
Putri terus menatap ke arah jam tangannya dengan perasaan khawatir. Waktu sudah semakin malam, bahkan sebentar lagi sudah akan pagi.
Setelah Amar memanggil pak Hadi, mereka semua akhirnya memutuskan untuk segera mengecek kembali tempat itu.
"Pak apa bapak tidak bisa membujuk mereka untuk melihat besok saja?"
Putri masih berusaha meminta kepada pak Hadi agar mau membujuk teman-temannya supaya melihat tempat itu besok pagi saja, karena menurutnya ini sudah lewat dari tengah malam dan dia juga takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kalau hanya teman-temanmu yang meminta, bapak mungkin tidak akan setuju, tapi nak Roby... saya tahu betul dengan sifatnya karena sudah kenal lama dengannya" ucap Pak Hadi.
Pada akhirnya Putri hanya bisa menurut dan mengikuti semua keputusan teman-temannya.
Kurang lebih jam 12 lewat 15 menit mereka semua mulai berjalan menuju bangunan bekas toilet itu.
Alia agak terkejut melihat keadaan di sana, tempat yang tadinya begitu gelap dan juga sepi kini menjadi begitu terang dan masih dijaga oleh beberapa polisi yang bertugas, garis polisi pun sudah terpasang mengelilingi tempat itu.
"Ada apa kalian semua kemari?" tanya salah seorang polisi yang sedang berjaga.
"Begini pak kami ke sini dengan tujuan..."
Pak Hadi mencoba menjelaskan tentang tujuan mereka kemari kepada bapak polisi yang sedang berjaga, tadinya pak polisi itu sama sekali tidak mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam wilayah yang sudah terpasang garis polisi, namun setelah pak Hadi menjelaskan keadaannya akhirnya polisi itu mengijinkan.
Dari lima orang yang datang bersama pak Hadi, hanya tiga orang saja yang melihat tempat itu lebih dekat yaitu Alia, Azam dan juga Roby. Sementara Amar dan Putri menunggu di luar garis polisi.
Alia berdiri tepat di depan bangunan itu, dia melihat ke arah dalamnya dan masih terlihat bekas darah yang sudah mengering.
Roby mencoba untuk masuk ke dalam bangunan kecil yang kurang lebih berukuran 1,5x2m itu namun saat baru di depan pintu tubuhnya seperti menjadi kaku dan tidak dapat bergerak maju.
"Agh!" Roby seperti terlempar menjauh dari tempat itu, tubuhnya bahkan sampai terjatuh di tanah.
"Ka Roby! kaka ngga papa?"
Putri dan Amar mencoba untuk menghampiri Roby dan membantunya bangun lalu membawanya keluar dari batas garis polisi.
Sementara itu Alia hanya terdiam dan melirik sedikit ke arah Roby seolah tidak mempedulikannya sama sekali.
Azam yang berdiri di samping Alia pun mencoba untuk masuk dan melihat ke dalamnya namun ia dihentikan oleh Alia.
__ADS_1
"Jangan!"
Alia bicara sambil terus menatap ke arah dalam bangunan itu, Azam pun hanya terdiam dan mencoba untuk mengikuti perkataan Alia karena dia percaya bahwa Alia lebih mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan sosok perempuan itu.
"Dia menyimpan dendam yang begitu besar!"
Perlahan Alia mencoba untuk masuk ke dalamnya dan mulai menginjakan kaki di dalam bangunan itu. Kaki Alia berdiri tepat di samping bekas darah kering itu. Roby merasa sangat heran karena Alia bisa dengan mudahnya masuk tanpa penolakan sedangkan dirinya malah terlempar menjauh dari bangunan itu.
"Disini penuh dengan aura dendam dan kemarahan, sebenarnya apa yang terjadi sampai membuat perempuan itu terbunuh?" ucap Alia dalam hati.
