
Suara adzan subuh mulai berkumandang, Alia menengok ke arah jam tangannya.
"Wah sudah pagi, ayo bangunkan panitia yang lain"
Alia beranjak dari tempat duduknya, bergegas untuk membangunkan yang lain agar segera menuju ke masjid dan melaksanakan sholat subuh berjamaah.
"Sebaiknya kamu jangan membawa batu itu kemana\-mana" ucap Azam lalu pergi.
"Siapa juga yang membawa nya, orang ini muncul sendiri di saku rok aku kok!" Alia berguman pelan sambil terus berjalan pergi.
Alia masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Mayra yang masih tertidur pulas.
"May bangun May! udah subuh!"
Alia menggerakkan tubuh Mayra sampai beberapa kali hingga akhirnya dia terbangun.
Setelah itu mereka membangunkan yang lain lalu pergi menuju ke pesantren.
Setelah selesai mengikuti sholat subuh berjamaah Alia langsung menuju ke kamar Nida dan membaringkan tubuhnya.
"Da aku mau tidur bentar yah, semalem ngga tidur beneran!"
"Habis subuh kok tidur!" ucap Nida agak keras, namun sepertinya Alia sama sekali tidak menghiraukan.
"Udah biarin aja Da, semalem dia emang capek" imbuh Mayra.
Hari itu adalah hari minggu, acara kembali di lanjutkan dan di mulai jam 7 pagi. Alia masih tertidur pulas di kamar Nida sementara Mayra sudah pergi ke sekolah untuk membantu kegiatan lapangan.
Saat Alia terbangun ternyata sudah jam 9, dia bergegas untuk mandi lalu pergi ke sekolah.
"Da aku pergi dulu yah" Alia berpamitan sembari terus berjalan keluar.
"Ngga sarapan dulu?" tanya Nida.
"Ngga!"
Alia terus berjalan memasuki sekolah dan menuju ke parkiran, dia meraih kunci motor dan menyalakan nya.
__ADS_1
"Alia kamu mau kemana?"
Mayra tiba-tiba mendekati Alia yang sedang memanasi motornya.
"Pulang"
"Eh yang bener? ngga bantu sampai penutupan?"
"Ngga ah, aku ngantuk mau tidur! kamu pulang sendiri dulu yah"
Alia pun menaiki motornya dan pergi meninggalkan Mayra, dia bergegas untuk pulang karena ingin memastikan sesuatu.
"Eh bukannya dia baru bangun?" Mayra bergumam sembari menatap Alia yang mulai pergi menjauh.
_____-----_____
Begitu Alia sampai dirumah, dia langsung mencari mamanya, Alia sudah mencari ke seluruh ruangan di rumahnya namun ternyata mamanya memang tidak ada di rumah.
"Mama kemana de?"
Alia bertanya kepada Sita yang sedang sibuk bermain ponsel di kamarnya.
"Tadi bilangnya ke pasar, tau deh jam segini belum pulang juga"
Alia akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat dan membaringkan tubuhnya, tanpa sadar ia pun terlelap.
Setelah lama tertidur Alia akhirnya bangun dan kembali mencari mamanya.
"Alia kamu udah bangun? makan dulu ayo"
Alia akhirnya mendapati mamanya yang sedang duduk di kursi meja makan dan sendirian. Alia masih terdiam dan duduk di samping mamanya.
"Kamu kenapa nak?"
Tanya bu Mia yang heran melihat anaknya hanya duduk diam.
"Mah aku boleh nanya sesuatu ngga?"
"Apa sayang? ngomong aja"
Alia lalu bangun dari duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk mencari sesuatu, sudah cukup lama Alia mencari benda itu namun belum juga ketemu. Bu Mia yang semakin penasaran akhirnya menghampiri Alia ke kamarnya, dan tak lama kemudian Alia menemukan benda yang sedang ia cari.
"Mama tahu ini?"
__ADS_1
Alia menyodorkan tangan kanannya yang terdapat sebuah batu putih kecil diatas telapak tangannya. Bu Mia terdiam sejenak lalu menggenggam tangan Alia.
"Kamu dapat dari mana benda ini nak?"
"Kemarin pas aku beresin kamar, nemu ini di pojokan" jelas Alia.
