Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Petunjuk mimpi


__ADS_3

Alia dan Afi masih duduk di kantin. AFI sibuk dengan makanan dan minumannya, sementara Alia masih saja melamun, di masih saja penasaran dengan sosok Chika yang tadi ia lihat. Jika yang tadi itu benar\-benar Chika, lalu siapa yang ia tangkap kemarin.


"Al kamu nggak makan?" tanya Afi.


"Nggak lah kamu aja"


"Kenapa si? masih mikirin yang tadi?"


Alia hanya terdiam, pandangan matanya terus mengarah ke taman dekat parkiran.


Di tengah pikirannya yang sedang tidak karuan, tiba-tiba dia mendapat pesan singkat dari Sandra, isinya tentang pemberitahuan bahwa jam kuliah selanjutnya di undur esok hari karena dosen ada keperluan mendadak.


"SMS dari siapa Al, kok muka kamu jadi kusut gitu?" tanya Afi.


"Dari teman, jam kuliah nanti di undur besok!" Alia menjawab dengan ketus karena agak kesal.


"Terus kenapa? seneng dong sekarang bisa pulang cepat?"


"Ya seneng, tapi besok kan Minggu Fi, ya aku ingin istirahat lah, masih aja harus berangkat" jelas Alia.


"Ya udah si terima aja, mendingan sekarang kamu pulang sana, daripada di sini mukanya lusuh terus kaya gitu!"


"Kamu ngusir?"


"Ya bukannya ngusir, tapi kan udah nggak ada jam kelas? terus mau ngapain? ngejar-ngejar setan lagi?"


"Ah udahlah aku pulang!"


"Yah, dia ngambek"


Alia beranjak bangun dari tempat duduknya dan berniat untuk segera pulang. Dia juga sudah sangat penasaran dengan gelang kayu yang ia simpan di lemarinya.


Saat sampai di rumah Alia langsung membuka lemari bajunya dan mengeluarkan kotak kayu yang ada di dalam laci lemari.


Perlahan ia membuka kotak kayu itu dan menemui bahwa gelang kayu milik Afi masih berada di dalam kotak itu.


"Gelangnya masih ada, tapi kok..."


Karena masih penasaran akhirnya Alia mengambil gelang itu dan menggenggamnya, perlahan-lahan rasa panas dari gelang itu kembali mengalir ke tangannya dan tanpa sadar Alia langsung melempar gelang itu ke lantai.


"Astaghfirullah, kok panas lagi, apa itu berarti sosok itu masih ada di dalam gelang ini? terus yang aku lihat tadi siang itu apa?"


Dengan pelan Alia mengambil gelang itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak kayu miliknya.

__ADS_1


*****


Keesokan paginya Alia sedang bersiap untuk berangkat ke kampus, seperti biasa dia selalu berdiri di depan cermin untuk menggunakan kerudung. Tiba-tiba saja dia teringat bahwa semalam telah memimpikan sesuatu, dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang laki-laki yang akan bisa membantu dirinya menghilangkan rasa penasaran yang sejak kemarin memenuhi pikirannya.


"Kok mimpinya agak aneh yah? nggak biasanya aku mimpi seperti itu" gumam Alia dalam hati.


"Alia sarapan dulu nak..." teriak Bu Mia dari luar.


"Iya Mah sebentar lagi" Alia segera menyelesaikan memakai kerudung dan keluar kamar untuk sarapan pagi.


Setelah selesai sarapan Alia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil gelang kayu yang ia simpan. Alia sengaja membawa gelang itu karena mungkin saja ada yang bisa membantunya menemukan jawaban dari pertanyaan yang sejak kemarin menghantuinya, seperti yang dimimpikan semalam.


Begitu selesai bersiap, Alia segera menyalakan motornya dan bergegas untuk berangkat ke kampus.


Seperti biasa, dia memarkirkan motornya di parkiran dan berjalan menuju ke kelas.


"Assalamualaikum Ragasy?"


Tiba-tiba saja Azam menyapa Alia yang sedang asyik berjalan sendirian hendak menuju ke kelasnya.


"Eh Arrafi? Walaikumsalam, kamu ada jadwal kuliah juga hari ini?" tanya Alia.


"Enggak, hari ini kan ada kegiatan keagamaan, apa kamu lupa?"


