Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Hari spesial


__ADS_3

Hari ini, sebenarnya Alia sangat malas sekali untuk berangkat, karena di sekolah ia sama sekali sudah tidak ada kegiatan, dan jika berangkat dia hanya akan berjalan\-jalan saja, namun ia tetap memutuskan untuk berangkat.


Alia berangkat jam 8 pagi dari rumah dan sampai sekolah kurang lebih jam 9. Karena ini adalah hari bebas, jadi tidak ada guru yang akan memarahinya.


Alia sampai di sekolah dan memarkirkan motornya, setelah itu ia berjalan sendirian menuju ke lapangan utama sekolah, dan hampir seluruh siswa berkumpul di sana. Ada berbagai macam lomba yang sedang dilaksanakan antar kelas.


"Alia! kamu dari mana aja baru kelihatan?"


Nida dan Mayra menghampiri Alia yang sedang berjalan sendirian.


"Hehe aku baru berangkat"


Alia menjawab sambil cengar-cengir dan menggaruk kepala yang tidak gatal. Mayra langsung menarik tangan Alia dan membawanya ke ruang olahraga tenis. Nida juga mengikuti di belakangnya.


"Kamu ngapain bawa aku ke sini?"



"Kamu gantiin Windy lomba tenis meja yah"



"What!? kok enak banget kamu nyuruh aku!"



"Windy hari ini sakit, jadi ngga berangkat, dan di kelas kita cewe yang bisa tenis selain Windy kan cuma kamu!"



"Tapi aku ngga bisa!"


Alia terus menolak untuk menggantikan teman sekelasnya yang sakit, namun Mayra dan Nida terus memaksanya, bahkan teman sekelas yang lain juga ikut mendukung Alia agar mau mengikuti lomba itu, mereka beralasan karena sudah mendaftarkan kelas mereka jauh-jauh hari jadi tidak bisa untuk mundur.


Alia melihat ke sekeliling dan semua teman sekelas Alia juga menatapnya, mereka seperti menaruh harapan besar padanya. Alia pun akhirnya menyerah dan bersedia untuk mengikuti lomba tenis meja.


Setelah beberapa lama, akhirnya pertandingan Alia pun di mulai, dan ternyata lawan pertamanya adalah Maya teman sekelas Zizi. Alia akhirnya memenangkan ronde pertama, kedua dan ketiga, dan yang terakhir adalah babak final, dan semua peserta di beri waktu untuk istirahat.


Alia pun bergegas menuju ke kantin untuk membeli minuman dan makanan ringan. Ia duduk sambil meminum es teh dengan wajah yang memerah karena kepanasan.


"Oh ya Alia, selamat ulang tahun yah"


Nida dan Mayra mengucapkan selamat kepada Alia, sementara Alia hanya terdiam karena masih kelelahan.


"Iya Alia, selamat yah!" tiba\-tiba terdengar suara dari belakang Alia.



"Lho Windy kamu ngga sakit!?"


Alia kaget melihat teman sekelasnya yang katanya sedang sakit ternyata ada dibelakangnya. Dan semua itu adalah ulah semua teman sekelasnya untuk mengerjai Alia di hari ulangtahun nya.

__ADS_1


Alia sempat kesal namun akhirnya menerima perlakuan jahil mereka, mereka juga memberikan ucapan selamat kepada Alia karena berhasil masuk ke babak final untuk lomba tenis meja.


Sementara itu dari jauh Irfan datang ke kantin dan melewati kerumunan Alia beserta teman-temannya, tanpa sengaja ia mendengar kalau hari ini adalah hari ulang tahun Alia.


Setelah beberapa teman sekelas Alia pergi, di meja Alia hanya tersisa Alia, Mayra dan juga Nida.


Irfan berjalan dengan seorang teman sekelasnya yang selalu bersama dengannya. Perlahan dia berjalan mendekati meja Alia dan berhenti di samping tempat duduknya. Tangan kirinya menyembunyikan sesuatu dan tangan kanannya dijulurkan ke arah Alia.


"Eh kak Irfan?"


Alia langsung bangun dari tempat duduknya, ia kaget karena Irfan sudah terang-terangan menemuinya di depan teman-temannya dan juga di tempat umum. Sementara itu Nida dan Mayra masih duduk diam sambil menatap satu sama lain.


"Kamu hari ini ulangtahun yah? selamat ulangtahun!"


Masih mengulurkan tangannya, dan Alia pun membalas uluran tangan itu dengan menjabat tangan Irfan, dia tersenyum malu dan tidak berkata-kata.


Praaakkkkkk!!!!!


"Aw sakit!"


