
Hari sudah semakin larut, suara serangga malam pun mulai mereda dan menjadi sangat sunyi. Pak Aji menyuruh Alia untuk segera masuk dan beristirahat.
Alia pun bergegas masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya ke kasur tipis di lantai kamarnya.
Pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar, tubuhnya sudah merasa sangat lelah namun lagi-lagi matanya masih belum mau untuk terpejam.
Alia mencoba berdoa kepada Tuhan agar bisa mengambil keputusan yang terbaik dan juga tidak menjadi beban bagi dirinya.
Perlahan-lahan mata Alia mulai terpejam dan ia pun terlelap di malam yang sudah larut.
*****
Keesokan harinya Alia sudah bersiap pagi-pagi sekali dan hendak berangkat kuliah karena hari ini dia ada jam kuliah pagi.
"Alia kamu nggak sarapan dulu nak" ucap Bu Mia yang melihat Alia berjalan menuju keluar rumah.
"Aku sarapan di kantin aja nanti mah, udah kesiangan nih" jawab Alia sambil terus berjalan dan menuju ke sepeda motornya.
Alia berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motornya. Begitu sampai di parkiran ia bergegas untuk menuju ke kelasnya. Baru saja Alia sampai kelas dan duduk di bangkunya, tiba-tiba dosen langsung masuk dan memulai kegiatan kuliah.
"Alhamdulillah... aku nggak telat" ucap Alia pelan.
Kuliah pagi ini berlangsung selama 4 jam, dari jam 8 sampai jam 12 siang. Setelah kegiatan berakhir dosen pun pergi meninggalkan kelas. Alia bergegas untuk pergi ke mushola karena sebentar lagi akan masuk sholat Dzuhur.
Setelah selesai dari mushola, Alia berjalan menuju ke kantin karena ternyata perutnya sudah tidak bisa lagi menahan rasa lapar.
"Agh!!" tiba-tiba Alia bertabrakan dengan seseorang karena mereka sama-sama sedang berjalan dengan buru-buru.
"Heh kamu lagi ya! jalan pakai mata! atau kamu sengaja cari masalah sama aku ha!"
Orang itu ternyata adalah Meisya, dia merasa sangat kesal dan berteriak kepada Alia, namun Alia tidak ingin ribut dan mencoba untuk minta maaf.
"Maaf Mei aku nggak sengaja"
"Nggak sengaja kok tiap hari! apa mata kamu ini udah buta yah!"
Meisya masih saja berbicara dengan nada tinggi pada Alia meskipun Alia sudah berusaha untuk minta maaf.
"Alia..."
Tiba-tiba seseorang datang dan menghampiri Alia. Orang itu ternyata adalah Irfan yang sudah mencarinya sejak tadi.
"Eh kak Irfan..."
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Irfan.
"Em tadi aku nggak sengaja nabrak teman aku karena buru-buru" jelas Alia.
"Oh maaf yah, Alia memang suka ceroboh orangnya, maafin dia karena udah nabrak kamu, kamu nggak papa kan?" Irfan berbicara ada Meisya untuk mewakili Alia.
"Eh nggak kok nggak papa, hehe aku udah maafin kok, lagian Alia kan teman sekelas aku jadi aku maklum kok hehe"
Tiba-tiba tingkah laku Meisya berubah menjadi sangat ramah di depan Irfan dan itu membuat Alia merasa heran.
"Ya syukurlah kalau kamu nggak papa"
"Em kenalin aku Meisya, boleh tahu nama kakak nggak?"
Meisya mengulurkan tangannya sambil tersenyum ke arah Irfan.
"Aku Irfan, pacarnya Alia."
Irfan tidak membalas uluran tangan Meisya tetapi malah menarik tangan Alia dan mengajaknya pergi. Hal itu membuat Meisya kesal dan semakin membenci Alia.
"Pacar? jadi selama ini mereka emang beneran pacaran?" Meisya bergumam pelan.
_____------_____
"Kak bisa lepasin tangan aku nggak? sakit loh!" ucap Alia.
Irfan terus menarik tangan Alia dan membawanya ke taman untuk bicara. Begitu sampai taman Irfan baru melepaskan genggaman tangan Alia.
"Kok kamu bawa aku ke sini si, kan aku mau ke kantin?"
