Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Iri?


__ADS_3

Paginya Alia bangun karena mendengar adzan Subuh, dia segera beranjak dari kasurnya dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Saat hendak berwudhu, Alia membuka perban yang membungkus luka di tangan kanannya, namun ia merasa sangat terkejut saat luka di tangan kanannya ternyata sudah sembuh, bahkan tidak berbekas sama sekali.


"Masyaallah... lukaku sudah sembuh? perasaan semalam masih melepuh?" gumam Alia dalam hati.


"Nak kamu ngapain kok melamun? ayo cepat sholat dulu?" ucap Bu Mia yang tiba-tiba berada di belakang Alia.


"Eh iya mah ini juga mau wudhu kok"


Alia pun bergegas mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat Subuh di kamarnya.


Setelah selesai sholat Alia langsung mandi dan bersiap untuk sarapan lalu berangkat ke kampus.


"Loh tangan kamu sudah sembuh nak?" tanya Bu Mia yang juga heran melihat tangan Alia sembuh dengan cepat.


"Hehe udah kok Mah, aku berangkat dulu yah assalamualaikum" ucap Alia sembari mencium punggung tangan Mama nya.


"Walaikumsalam..."


_____-----_____


Sampai di kampus Alia langsung memarkirkan motornya dan hendak berjalan menuju ke kelas, namun tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan menyapanya.


"Loh kak Irfan? kamu kok udah berangkat si, bukannya baru keluar dari rumah sakit?" tanya Alia.


"Iya, aku udah baikan kok, udah bisa berangkat" jawab Irfan.


Irfan mengajak Alia untuk berjalan bersama, dari kejauhan Meisya tampak memandangi mereka berdua dengan sinis dan penuh kebencian. Dia merasa sangat tidak senang karena hubungan Alia dan Irfan sudah kembali seperti semula.


"Hei lihat apa kamu!!"


Tiba-tiba seseorang mengagetkan Meisya yang sedang melihat Alia bersama Irfan dari kejauhan.


"Sandra? ngapain kamu di sini?" tanya Meisya.


"Harusnya itu aku yang tanya! kamu ngapain lihat mereka berdua? kamu iri ya sama mereka?"


Sandra mencoba meledak Meisya dengan niat hanya bercanda, namun nampaknya Meisya menanggapi candaan Sandra itu dengan serius, wajahnya berubah menjadi kesal dan berteriak kepada Sandra.


"Biasa aja kali Mei, aku kan cuma bercanda?" ekspresi Sandra berubah menjadi takut saat melihat Meisya marah.


"Ah udah lah nggak usah kebanyakan ngomong kamu!"


Meisya pun berjalan pergi meninggalkan Sandra dengan sangat kesal.


"Dasar nenek lampir! dari dulu sampai sekarang sikapnya masih sama aja! sombong!"

__ADS_1


Sandra menggerutu karena kesal dengan sikap Meisya kepadanya. Dia pun memutuskan untuk segera pergi ke kelasnya karena sebentar lagi jam kuliah akan segera di mulai.


Alia duduk di bangkunya sembari menyiapkan tugas yang akan di presentasikan hari ini. Saat dia sedang sibuk membuka tugasnya, dia melihat Sandra yang masuk dengan wajah kesal, dia pun heran melihat tingkah Sandra dan mencoba untuk bertanya.


"Kamu kenapa si San? baru masuk wajahnya udah cemberut gitu?"


"Biasalah gara-gara si nenek lampir itu!" sembari mengarahkan wajahnya ke arah Meisya.


"Maksudnya Meisya? kenapa lagi sama dia?"


"Tadi kan aku cuma mau bercanda aja, tapi dia malah marah-marah, kaya udah beneran aja!"


"Beneran? beneran apa?" tanya Alia penasaran.


"Yah tadi aku lihat Meisya lagi lihatin kamu sama senior itu dari jauh, terus aku bilang kalau dia iri sama kalian berdua, eh malah marah-marah sama aku"


"Kamu itu ada-ada aja!" ucap Alia sembari tertawa kecil.


"Eh tapi beneran loh Al, aku lihat kayaknya dia emang iri sama kalian" ucap Sandra agak berbisik karena tidak ingin ada orang lain yang mendengar.


"Udahlah nggak usah suudzon!"


"Bukannya suudzon, tapi kamu juga harus hati-hati, siapa tahu nanti senior pacar kamu itu di ambil sama dia!"