Tiba-tiba Irfan memukulkan sebuah telur mentah ke atas kepala Alia dan langsung berlari kabur. Dia berlari sambil tertawa puas karena sudah berhasil mengerjai Alia, Alia pun berusaha mengejarnya namun gagal karena Irfan berlari dengan cepat.


"Ah sial!! jahil banget si!"


Alia berdiri dan terus melihat Irfan yang mulai menjauh, perasaannya campur aduk, dia merasa sangat kesal namun juga senang karena bisa sedekat itu dengan orang yang sudah lama ia sukai.


Sementara itu diatas kepalanya, cairan telur mentah yang kental dan amis itu mulai mengalir dan mengenai wajah Alia.


Alia terus mengumpat dengan kesal setelah melihat cairan kental itu.


"Masih mending telur segar, bukan telur busuk!" Mayra bicara dengan sinis karena ia agak tidak senang pada Irfan.



"Udahlah, Alia ayo ke kamarku, aku pinjami baju buat ganti" ucap Nida.


Mereka bertiga akhirnya menuju ke Pesantren dan ke kamar Nida. Alia melepas kerudung dan juga kaos olahraga nya yang terkena telur mentah dan menggantinya dengan kaos PMR milik Nida.


"Senyum\-senyum terus! mikirin penyihir itu!" Ucap Mayra dengan wajah yang sangat sinis.



"Apaan si Ra! sirik aja!" Alia pun membalasnya dengan ekspresi yang tak kalah sinis. Mereka berdua mulai saling bertatapan mata.



"Udahlah, ayo balik ke sekolah lagi, bentar lagi final tenis di mulai!" Nida mencoba melerai mereka berdua yang sedang adu telepati.


Mereka bertiga pun akhirnya kembali ke sekolah dan segera menuju ke ruang olahraga tenis.


Di jalan mereka kembali berpapasan dengan Irfan dan temannya.

__ADS_1


"Hei aku belum balas kejahilan kamu tadi yah!"


Alia bicara keras dengan wajah kesal.


"Hehe maaf\-maaf... itu kan ucapan selamat ulangtahun buat kamu" ucap Irfan sambil senyam\-senyum.


Mayra yang tidak senang melihat Irfan, langsung menarik tangan Nida dan mengajaknya berjalan duluan.


"Ucapan si ucapan, tapi ngga gitu juga lah!"



"Hehe iya maaf, sebagai gantinya aku kasih ini buat kamu"


Irfan melepaskan sebuah jam tangan rantai berwarna silver yang ia kenakan di tangan kirinya, lalu memberikannya kepada Alia.


"Eh ngga kok bukan itu maksudku" Alia mencoba menolak pemberian Irfan karena merasa tidak enak.



"Udah ngga papa, anggap aja ini hadiah ultah dari aku!"


Karena Alia menolak, Irfan akhirnya meraih tangan Alia dan memakaikannya di tangan kiri Alia, sementara itu dari kejauhan Azam tidak sengaja melihat Irfan yang masih memegang tangan Alia yang sedang memakaikan jam tangan.


"Alia, kenapa kamu begitu dekat dengan dia, dan selalu menjauh dariku?" Azam bergumam dalam hati.


"Ini beneran buat aku?"



"Iya lah, tapi maaf yah ngga bisa kasih yang baru, soalnya baru tahu tadi kalau hari ini kamu ultah"



"Eh ngga papa kok, ini juga bagus"



"Jangan hilang! jangan rusak! itu jam mahal loh! original itu!" Irfan berkata sambil tersenyum dan seperti mengejek Alia, dia pun langsung pergi begitu saja tanpa mendengar ucapan Alia.



"Apaan si! kalau jam mahal, kenapa kasih ke aku!?" Alia bicara agak keras karena Irfan sudah mulai berjalan menjauh, Irfan pun menengok ke arah Alia sambil tersenyum dan berlalu.


Kemudian Alia teringat dengan pertandingan finalnya, dia pun langsung berlari menuju ke ruang olahraga dan disana semua temannya sudah menunggu untuk mendukung nya.


Tak lama kemudian pertandingan pun dimulai, pada putaran pertama Alia sempat dikalahkan oleh lawannya, ia meminta waktu sebentar untuk beristirahat, semua temannya pun menyemangatinya.


Alia melihat sekeliling dan ia juga melihat Irfan berada di sana, meskipun posisinya jauh, dia melihat kearah Alia sambil tersenyum seolah memberikan semangat untuk Alia.


Pertandingan pun kembali di mulai, dan Alia akhirnya memenangkan babak final dan menjadi juara satu, hari ini ia menjadi sangat bahagia karena ini adalah hari ulangtahun nya dan juga menjadi hari kemenangannya.

__ADS_1


__ADS_2