"Kamu dua hari ini kemana aja? nggak ada kabar, nomor nggak bisa di hubungi, aku tanya teman kamu juga nggak tahu!"
Irfan langsung melontarkan begitu banyak pertanyaan yang membuat Alia bingung harus menjawab apa.
"Em itu..."
"Jawab dong, atau jangan-jangan kamu jalan sama orang lain yah?" pertanyaan Irfan semakin memojokkan Alia dan mulai membuatnya kesal.
"Kok ngomongnya gitu si! aku kemarin abis ada acara di MA! dan kebetulan aku nggak ada waktu buat megang ponsel, jadi lupa ngabarin kamu" jelas Alia.
Alia bicara dengan menunjukkan ekspresi wajah kesal karena telah di tuduh yang tidak-tidak oleh Irfan. Irfan pun merasa bersalah karena telah bicara seperti itu, dia pun segera meminta maaf dan mencairkan suasana.
"Kamu kenapa pegang perut terus, perut kamu sakit?" tanya Irfan.
__ADS_1
"Enggak, tapi... sebenarnya aku itu lapar tahu!"
"Kalau lapar kenapa nggak bilang? tahu gitu tadi aku langsung ajak kamu ke kantin".
"Tadi itu aku emang mau ke kantin, tapi kamunya yang narik aku ke sini kan?"
"Oh iya yah, hehe maaf maaf, ya udah sekarang kita ke kantin yah."
_____-----______
Mereka berdua pun berjalan menuju ke kantin, karena Alia sudah sangat merasa lapar, maka ia segera memesan makanan dan minuman.
"Pelan-pelan dong sayang makannya"
Alia tidak menghiraukan ucapan Irfan. Dia terus saja melahap makanan yang sudah berada di depannya.
"Sayang kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Pohon Cherry itu kan udah tumbang"
"Aku udah tahu!"
"Dibawahnya kan ada tengkorak utuh manusianya"
"Aku udah tau juga"
"Dan pohon itu ternyata di penuhi belatung"
"Udah tahu juga. Jadi kamu sengaja bikin aku nggak nafsu makan gitu?"
"Oh maaf maaf bukan gitu maksudnya"
Alia menatap Irfan dengan tatapan sinis karena membuatnya sedikit kehilangan nafsu makan dengan bercerita hal yang menjijikkan saat ia sedang makan.
Akhirnya Irfan pun langsung menceritakan intinya yaitu tengkorak manusia yang terdapat di bawah pohon Cherry itu.
Irfan berkata bahwa polisi sudah menemukan identitas dari tengkorak itu. Tengkorak itu adalah tengkorak dari seorang kakek pengurus kebun dan taman kampus itu.
Dia dulu suka sekali menanam bibit pohon Cherry karena cucunya sangat menyukai buah Cherry.
Kakek itu hanya hidup berdua dengan cucu perempuannya yang masih kecil. Waktu itu seperti biasa setiap harinya kakek itu merawat dan menjaga tanaman yang ada di kampus, dia biasanya membawakan buah Cherry yang sudah matang untuk cucunya.
__ADS_1
Namun hari itu sang kakek tidak kunjung pulang, sampai beberapa hari. Cucunya itu terus menangis karena kakeknya tidak pernah pulang lagi sejak saat itu. Cucunya itu juga sebenarnya bisa melihat hal-hal mistis, dia tahu bahwa kakeknya sudah meninggal dan terkubur di suatu tempat, namun tidak seorangpun mau percaya pada ucapan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu selalu berkata bahwa kakeknya meninggal sambil menggenggam buah Cherry yang akan di bawakan untuknya. Karena gadis kecil itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, akhirnya tetangga di dekat rumahnya mau untuk mengurusnya. Beberapa tahun berlalu, gadis kecil itu selalu mengunjungi sebuah pohon Cherry yang masih kecil dan belum berbuah, dia selalu bicara bahwa kakeknya berada di sana, namun semua orang malah menganggapnya gila dan belum bisa menerima kepergian kakeknya. Ibu yang mengurus gadis kecil itu berkata bahwa gadis kecil itu sering melihat kakeknya, dia berada di pohon itu dan meminta orang untuk menebang pohon itu, sampai akhirnya gadis itu mulai gila dan sakit-sakitan, tak lama setelah itu akhirnya dia pun meninggal.