menyerahkan selembar kertas yang berisi nama anggota kelompok, lokasi KKN dan juga rangkaian jadwal kegiatan.


Terdapat 10 anggota dalam kelompoknya, 4 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Mereka mendapatkan lokasi yang masih berada dalam kota itu, namun tempatnya cukup masuk ke dalam dan lumayan jauh dari keramaian.


"Ini serius San?" tanya Alia.


"Kenapa?"


"Nggak papa kok"


Alia lalu menyerahkan kertas itu kembali pada Sandra lalu meninggalkannya pergi. Dalam hatinya merasa kurang nyaman.


"Kenapa harus satu kelompok sama Syarifah itu juga si!" gerutu Alia.


*****


Hari H pun tiba, pagi itu semua mahasiswa semester akhir sudah bersiap dengan kelompok mereka masing-masing untuk berangkat ke lokasi KKN.


Alia sudah berpakaian sangat rapi dengan sepatu pantofel hitam, rok hitam dan jas almamater kampus yang berwarna biru muda. Dia juga membawa tas ransel besar yang berisi pakaian, dan peralatan yang akan di butuhkan, begitu juga dengan anggota yang lainnya.


Semua anggota sudah berkumpul di depan kampus kecuali Azam. Dia belum juga datang sampai beberapa anggota lainnya mulai tidak sabar menunggu. Alia hanya terdiam, matanya tidak lepas dari Nafisah, mereka berdua saling bertatapan mata seperti sedang perang telepati.


"Coba kamu telfon San!" pinta Afi.


"Lah aku emang punya nomornya?" ucap Alia merasa heran.


"Oh iya lupa"


"Itu di daftar kelompok kemarin aku sudah minta satu persatu nomor telepon masing-masing kok" imbuh Afi.


Sandra pun mencoba untuk menelpon Azam setelah mendapat nomor teleponnya. Namun tak lama kemudian Azam sudah muncul di hadapan mereka dengan pakaian sangat rapi seperti yang lainnya. Namun yang membedakan adalah peci hitam polos yang selalu terpasang di kepalanya.


Alia dan Nafisah menghentikan perseteruan dingin mereka saat Azam datang, mereka berdua berusaha untuk menutupi sikap masing-masing.


Alia melihat Azam dengan perasaan agak berbeda.


"Kalau di pikir-pikir kayaknya aku belum pernah deh lihat Arrafi nggak pakai peci" gumam Alia dalam hati.


Setelah semua anggota berkumpul, Sandra meminta mereka semua untuk segera berangkat supaya lebih cepat sampai. Di antara sepuluh orang anggota, Sandra merupakan orang yang paling cerewet, berisik dan juga blak-blakan, dia sudah hampir sama seperti seorang induk yang mengawal anak-anaknya.

__ADS_1


Sekitar jam 9 pagi mereka semua berangkat dari kampus menuju ke lokasi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam akhirnya mereka sampai di sebuah desa yang berada di pinggiran kota. Desa itu terletak cukup jauh dari pusat kota dan juga jalan raya, namun akses jalan di sana sudah cukup mudah karena hampir semua jalannya sudah di aspal meskipun tidak ada kendaraan umum yang lewat.


__ADS_2