Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Asap hitam


__ADS_3

 


Sejak hari itu sikap Alia pun menjadi sangat dingin dan cuek kepada Meisya, dia bahkan sempat beberapa kali membalas perlakuan dan ucapan kasar Meisya kepadanya.


 


Beberapa bulan berlalu, hubungan Alia dan Meisya menjadi semakin buruk, kini bahkan semua teman sekelasnya sudah tahu tentang permusuhan Alia dan Meisya.


Meisya juga sudah tahu bahwa Alia memiliki kemampuan bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus namun dia tidak berani mengatakannya kepada siapapun karena Alia yang menekannya supaya tidak bicara kepada siapapun.


Meskipun kemampuan Meisya sangat jauh dibawah Alia, namun dia tetap tidak mau mengalah begitu saja, rasa bencinya terhadap Alia menjadi semakin besar, tetapi kini dia sudah tidak berani lagi menyombongkan kemampuannya itu di hadapan Alia.


Mereka berdua sama sekali tidak pernah akur bahkan saat mendapat tugas satu kelompok.


Sementara itu hubungan Alia dengan Irfan kini menjadi agak renggang karena mereka sangat jarang sekali bertemu, namun Alia sangat memaklumi karena Irfan kini sedang memasuki semester akhir, jadi pasti sangat banyak sekali tugas yang harus di kerjakan, terlebih lagi dia juga harus melakukan persiapan untuk KKN.


Meskipun sudah jarang memiliki waktu untuk bertemu, namun komunikasi mereka melalui ponsel masih tetap lancar, dan hal itu yang membuat Meisya semakin iri kepada Alia, karena diam-diam Meisya memang sangat menyukai Irfan. Hal itulah yang membuat Meisya sangat membenci Alia dan ingin melukainya, namun sampai sekarang Alia masih belum sadar akan hal itu.


______-_____


Hari itu adalah hari terakhir rapat persiapan kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Alia mengikuti rapat di ruang KRS meskipun dia masih libur semester, namun ia harus tetap datang ke kampus untuk sekedar mengikuti rapat dan melakukan persiapan.


Setelah selesai rapat Alia bertugas untuk menyerahkan beberapa berkas kegiatan kepada dosen yang bertanggungjawab. Kali ini kebetulan yang menjadi penanggungjawab adalah Pak Yahya lagi, dosen yang juga bertanggungjawab saat Alia melakukan ospek dulu.


Begitu masuk ke gedung rektorat, terlihat ada beberapa calon mahasiswa baru yang masih melakukan administrasi dan menyerahkan berbagai persyaratan terakhirnya. Dari kejauhan Alia melihat Azam sedang berdiri dengan seorang perempuan yang sepertinya calon mahasiswa baru juga, namun Alia tidak bisa melihat wajah perempuan itu karena posisinya membelakangi Alia. Ada sesuatu yang menarik perhatian Alia yaitu sekelebat asap hitam yang mengelilingi Azam, seolah-olah itu merupakan pertanda buruk.


"Astaghfirullah... apa itu? sudah beberapa bulan sejak aku melihat hal seperti itu" Alia bergumam dalam hati.


Beberapa bulan yang lalu Alia juga melihat hal semacam itu dan mempunyai firasat buruk, namun ia bersyukur karena sampai sekarang tidak terjadi apa-apa. Tapi kali ini ia melihatnya lagi dan hatinya kembali merasa tidak tenang, seolah-olah akan ada kegelapan yang menyelimuti Azam.


"Duh kenapa hatiku jadi tidak tenang seperti ini yah? sebenarnya pertanda apa ini?" Alia bertanya-tanya dalam hati.


Ia kemudian teringat bahwa harus memberikan beberapa berkas kepada pak Yahya. Alia pun segera menuju ke ruangan pak Yahya, setelah itu ia segera keluar dan bergegas untuk pulang.

__ADS_1


_____-----_____


Sesampainya di rumah ia heran karena melihat adiknya sedang sibuk dengan beberapa berkas yang berantakan di meja ruang tamu.


"Astaghfirullah dek! kamu itu lagi ngapain si kok berantakan begini?" teriak Alia.


"Aduh kakak apaan si pulang-pulang langsung marah-marah! aku ini lagi siapin berkas persyaratan terakhir buat di serahkan ke kampus!"


"Emang kamu jadinya masuk kemana?"


