Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Rumah Ziva


__ADS_3

Sekitar jam sepuluh malam Alia sampai di rumah. Begitu sampai ia langsung masuk ke kamar dan mematikan ponselnya.


Pikirannya seperti di selimuti dengan rasa kesal, padahal tidak biasanya Alia sekesal itu hanya karena hal kecil.


_____-----_____


Keesokan harinya Alia sebenarnya ada jadwal kuliah jam 10, namun ia berangkat jam 7 pagi dari rumah karena ingin pergi ke perpustakaan dan mencari buku referensi untuk menyelesaikan tugasnya.


Jam setengah sembilan pagi perpustakaan baru di buka. Alia langsung masuk ke dalam dan menjadi pengunjung pertama di hari itu. Suasana pagi itu masih sangat sepi karena hanya ada Alia yang datang berkunjung.


"Terlalu banyak aura negatif" ucap Alia dalam hati.


Setelah menemukan buku yang ia butuhkan, Alia pun langsung keluar dan menuju ke taman untuk mengerjakan tugasnya. Dia duduk di bawah pohon yang cukup rindang di taman dekat kantin.


Drrrrtttt..... Drrrttttt...


Tiba-tiba ponsel Alia bergetar, dan ternyata itu adalah panggilan dari Ziva. Alia segera mengangkat telepon itu dengan senang hati.


"Assalamualaikum mba Ziva?"


"Walaikumsalam, Alia apa kabar?"


"Alhamdulillah baik..."


Mereka berdua mengobrol cukup lama hingga akhirnya Ziva memberitahu bahwa ia akan segera bertunangan dan mengundang Alia untuk datang ke acaranya.


"Emang acaranya kapan mba?"


"Besok sore"


"Kok mendadak sekali?"


Terdengar Alia masih asyik bicara dengan Ziva melalui telepon. Setelah selesai mengobrol Alia pun menutup telfonnya.


"Astaghfirullah!!"


Alia merasa sangat terkejut saat tiba-tiba ada Irfan yang duduk di sampingnya. Perasaannya pun berubah menjadi kesal karena kaget.


"Hai, abis telfon siapa?" tanya Irfan.


"Mba Ziva" Alia menjawab dengan singkat dan ekspresi wajah yang datar.


"Kamu masih marah? aku minta maaf yah"

__ADS_1


Sembari mengulurkan sebatang coklat favorit Alia. Seketika rasa kesal Alia pun hilang, wajahnya yang datar kini langsung tersenyum karena senang saat melihat coklat yang di berikan oleh Irfan.


Hubungan keduanya pun kembali membaik, mereka mengobrol banyak sampai Alia lupa sedang mengerjakan tugas, namun bagi Alia itu tidak masalah karena tugas itu untuk Minggu depan.


______-----_____


Esoknya di sore hari Alia sudah berpakaian sangat rapi dan bersiap untuk pergi.


"Rapi banget mau kemana nak?" tanya Bu Mia.


"Temanku mau tunangan mah" jawab Alia.


"Oh,, ya sudah kamu hati-hati yah, pulangnya jangan terlalu malam"


"Oke Mah, kalau begitu Alia pamit dulu yah"


Bu Mia tersenyum saat Alia berpamitan dan mencium tangannya. Alia pun segera keluar dan mengambil motornya, dia mulai melakukan perjalanan menuju ke rumah Ziva.


Di perjalanan tanpa sengaja Alia bertemu dengan Mita, dan akhirnya mereka berjalan bersama karena Alia memang belum pernah datang ke rumah Ziva.


Alia dan Mita sampai di rumah Ziva, dan ternyata di sana sudah ramai dan banyak tamu yang datang. Tak lama setelah kedatangan Alia dan Mita, acara pun di mulai.


Semua keluarga besar Ziva dan tunangannya datang untuk menyaksikan pertunangan mereka. Setelah beberapa jam berlalu akhirnya acara pun selesai, satu persatu para tamu dan anggota keluarga besar mulai pulang dan hanya tersisa keluarga inti saja.


Alia dan Mita masih duduk di ruang tamu sembari membantu membereskan tempat sisa acara.


"Kenapa Zi?" tanya Mita.


