
Fahmi terdiam sejenak, dia sedang memahami isyarat dari ekspresi wajah Alia itu. Alia melihat ke arah jam tangannya dan ternyata sudah jam 3 sore, dia pun bergegas untuk meminta semuanya naik ke dalam bus dan kembali ke sekolah.
Bus itu berhenti di depan gerbang MA sekitar jam empat lebih dan semua peserta yang tinggal di pesantren diminta untuk segera masuk ke wilayah pesantren, sedangkan yang lain diperbolehkan untuk pulang.
Karena hari sudah semakin sore Alia pun berpamitan kepada Fahmi untuk pulang lebih dulu.
_____------_____
Malam harinya seperti biasa setelah sholat isya Alia duduk di lantai dan bersandar pada dinding kamarnya sambil membaca buku, namun tiba-tiba Alia menjadi hilang fokus saat sosok bayangan dengan jubah hitam itu kembali muncul di hadapan Alia.
Alia sebenarnya sangat penasaran siapa sebenarnya sosok itu, dia juga ingin melihat bentuk wajahnya, namun lagi-lagi bagian wajahnya terlihat sangat samar dan hanya terlihat seperti bayangan hitam saja.
Alia meletakkan buku yang sedang ia baca, dengan tetap tenang ia bahkan tidak mencoba untuk bangun dari duduknya.
Alia meletakkan telapak tangan kanannya di lantai, mencoba merasakan aura dari sosok yang sedang berdiri di hadapannya sekarang, namun yang ia rasakan hanyalah hawa dingin sampai menembus tulang di tubuhnya.
Perlahan Alia menarik kembali tangan kanannya dari lantai dan digenggam oleh tangan kirinya.
"Siapa sebenarnya kalian? apa tujuan kalian terus mengikuti saya?"
Alia berkata dalam hati sambil memejamkan matanya dan meletakkan kedua tangannya menempel pada dadanya.
Tidak ada satu katapun yang terdengar olehnya, tak ada sedikitpun jawaban yang sudah sangat ingin ia dengar, namun tiba-tiba sesuatu merasuk ke dalam pikirannya seolah itu menjadi jawaban dari semua pertanyaan Alia.
Alia membuka kedua matanya dengan cepat dan ternyata sosok bayangan hitam itu sudah tidak ada.
"Sebenarnya apa maksudnya itu?"
Alia berucap pelan pada dirinya sendiri. Dia mencoba keluar dari kamarnya dan duduk di teras depan rumah sembari menghirup udara dingin di luar rumah. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang seakan-akan dia mempunyai beban yang belum ia selesaikan.
Tak lama kemudian pak Aji pun keluar dan menghampiri Alia karena penasaran apa yang sedang dilakukan putrinya malam-malam di depan rumah sendirian.
"Eh Papa..."
__ADS_1
"Kamu ngapain duduk di sini sendirian, tumben?"
"Oh nggak papa kok Pah"
Alia berusaha untuk menutupi hal yang sedang ia rasakan sekarang, namun Pak Aji adalah Papa nya, jadi dia paham betul apa yang sedang di rasakan oleh anaknya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saja.
"Cerita sama Papa" pinta Pak Aji.
"Em itu Pah..."
Perlahan Alia mulai menceritakan tentang perjalanannya ke gunung tadi siang, dia juga memberitahu kepada Papa nya tentang semua hal yang ia alami bahkan sampai sekarang.
Pak Aji hanya mengangguk paham ketika Alia begitu antusias menceritakan semua pengalamannya itu.
"Jadi soal sosok bayangan hitam itu..."
Alia mulai ragu untuk melanjutkan ucapannya mengenai sosok bayangan hitam tadi.
"Jadi sosok itu meminta tolong sama kamu kan?"
Alia mengangguk, seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi resah, entah kenapa sesuatu itu bisa langsung merasuki pikirannya begitu dalam. Tadinya ia mengira bahwa itu hanyalah sebuah terkaan yang tiba-tiba muncul di pikirannya, namun Pak Aji mencoba untuk menjelaskan bahwa seperti itulah cara mereka berkomunikasi menggunakan telepati. Tanpa ada ucapan, suara ataupun tindakan, namun begitu jelas dan dapat dimengerti, hal itu tentunya hanya bisa dilakukan dengan sesama orang yang memiliki ilmu batin saja.
"Ya Pah..." jawab Alia pelan.