"Hahaha Sandra... Sandra... kamu itu aneh!"


"Ih kok malah ketawa si! dibilangin juga!"


_____-----_____


Beberapa jam berlalu, suara adzan dhuhur mulai berkumandang, dosen pun segera mengakhiri pertemuannya dan pergi meninggalkan kelas.


Alia sibuk membereskan kertas-kertas yang berisi tugas dan segera menuju ke mushola untuk sholat Dzuhur.


"Al kamu mau ke kantin?" tanya Sandra.


"Nggak San, aku mau ke mushola dulu, sholat dulu" jawab Alia.


"Oh ya udah aku ke kantin duluan yah"


"Oke!"


Sandra pun pergi meninggalkan Alia yang masih sibuk membereskan tugasnya. Setelah selesai membereskan tugasnya, ia langsung bergegas menuju ke mushola untuk sholat Dzuhur, sementara itu Meisya terus saja memandangi Alia dengan tatapan sinis.


"Heran! kenapa dia masih baik-baik aja hari ini? perasaan kemarin..." Meisya bergumam dalam hati.


"Meisya kenapa yah, kayaknya sejak kemarin dia lihatin aku kaya benci banget, bahkan lebih benci dari sebelumnya?" gumam Alia dalam hati.

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan sholat Dzuhur Alia berniat untuk pergi ke kantin dan makan siang, dia juga berpapasan dengan Afi dan langsung mengajaknya pergi ke kantin bersama.


"Eh Al itu beneran lukanya udah sembuh?"


Afi masih tidak percaya jika luka di tangan Alia sudah benar-benar sembuh bahkan tidak lagi berbekas, dia masih saja sibuk memegangi tangan kanan Alia dan melihatnya dengan teliti.


"Kamu udah lihat dengan jelas kan? ini nggak ada bekas luka sama sekali kan?" ucap Alia yang mulai kesal dengan sikap Afi.


"Iya sih, tapi kok bisa gitu yah?"


"Ya mana aku tahu lah!"


Di tengah perjalanan tiba-tiba perhatian Alia dialihkan oleh sosok anak kecil bergaun merah dengan rambut panjang yang diikat menggunakan pita merah, sosok itu berlari menuju ke taman dekat parkiran.


"Itu kan...? tapi masa iya si? aku harus cek!"


Tanpa pikir panjang Alia langsung berlari mengikuti sosok itu ke taman dekat parkiran.


"Eh Alia mau kemana? katanya ke kantin?"


Afi berteriak memanggil Alia yang tiba-tiba saja berlari meninggalkannya, namun Alia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Afi, dia terus saja berlari mengejar sosok anak kecil itu.


Karena bingung mau berbuat apa, Afi pun akhirnya menyusul dan mengejar Alia yang tengah berlari.


Alia sampai di taman dekat parkiran, namun ia kehilangan jejak sosok anak kecil itu, dia melihat ke sekelilingnya dan tetap saja tidak melihat siapapun.


Afi menghampiri Alia dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena berlari mengejarnya.


"Kamu itu ngejar-ngejar apa si? lari-lari udah kaya lihat setan aja!" teriak Afi.


"Aku emang lihat setan! tapi sekarang dia udah ilang" jawab Alia dengan cueknya.


"Kan udah aku bilangin nggak usah temenan atau berurusan sama setan lagi, ntar kena batunya baru tahu rasa!" imbuh Afi.


"Aduh Fi udah deh, kayak baru kenal aku aja, tadi itu aku lihat Chika lari ke arah sini!"


"Chika?"


"Iya!"


"Tapi bukannya kemarin dia itu..."


"Lah makanya aku juga bingung!"


Afi terdiam mendengar pernyataan Alia, dia merasa sangat heran karena kemarin Alia baru saja mengurung sosok itu ke dalam gelang kayu miliknya.


Alia masih saja menengok kanan kiri, berpikir kalau dia akan melihat lagi sosok Chika yang tadi sempat berlari, namun sudah cukup lama mereka berdiri di sana, Alia tidak lagi melihat sosok Chika yang tadi ia kejar.

__ADS_1


"Al udah deh jangan kayak orang bingung gitu! mending sekarang kita ke kantin!" ucap Afi.


Alia hanya terdiam dan tidak menjawabnya, namun karena Afi sudah merasa lelah karena berlari-lari, dia pun segera menarik tangan Alia dan membawanya menuju ke kantin.


__ADS_2