"Oh iya iya nggak papa"


Tiba-tiba Alia teringat mimpinya tentang seseorang yang bisa membantunya, Alia mulai berpikir bahwa orang itu mungkin saja Azam, terlebih lagi Azam juga sangat paham dengan hal-hal semacam itu.


"Em Arrafi aku boleh nanya nggak?"


"Apa?"


Alia membuka tasnya dan mengambil gelang kayu yang ia simpan di dalamnya, lalu memberikan gelang itu kepada Azam.


Azam langsung menerima gelang itu, namun begitu ia menyentuh gelangnya, raut wajahnya langsung berubah karena mengetahui bahwa terdapat aura negatif dalam gelang itu.


Azam masih terdiam dengan gelang yang berada di tangannya, dia merasa heran terhadap Alia, kenapa dia bisa menyimpan gelang itu padahal aura negatif dalam gelang itu sangat berlawanan dengan Alia dan terlihat sangat ingin menyerangnya.


"Kamu... kenapa bisa simpan gelang ini?" tanya Azam.


"Itu gelangnya Afi, tapi yang ada di dalamnya itu memang aku yang masukin kemarin, soalnya dia mau nyerang aku" jelas Alia.


"Menyerang kamu?"

__ADS_1


Alia hanya mengangguk, dan Azam kembali terdiam sembari menatapi gelang itu, karena yang ia pikirkan sejak pertama melihat gelang itu ternyata memang benar.


"Bisa kasih tahu nggak kenapa dia kelihatan benci banget sama aku?" tanya Alia.


"Kamu punya masalah atau dendam sama orang?" Azam malah balik bertanya.


"Masalah? dendam? nggak ada kok, lagian kan aku nggak pernah bikin masalah sama orang"


"Alia!"


Tiba-tiba saja Irfan memanggil Alia dari kejauhan dan langsung menghampirinya.


"Eh kakak?"


"Kalian ngapain di sini?" tanya Irfan.


"Oh nggak ngapa-ngapain kok, tadi kebetulan papasan aja, ya udah aku permisi dulu yah, assalamualaikum"


"Walaikumsalam..."


Azam pun segera pergi meninggalkan Alia dan Irfan, dia tidak ingin Irfan salah paham terhadapnya dan juga Alia.


"Sayang kamu mau ke ruang organisasi keagamaan yah? bareng yuk" ucap Irfan.


"Em enggak kak, kebetulan hari ini aku ada kelas jadi nggak bisa ikutan" jawab Alia.


"Oh gitu yah, ya udah ayo aku antar ke kelas"


Alia mengangguk, mereka berdua pun segera berjalan menuju ke ruang kelas Alia. Setelah mengantar Alia, Irfan pun segera pergi menuju ke ruang organisasi keagamaan.


_____-----_____


Sementara itu Azam masih berjalan dengan pelan sembari terus memegangi gelang kayu yang di berikan oleh Alia tadi. Hatinya masih tidak tenang sebelum ia bisa mengetahui mahluk apa yang berada di dalamnya.


"Aura ini jelas sekali aura yang sangat negatif, dan ini sengaja dikirim seseorang untuk menyerang kamu Ragasy!" Azam terus bergumam dalam hati.


Azam mencoba mencari tahu siapa orang yang sengaja mengirimkan mahluk itu untuk menyerang Alia, karena setahu dia selama ini jarang ada orang yang sangat membenci Alia, kecuali satu, yaitu Nafisah.


"Apa mungkin itu Nafis? tapi sepertinya tidak mungkin Nafis melakukan hal seburuk ini"


Azam masih bertanya-tanya dalam hati, dia sempat mencurigai Nafisah, namun setelah dia melihat lebih dalam, aura negatif yang berada dalam gelang itu sangat berbeda sekali dengan aura yang dimiliki oleh Nafisah, jadi pasti bukan Nafisah lah orangnya, terlebih lagi, aura negatif itu juga terlihat memiliki tingkat yang sangat rendah, tapi karena dipenuhi dengan dendam maka bisa dengan mudah menjelma dan menyerang dengan tiba-tiba.


"Sungguh tercela sekali hati orang yang melakukan hal ini" ucap Azam pelan.

__ADS_1


__ADS_2