"Papa kasih tahu yah, roh atau arwah ataupun mahluk yang benar-benar tidak memiliki niat jahat itu tidak akan bicara ataupun bersuara, dia hanya akan menampakkan dirinya, itupun hanya sebentar, mereka jelas tidak berbicara menggunakan bahasa manusia, kecuali saat mereka merasuk ke dalam tubuh manusia" jelas Pak Aji.
"Tapi aku merasa mereka terlalu berlebihan dengan mengikuti aku sampai ke sini Pah"
"Memang apa yang mereka mau?"
Alia memberitahu Papanya bahwa sekelompok bayangan berjubah hitam itu meminta Alia untuk menyapu bersih halaman dari bangunan gubug kecil yang berada di puncak gunung yang ia datangi tadi siang.
"Kamu paham apa artinya itu Alia?"
Alia mengangguk, perasaannya menjadi semakin terbebani dengan pikiran itu, pasalnya ia merasa bahwa permintaan itu terlalu berat bagi Alia yang hanya seorang gadis biasa dan tidak punya pengaruh apa-apa. Menyapu bersih halaman gubug tadi artinya sama dengan membersihkan semua keburukan yang sudah terlanjur mendarah daging di hati dan pikiran manusia musyrik yang selalu menyembah petilasan itu untuk mendapatkan keinginan dengan cara yang instan.
Memang pada dasarnya petilasan itu sebuah tempat yang suci, keramat dan juga di hormati, namun karena begitu banyaknya hati manusia yang sudah terpengaruh oleh ucapan iblis sehingga mereka malah menyembah dan mengagungkan tempat itu sebagai sarana untuk meminta-minta.
__ADS_1
Sebenarnya bukanlah pemilik asli dari petilasan itu yang sudah mengabulkan semua permintaan para manusia yang rela memberi syarat tertentu, namun itu semua adalah ulah dari mahluk terkutuk yang sudah berhasil menyesatkan manusia.
"Alia nggak mungkin bisa melakukan semua itu Pah, Alia kan bukan siapa-siapa, hanya orang biasa yang kebetulan berkunjung ke sana" ucap Alia dengan pelan.
"Nak bukankah kamu punya Tuhan? kenapa kamu tidak bertanya kepada Tuhan bagaimana keputusan yang terbaik?"
Alia hanya terdiam, seketika ia merasa sangat tersentuh hatinya karena ucapan Papa nya itu.
"Dan lagi semua keputusan ada di tangan kamu, kamu bersedia atau tidak itu terserah kamu nak" imbuh Pak Aji.
"Makasih Pah, Alia sekarang merasa lebih baik"
Alia bicara sambil tersenyum kepada Pak Aji. Selama ini Alia memang selalu bisa mendapatkan solusi atas segala masalah yang ia miliki itu dengan bercerita kepada Papa nya.
Suasana malam itu kebetulan terang bulan, jadi memang sangat nyaman untuk duduk dan mengobrol sambil menikmati keindahan bulan purnama yang sedang bersinar penuh. Suara jangkrik yang terus berbunyi juga menjadi teman mereka mengobrol di malam itu.
Mereka berdua masih asyik mengobrol, bersenda gurau antara ayah dan putrinya, dan tiba-tiba Bu Mia datang membawakan secangkir kopi dan teh hangat untuk Alia dan Pak Aji.
"Sambil minum yah biar nggak kedinginan" ucap Bu Mia sembari meletakkan dua cangkir berisi minuman hangat tersebut.
"Wah Mama pengertian sekali, kebetulan Papa lagi haus" ucap Pak Aji sambil tersenyum menggoda istrinya.
Bua Mia hanya diam lalu kembali masuk ke dalam.
"Loh Mama nggak mau ikut ngobrol di sini?" tanya Alia.
"Nggak lah, Mama ngantuk."
Bu Mia pun masuk ke dalam dan menutup pintu rumah.
"Jadi bagaimana Alia?" tanya Pak Aji sembari meraih secangkir kopi panas dan menyeruputnya.
"Emmm masih bingung juga si Pah" jawab Alia agak ragu.
"Papa punya cerita, kamu mau dengar nggak?" tiba-tiba ucapan Pak Aji mengalihkan pikiran Alia yang sedang sedikit melamun.
"Cerita tentang apa Pah?" jawab Alia penasaran.
__ADS_1
...........................