Bu Mia menatap dalam Alia, dia merasa sudah tidak bisa menutupi hal yang seharusnya di ketahui oleh Alia.
Perlahan bu Mia mulai menjelaskan semuanya pada Alia.
Hal itu bermula ketika dulu bu Mia masih bekerja di luar kota, waktu itu bu Mia pulang hanya bersama dengan Sita yang masih kecil, dia membawa beberapa barang berharga dan juga uang, bu Mia dan Sita sampai di Terminal kota pagi-pagi sekali dan belum ada banyak orang, tiba-tiba ada sekelompok orang yang mulai menodongkan pisau kepada bu Mia dan Sita, dia mengambil semua barang berharga dan juga uang yang dibawa oleh bu Mia. Ada beberapa orang yang melihat hal itu, namun tak seorangpun yang berani menolong karena perampok itu terdiri dari lima orang dan masing-masing memegang pisau.
Saat itu bu Mia hanya bisa pasrah ketika semua hasil kerja kerasnya di rampas orang, dia pulang dengan tangan kosong, tanpa sepeserpun uang, beruntung nya ada orang baik yang mau mengantarkan mereka sampai ke dekat rumah.
Mendengar cerita itu, semua orang di rumah masih bersyukur karena orang jahat itu tidak melukai bu Mia dan Sita yang masih kecil, dan hari berikutnya mbah Arsa pun memberikan batu itu sebagai pegangan untuknya, atau bisa juga di sebut sebagai jimat.
Jimat itu di percaya memiliki banyak manfaat baik bagi pemiliknya, seperti melindungi diri dari orang yang berniat jahat, dan bisa juga di gunakan untuk melancarkan berbagai usaha, dan sejak saat itu bu Mia tidak lagi bekerja di kota, ia hanya berjualan baju keliling di desanya, dan usaha itu cukup lancar, namun lama kelamaan bu Mia mulai sadar bahwa hal itu sama saja dengan syirik, setelah mbah Arsa meninggal bu Mia mulai mencoba untuk menghilangkan batu itu, dia membuang nya jauh-jauh namun tak lama kemudian batu itu kembali berada di dalam rumahnya.
Bu Mia juga pernah memberikan batu itu kepada adiknya, dan di lemparkan ke sungai yang sangat jauh dari rumah bu Mia, namun batu itu tetap saja kembali berada di dalam rumah. Bu Mia juga pernah meninggalkan batu itu di luar kota, dan selama beberapa tahun ini batu itu sudah tidak pernah muncul lagi, tapi ternyata selama ini batu itu ada di bawah ranjang tempat tidur Alia.
"Jadi ini benaran milik sesepuh aku?"
Alia kembali teringat ucapan Azam semalam tentang batu itu, dan ternyata setiap kata yang diucapkan oleh Azam memang selalu benar.
"Mama jadi ingat sama pesan mbah Arsa"
"Pesan apa mah?" tanya Alia penasaran.
"Benda itu akan selalu kembali pada pemiliknya"
Alia terdiam dan menyerahkan batu itu kepada bu Mia. Dia meminta mamanya untuk menyimpan kembali benda itu karena Alia sangat tidak ingin memegang benda itu lagi. Bu Mia sangat mengerti tentang bagaimana perasaan putrinya itu, jadi tanpa banyak bicara ia langsung mengambil batu itu dan membawanya jauh dari Alia.
Alia duduk di atas kasurnya, dia kembali memikirkan semua hal yang terjadi kepadanya.
"Kenapa? kenapa harus aku!?"
Alia terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri sambil memukuli kepalanya, tak lama kemudian muncul asap putih yang begitu tebal di pojokan kamarnya dan mulai berwujud, wujud itu mulai terlihat, dia adalah sosok perempuan yang cantik, dia lalu tersenyum kepada Alia.
"Kamu?"
"Itu semua adalah takdir, jangan pernah kamu mencoba untuk lari!"
__ADS_1
Sosok itu adalah Mawar, perempuan cantik yang selalu muncul saat Alia merasa benar-benar putus asa. Dia selalu mampu membuat Alia merasa lebih tenang hanya dengan sedikit kata-katanya.
Note: Batu putih kecil yang menyala itu benda yang sangat spesial, tidak semua orang awam bisa melihatnya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat wujud asli dari batu itu.