Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Firasat yang nyata


__ADS_3

 


Afi meminta Alia untuk segera mengambil tempat duduk karena acara akan segera di mulai. Sekitar jam 8 pagi acara pun di mulai, seperti biasa acara itu di mulai dengan sambutan yang di isi oleh Azam selaku ketua organisasi yang baru.


 


Selama acara berlangsung Alia hanya diam sambil melamun tanpa memperhatikan orang yang sedang bicara di depan.


"Al kira-kira ini acara selesai jam berapa?" tanya Afi.


Alia hanya diam saja, dia tidak mendengar Afi bicara karena masih melamun.


"Yah... kebiasaan banget si! mikirin apa coba?"


Afi akhirnya mencubit tangan Alia dan membuatnya kaget.


"Apaan si Fi? sakit tahu!!"


"Ya abis, dimana-mana melamun terus, mikirin apa?"


"Fi, kira-kira kalau dia bohong sama aku, alasannya apa yah?"


Alia bicara dengan pandangan mata kosong, pikirannya melayang entah kemana meskipun badannya sedang berada di sebelah Afi.


"Maksudnya semalam kamu nggak jadi nonton sama si Irfan?"


Alia hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang masih murung.


"Oh pantas saja dari tadi cemberut terus. Atau jangan-jangan dia selingkuh lagi!"


"Hus! jangan ngarang kamu! dia nggak mungkin!"


"Yah mungkin aja kali, namanya juga cowok"


Alia hanya terdiam, dia sempat terfikir bahwa ucapan Afi mungkin ada benarnya, tapi hatinya masih menolak akan pendapat itu. Dia hanya bisa memastikan jika Irfan masih baik-baik saja maka ucapan Afi itu salah, tapi jika sebaliknya, maka mau tidak mau Alia pun harus mengakui.


Alia melihat ke arah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi, perasaannya masih gelisah memikirkan Irfan yang masih saja belum ada kabar sama sekali.


Drrrttttt... drrrrrttt...


Tiba-tiba ponsel Alia bergetar, dia melihatnya ada panggilan masuk tetapi dari nomor yang tidak di kenal.


"Siapa yang telfon Al?" tanya Afi penasaran ketika Alia hanya mengabaikan panggilan yang masuk.


"Tau tuh, nomornya aku nggak kenal!"


"Angkat aja kali, siapa tahu penting"


"Ah males ah!"


Alia meletakkan ponselnya ke dalam tas agar dia tidak bisa terus melihat panggilan masuk itu, namun selang beberapa waktu ponsel Alia kembali bergetar dan tidak berhenti.

__ADS_1


"Coba angkat aja Al, siapa tahu penting" Afi kembali menyarankan Alia untuk mengangkat panggilan masuk itu.


Alia pun akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya, dia meminta izin untuk keluar ruangan sebentar.


"Halo assalamualaikum" Alia bicara lebih dulu.


"Walaikumsalam Alia, gimana keadaan Irfan?"


"Maksudnya apa yah? ini siapa?"


Alia heran saat mendengar suara laki-laki di dalam telepon menanyakan hal yang sama sekali ia tidak mengerti.


"Aku Lana, Irfan gimana? udah sadar belum?"


Alia semakin heran mendengar pertanyaan dari balik telepon itu.


"Hei kok diam aja si?"


"Emang Irfan kenapa?"


"Loh kamu nggak tahu ya? Irfan kan kecelakaan semalam, dan di rawat di rumah sakit"


"Enggak, nggak tahu. Kamu bohong kan?"


Alia mencoba untuk tenang, dia berpikir bahwa Irfan mungkin menyuruh temannya untuk menjahili Alia supaya ia bisa melupakan kemarahannya terhadap Irfan.


"Serius nggak tahu? kamu kan pacarnya?"


"Terus emang kenapa kalau aku pacarnya? aku nggak peduli tuh, udahlah kamu jujur aja, kamu di suruh sama Irfan kan buat kerjain aku, biar aku khawatir dan maafin dia?"


Seketika perasaan Alia mulai panik saat mendengar ucapan Lana yang terdengar sangat serius.


"Kamu beneran nggak bohong?" Alia mencoba meyakinkan.