"Kampus kakak!"


"What? serius kamu?"


"Ya! meskipun nggak dapat beasiswa tapi seenggaknya aku lolos jalur undangan, jadi udah nggak perlu tes masuk lagi!" jelas Sita dengan nada cueknya.


"Syukurlah kalau gitu"


"Sebenarnya aku ingin masuk yang di luar kota, udah lolos jalur undangan juga"


"Biayanya mahal! jadi aku nurut Mama deh buat masuk ke kampus kakak yang dekat"


Alia hanya tertawa menanggapi ucapan adiknya itu. Dia senang karena adiknya bisa berkuliah di kampus yang sama dengannya, jadi lebih memudahkan jika ada apa-apa. Alia juga dapat selalu membantu adiknya jika sewaktu-waktu butuh bantuan.


*****


Seminggu kemudian para calon mahasiswa baru yang sudah diterima, diminta untuk datang ke kampus guna membahas segala sesuatu yang harus di bawa saat kegiatan ospek. Alia juga datang karena dirinya termasuk panitia, ia berangkat pagi-pagi sekali karena harus membantu yang lain menyiapkan ruangan terlebih dahulu.


Pagi itu entah kenapa hatinya merasa gelisah sekali, saat ia melihat Azam yang sedang berjalan menuju ke auditorium, lagi-lagi ia juga melihat sekelebat bayangan hitam yang mengelilingi tubuh Azam. Asap hitam itu terlihat lebih tebal dari kemarin.


"Ya Allah sebenarnya ada apa ini? kenapa aku kembali melihat hal itu?" gumam Alia dalam hati.


Tadinya Alia berniat untuk menghampiri Azam dan menanyakan apakan dia baik-baik saja atau tidak, namun langkah Alia terhenti ketika seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Alia, kamu jaga di depan dan suruh mereka isi daftar hadir!"


Tiba-tiba Meisya datang menghampiri Alia, dia bicara dengan sangat cuek dan menyerahkan buku daftar hadir dengan sangat kasar kepada Alia.


"Wah benar-benar itu orang, sengaja nyuruh aku yang jaga di luar!" Alia menggerutu karena kesal, namun karena daftar hadirnya sudah ia pegang, jadi mau tidak mau dia duduk di depan menunggu calon mahasiswa baru datang untuk mengisinya.


Tak lama kemudian para calon mahasiswa baru mulai berdatangan, mereka semua mengisi daftar hadir sebelum masuk ke ruang auditorium tak terkecuali Sita, adiknya Alia.


Sekitar jam 10 tepat acara pun di mulai, tadinya Alia hendak beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan untuk bergabung dengan yang lainnya, namun dari kejauhan terlihat seorang anak perempuan yang berjalan dengan terburu-buru.


"Assalamualaikum kak, maaf saya agak terlambat" nafas anak itu masih tersengal-sengal karena sepertinya dia habis berlari-lari.


"Oh nggak papa kok, acara juga baru mau di mulai, oh ya isi daftar hadir dulu"


Alia kembali meletakkan buku itu di atas meja dan membiarkan anak perempuan itu menuliskan namanya.


"Nama lengkap yah, sama asal sekolah terus tanda tangan di sini" jelas Alia sembari menunjuk ke sebuah kolom di bagian samping.


"Udah kak"


"Kalau gitu silahkan masuk"


"Makasih kak, saya permisi dulu"


Alia tersenyum ramah kepada anak perempuan itu, entah kenapa hatinya merasa tidak asing dengan kelembutan dan suaranya.


Alia kembali membuka buku yang ia pegang dan melihat nama dari anak perempuan tadi.


"Latifatul Husna, nama yang bagus, sebagus wajah dan sikapnya" gumam Alia dalam hati.


Setelah menunggu lebih lama lagi, sepertinya sudah tidak ada lagi yang datang, jadi Alia segera masuk dan bergabung dengan panitia yang lainnya.


Alia berdiri di bagian paling belakang saat ketua panitia sedang memberikan sambutannya, lagi-lagi dia kembali melihat sekelebat bayangan hitam mengelilingi seseorang, namun kali ini bukanlah Azam, melainkan anak perempuan yang terakhir kali ia lihat tadi.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa ini? apa mataku ini mulai bermasalah sehingga terus melihat bayangan hitam itu?" Alia berucap dalam hati.


__ADS_2