
"*Perasaan aneh apa ini? kenapa aku merasa begitu nyaman saat tangannya menyentuh kepalaku*?" Alia bergumam dalam hati.
"Hei apa yang kamu rasakan! kenapa malah diam seperti itu? apa kamu tidak kesakitan lagi?" tanya Alia heran melihat Azam terdiam seperti patung.
"Ah tidak papa, aura di rambutmu itu memang sangat kuat". "*Tapi sayang, aura itu sangat hitam*" Azam meneruskan ucapannya dalam hati, karena takut hal itu akan membuat Alia marah.
"Oh, kalau itu si aku sudah tahu!" jawab Alia singkat sembari melanjutkan catatannya.
Azam pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun, dia melangkah perlahan dan masih dengan perasaan campur aduk setelah bisa memastikan tentang perasaannya pada Alia.
" *Aku tidak salah! itu adalah dia yang sebenarnya! dia memang begitu dingin dan lembut, tapi aura itu sepertinya memang tidak cocok denganku, atau mungkin tidak menyukaiku*" sambil berjalan, Azam terus saja bergumam dalam hati.
Sementara itu Alia selesai dengan catatan nya dan segera turun ke bawah menemui Mayra.
"Kok lama si?" ucap Mayra agak kesal.
"Maaf, tadi ada sedikit pengganggu"
"Siapa? Azam yah? tadi aku lihat dia naik lagi"
"Ya gitu lah, orang yang selalu kurang kerjaan"
"Kayaknya dia itu beneran suka sama kamu deh"
"Apaan si! ngga lah!"
Alia mengantarkan Mayra pulang karena kebetulan rumahnya searah dengan jalan pulang Alia.
Sepanjang jalan Mayra terus saja meledek Alia, namun ia masih berusaha untuk mengelaknya.
Setelah perjalanan kurang lebih 1jam Alia sampai dirumahnya.
"Kok pulangnya sore banget nak" tanya bu Mia.
"Iya mah tadi ada eskul"
Alia langsung mandi dan beristirahat di kamarnya. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, Alia bergegas untuk sholat, dan setelah itu ia makan malam bersama dengan keluarga.
Setelah selesai Alia langsung masuk ke kamarnya dan duduk di depan meja belajar. Ia mempelajari kembali catatan keuangan yang harus dikerjakan salam acara minggu depan.
"*Aneh, biasanya menjelang waktu maghrib rambutku terasa agak panas, tapi ini udah lewat isya' dan rambutku nyaman aja*"
Alia merasa heran dengan rambutnya, karena biasanya di waktu tertentu dia akan merasakan ketidaknyamanan yang sangat mengganggu.
Dia mencoba berdiri di depan lemari dan melihat ke arah cermin.
"Waw, malam ini bayanganku di cermin biasa saja, ngga ada yang aneh, kenapa yah?" Alia terus bertanya\-tanya pada diri sendiri.
_____-----_____
Sementara itu di pesantren putra...
"Astaghfirullah... efeknya mulai terasa!" Azam mulai merasa kesakitan ketika telapak tangan kanannya menjadi panas dan gatal. Ia berusaha untuk tidak menggaruknya, namun rasa gatal itu semakin menjadi dan membuat tangannya semakin panas.
"Azam, ayo kita berangkat kelas" ajak salah seorang teman sekamar Azam.
__ADS_1
"Ah aku sepertinya tidak bisa berangkat" ucap Azam sambil terus memegang tangannya.
"Tanganmu kenapa?"
"Oh ini hanya gatal saja, mungkin akan timbul semacam gudik \(penyakit kulit yang biasanya ditandai dengan gejala muncul ruam kemerahan dan timbul benjolan yang berisi nanah\)"
Teman Azam pun langsung pergi tanpa banyak bertanya, karena setiap santri pasti akan mengalami hal itu, dan penyakit itu sudah dianggap wajar bagi semua santri.
Namun hal yang dirasakan oleh Azam sangatlah berbeda dari penyakit gatal itu, rasa panas ditangannya seperti terbakar dan mulai melepuh.
"*Ya Allah,, tolong hamba*.." Azam terus berdoa dalam hati.
Tiba\-tiba seseorang datang dan langsung meraih tangan kanan Azam. Dia melihat bagian telapak tangan yang sedang melepuh dan mengusapnya sembari mengoleskan minyak khusus.
"Dasar bodoh!" ucapnya sembari melepaskan tangan Azam.
"Irfan! kamu disini? tidak masuk kelas?"
"Lupakan saja! yang penting tanganmu sudah sembuh, tapi sayang bekasnya akan hilang setelah dua hari" ucap Irfan sembari meninggalkan kamar Azam.