"Kalau nggak percaya datang aja ke RSUD, nanti aku kirimkan nama ruangan sama nomornya"


"Oh ya udah cepat kirimkan, aku tunggu"


Alia langsung mematikan telepon nya dan kembali ke dalam ruangan. Dia duduk di samping Afi dengan wajah yang sangat cemas.


"Kenapa kamu?" tanya Afi.


"Fi menurut kamu gimana?"


Alia menceritakan tentang kebohongan yang di lakukan Irfan semalam, dan juga tentang kabar yang ia terima dari teman Irfan tadi.


Alia masih bingung harus percaya atau tidak karena hatinya masih agak marah dengan perlakuan Irfan semalam.


"Ya udah kalau nggak percaya biarin aja si!" ujar Afi.


"Tapi perasaan aku nggak enak Fi, gimana kalau bener?"

__ADS_1


"Ya udah samperin aja"


"Tapi..."


"Ah kebanyakan mikir deh! terserah kamu aja lah!"


Afi bicara dengan nada tinggi karena mulai kesal dengan sikap Alia yang tidak bisa tegas saat menghadapi Irfan.


Akhirnya Afi yang meminta izin pada ketua panitia acara dan pergi bersama Alia menuju ke rumah sakit.


Lokasi rumah sakit dengan kampus mereka cukup dekat, hanya sekitar 20 menit jika menggunakan sepeda motor.


Alia membawa motor dengan penuh rasa gelisah, dia masih setengah percaya bahwa Irfan benar-benar mengalami kecelakaan.


"Al kita udah sampai nih, dia di rawat di ruang mana?" tanya Afi sembari melihat sekeliling.


"Katanya si ruang Mawar nomer 2"


"Ya udah ayo cepat ke sana"


Afi menarik tangan Alia dan berjalan dengan cepat, dia juga sangat penasaran dan ingin memastikan kebenaran tentang keadaan Irfan.


"Bener yang ini Al?"


"Katanya si gitu"


Alia mencoba masuk ke dalam ruangan yang sudah di tunjukkan oleh Lana.


"Assalamualaikum..." Alia mencoba mengetuk pintu.


"Walaikumsalam... eh Alia, loh kamu nggak papa to?" terdengar suara perempuan paruh baya dengan nada yang sangat kaget. Perempuan itu ternyata adalah Ibu Yani, Ibunya Irfan.


"Alhamdulillah saya baik-baik aja Bu, emm Irfan beneran di rawat di sini?" tanya Alia.


"Loh Ibu pikir dia kecelakaan bareng sama kamu, soalnya dokter bilang kalau dia berdua sama perempuan, tadinya Ibu mau jenguk tapi belum sempat" ucap Bu Yani panjang lebar.


"Berdua? sama perempuan?" Alia bergumam dalam hati.


Alia dan Afi hanya terdiam sambil tersenyum salah tingkah, mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah yang sama heran.


"Eh ya sudah kalau mau jenguk Irfan masuk aja, kebetulan dia baru sadar, Ibu mau ketemu dokter dulu yah"


"Oh iya Bu saya masuk dulu yah"


Alia dan Afi masuk dengan membawa sekantong buah yang sudah disiapkan oleh Alia. Ekspresi wajahnya terlihat sangat dingin dan tidak berkata apa-apa terhadap Irfan yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Di samping Irfan juga ada Lana, sahabat karib Irfan yang juga sudah menjadi teman dekat Alia dan Afi, wajah mereka berdua terlihat sangat malu, seperti orang yang sudah ketahuan mencuri.


Alia masih berdiri terdiam sambil menatap Irfan dengan serius, dia masih tidak menyangka hal ini benar-benar dia lakukan, sementara Afi menghampiri Lana dan berbisik, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun Lana masih tetap diam dan belum berani bicara apapun.


Alia duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Irfan, dia meraih tangan kanan Irfan dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu? apa lukanya parah?"


Alia bertanya dengan suara yang sangat pelan dan lembut, bahkan membuat Irfan tidak bisa berkata-kata, tanpa sadar air matanya mengalir karena merasa sangat bersalah terhadap Alia.


__ADS_2