"Aku mau kasih lihat sesuatu sama kalian"


Alia dan Mita terdiam, mereka penasaran apa yang ingin di perlihatkan oleh Ziva.


Ziva ternyata mengajak Alia dan Mita naik ke lantai atas di rumahnya, terdapat tiga kamar di lantai itu, yaitu kamar Ziva, kakaknya dan satu lagi kamar yang sudah tidak terpakai.


Begitu naik ke lantai atas, perasaan Alia langsung berubah, dia merasakan adanya aura mistis yang sangat kuat namun tetap berusaha untuk tenang.


Ziva mengajak Alia dan Mita masuk ke dalam kamarnya. Dalam kamar itu terlihat sangat sederhana layaknya kamar perempuan pada umumnya, namun yang menarik perhatian Alia ialah hawa dingin yang sangat menusuk di dalam kamar itu.


Alia dan Mita melihat ke sekeliling sementara Ziva duduk di atas kasur sambil tersenyum dan menatapi cincin tunangannya.


"Ini kamar kamu mba" tanya Alia.


Ziva hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ini serius kamar kamu Zi?" tanya Mita.


"Iya ini kamar aku"


Ziva bangun dari tempat duduknya dan menarik tangan Alia serta Mita ke luar menuju balkon.


"Wah pemandangan keren nih dari sini" ucap Alia.


"Eh ini kamar siapa Zi?" tanya Mita sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang berada tepat di depan pintu balkon.


"Ini dulu kamar aku waktu kecil, tapi sekarang aku pindah ke kamar tadi" jawab Ziva.


"Aku boleh masuk nggak mba?" tanya Alia.


"Boleh, masuk aja"


Perlahan Alia menginjakkan kakinya ke dalam kamar yang sudah lama tidak di tempati itu. Sekilas tidak ada yang aneh, hanya ada tumpukan barang yang sudah tidak terpakai, tempat itu sebenarnya sudah di jadikan gudang.


Saat berkeliling, ada satu hal yang menarik perhatian Alia, yaitu sebuah lukisan yang tergantung di dinding.


Lukisan itu terlihat sudah berumur dan lusuh. Sebuah lukisan seorang wanita yang terlihat sangat cantik dengan balutan hijab berwarna biru cerah dan senyum yang menawan.


Mita tiba-tiba berdiri di samping Alia dan sama-sama menatap lukisan yang tergantung di dinding itu, lalu mereka saling menatap satu sama lain.


"Itu kakak aku" ucap Ziva yang sangat mengerti tentang pertanyaan di benak Alia dan Mita.


"Oh jadi ini kakak kamu yang sering kamu ceritakan itu?" ucap Mita.


"Iya, sayang banget di nggak bisa pulang di acara hari ini" jawab Ziva dengan wajah lesu.


"Dia masih hidup?" tanya Alia kaget.


Mita dan Ziva menatap ke arah Alia, mereka berdua sangat kaget mendengar pertanyaan Alia. Melihat ekspresi dari wajah Ziva dan Mita, Alia sadar bahwa pertanyaan itu sangatlah salah, karena tatapan wajah Ziva sudah menjelaskan bahwa kakaknya itu masih hidup. Tapi perasaan Alia sepertinya tidak pernah bisa di bohongi kalau ia benar-benar merasakan hawa dingin yang sangat menusuk dari lukisan itu.


Aura yang keluar dari sosok wanita yang berada dalam lukisan itu sangatlah berbeda, dan membuat Alia semakin penasaran.


"Maaf, tapi aku mencium aroma orang yang sudah mati" ucap Alia pelan.


"Aku pikir itu hanyalah aura dari mahluk yang menempati lukisan ini" ucap Mita.


Ziva mengajak Mita dan Alia untuk kembali ke kamarnya dan berbincang di sana.


Ziva menjelaskan bahwa sebenarnya kakaknya itu memiliki kembaran, dan kembarannya itu lah yang sudah lama meninggal.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu dia meninggal kenapa mba?" Alia mencoba bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran dalam benaknya.


Ziva terdiam sejenak, sembari menghela nafasnya, tadinya dia enggan untuk menceritakan kejadian yang menimpa kedua kakaknya itu, namun setelah cukup lama berpikir, dia akhirnya bersedia untuk mengingat dan menceritakan.


__ADS_2