Alia terus melihat sekeliling bangunan sempit itu, dia juga melihat salah satu sisi dari dinding itu ternyata juga ada bekas darah, perlahan Alia mencoba untuk menyentuh dinding itu dan pikiranya mulai melayang entah kemana, dia seperti melihat sebuah bayangan bahwa kepala perempuan itu sempat terbentur dinding dan menyebabkan adanya bekas darah di sisi dinding yang sedang di sentuh Alia sekarang.
"Astaghfirullah!"
Alia kaget saat melihat bayangan itu, seolah masih belum cukup ia akhirnya melihat bekas darah yang berada di lantai dan mencoba menyentuhnya.
Benar saja, dia akhirnya melihat bayangan dari penyebab kematian perempuan itu.
Alia langsung keluar dari bangunan itu, dia berdiri terdiam dan melihat ke arah Azam dan juga Roby.
Azam dan Roby hanya terdiam heran kenapa Alia menatap mereka seolah melihat hantu.
"Saat aku mencoba untuk masuk lalu kamu menghentikannya, di situ aku tahu bahwa dendam itu ditujukan kepada seorang laki-laki" jelas Azam.
Roby jadi teringat saat ia melihat sosok hantu perempuan itu yang sangat ingin menyerangnya saat dia mencoba mendekat.
"Jadi dia itu memang tidak bunuh diri tapi dibunuh" ucap Alia
"Tapi siapa yang tega membunuh dia dalam keadaan sedang hamil muda?" tanya Putri.
"Dia laki-laki, dan yang pasti orang yang terakhir kali dia temui" ucap Alia.
Setelah itu Alia lalu pergi dari tempat itu tanpa berkata-kata, dan Azam yang berusaha memberikan penjelasan terkait pembunuhan itu kepada polisi.
"Terimakasih dek, ini sangat berguna sebagai petunjuk untuk kami supaya bisa segera menemukan pelakunya" ucap salah seorang polisi yang sedang bertugas tadi.
"Sama-sama pak" jawab Azam.
__ADS_1
Saat Azam selesai bicara dengan polisi itu, dia sudah tidak melihat Alia di sekelilingnya, dia pun meminta Putri untuk menyusul Alia dan membawanya ke tenda junior mereka.
*****
Alia duduk sendirian di pinggir lapangan utama, namun suasananya kini sangat gelap dan sepi karena semua orang sudah masuk ke tenda masing-masing untuk istirahat.
"Kamu keren!" tiba-tiba suara itu datang menghampiri Alia yang sedang melamun sendirian.
"Eh kak Roby, ada apa ke sini ka?" jawab Alia.
"Ngga papa, aku kagum sama kamu, dan ingin ngobrol aja"
"Oh maaf kak, aku cuma lagi ingin sendiri aja"
"Ya aku paham sama perasaan kamu kok, aku cuma mau bilang sama kamu. semangat! jangan pernah putus asa!"
Alia hanya tersenyum menanggapi ucapan Roby.
"Oh ya, aku rasa Azam itu cocok sama kamu!"
Roby mengucapkan kata terakhirnya sambil tersenyum lalu pergi, sementara Alia hanya terkejut saat mendengar pernyataan Roby, dia hanya terdiam dan heran kenapa Roby bisa berkata-kata seperti itu.
"Apa sih maksudnya dengan ngomong kaya gitu!"
*****
"Alia! akhirnya ketemu juga! aku nyari kamu kemana-mana tahu!"
Putri datang sambil berteriak-teriak dan mengumpat kepada Alia.
"Bisa pelan sedikit ngga? tahu ini jam berapa?"
"Tahu kok! habisnya kamu si! aku cari-cari juga! ayo kita ke tenda junior putri"
"Ngapain?"
"Ngapain? kamu nggak sadar ini jam berapa? ngga takut apa di sini sendirian!"
__ADS_1
"Aku lagi pengin sendiri"
Putri masih saja mengumpat, dia bahkan mulai memarahi Alia karena tidak mau di ajak ke tenda junior dan hanya memilih untuk duduk di sana sendirian. Namun karena melihat keadaan yang semakin sepi, Alia akhirnya mengikuti putri untuk kembali ke tenda junior mereka, dan di sana Amar serta Azam juga sudah menunggunya.