"*Aku hanya menarik dan mengikat auranya sedikit saja, itu bahkan tidak lebih dari 5%, tapi efeknya sampai seperti ini? memang benar kata orang, kalau aura hitam itu sangat berbahaya*!"
\_\_\_\_\_\-\-\-\-\-\_\_\_\_\_
Hari ini Alia memarkirkan motornya di dalam sekolah karena takut kalau ia akan telat masuk kelas.
Alia dan Mayra berjalan menuju kelas, dan ditengah perjalanan ia melihat Azam dari kejauhan.
Alia memperhatikan telapak tangan kanan Azam yang terlihat menghitam seperti habis terbakar. Tadinya Alia ingin bertanya, namun tiba-tiba seseorang menghampiri.
"Assalamu'alaikum Azam" ucap Nafisah
"Walaikunsalam, eh mba Nafis"
"Tanganmu kenapa?"
"Oh ini hanya iritasi saja"
"Oh kalau begitu oleskan ini, insyaallah akan cepat sembuh" sembari memberikan minyak khusus dalam botol kaca yang sangat kecil.
Azam menerima minyak itu dan sangat berusaha agar tangannya tidak sampai bersentuhan dengan Nafisah.
Mayra lalu menghampiri Azam dan menanyakan tentang tangannya, namun Alia berjalan lebih cepat dan meninggalkan Mayra.
Alia berjalan tanpa melihat kanan dan kiri, entah mengapa ia merasa sangat kesal, dan tiba\-tiba seseorang memanggilnya.
__ADS_1
"Hei Alia! kamu Alia kan?"
"Ka ka Irfan? ya aku Alia"
"Ada salam dari Zizi, nanti istirahat kami suruh ke kelasnya" ucap Irfan lalu pergi tanpa berkata\-kata lagi.
"Ah iya, terimakasih" Alia tersenyum sambil menatap Irfan yang mulai menjauh, entah kenapa perasaannya berubah menjadi sangat senang.
"*Ya ampun, kok aku jadi deg\-degan gini yah dipanggil sama dia*" bergumam sambil senyam\-senyum sendiri.
"Alia! kamu ngapain senyam\-senyum sendiri, kumat kamu yah" Nida tiba\-tiba datang dan mengagetkan Alia.
"Hehe ngga papa kok, seneng aja" masih terus tersenyum.
Alia dan Nida berjalan menuju ke kelas dan ternyata Mayra belum sampai juga dikelas.
Mereka berdua duduk di bangkunya dan Alia masih terus senyam-senyum sendiri.
"*Oh my God! ternyata dia itu lebih manis kalau dari dekat*" sambil tersenyum dan membayangkan.
Tak lama kemudian Mayra datang dan mengoceh, sampai bell masuk pun berbunyi, mereka mengikuti pelajaran seperti biasa.
Setelah beberapa jam berlalu, waktu istirahat pertama pun tiba, Alia bergegas meninggalkan kelas dan pergi ke kelas Zizi sendirian, sementara Nida dan Mayra menggerutu karena tidak diajak.
Alia berjalan melewati beberapa kelas dan akhirnya sampai di kelas Zizi, dia langsung masuk dan menghampiri Zizi yang sedang duduk berdua dengan Mita.
"Mba Mita di sini juga?" tanya Alia.
"Iya tadi pagi Zizi minta aku buat ketemu di kelas"
"Oh ada apa manggil aku kesini mba" tanya Alia penasaran.
"Azam kamu apain lagi!?" tanpa basa\-basi Zizi langsung bertanya.
"Aku ngga ngapa\-ngapain kok" Alia merasa bingung dengan pertanyaan Zizi, dia melihat ke arah Mita seolah meminta penjelasan darinya.
"Semalam aku dengar dia tidak masuk kelas pesantren, karena tangannya muncul kusta, tapi pas aku lihat si itu bukan kusta, melainkan luka bakar" jelas Mita.
"Tunggu dulu, tadi pagi aku liat si, itu tu sama kaya pas pertama kali dia megang tangan aku?"
"Nah itu tau!" Zizi bicara dengan nada ketus.
"Tapi kemarin aku sama sekali ngga nyentuh tangannya kok, beneran deh" sembari mengangkat kedua jarinya.
Mereka bertiga semakin bingung dan masih memikirkan apa yang menyebabkan luka di tangan Azam. Alia lalu teringat ketika Azam menyentuh kepalanya kemarin, dia mengatakannya kepada Mita dan Zizi.
"Tapi itu kan cuma sentuhan sama kerudung mba, ngga ke rambut langsung" Alia menegaskan.
__ADS_1
"Aura kuat itu bisa dirasakan bahkan tanpa menyentuh, meskipun bagi orang awam itu hanya seperti ilusi, tapi rasa sakitnya itu nyata!"