
Malam itu Alia tidak bisa tidur, dia masih teringat kejadian tadi siang yang membuatnya bingung.
"Apa iya tangannya bisa sampai kaya gitu cuma gara-gara aku pegang?"
Dia menengok kearah Sifa dan mencoba membangunkan nya.
"Sif bangun!"
"Siapa juga yang tidur!"
"Ya elah kukira tidur! malah nonton K-Pop mulu si!"
"Biarin aja! daripada kamu punya ponsel tapi kaya kuburan hahaha"
Sifa kembali mengejek Alia, karena selama ini ponselnya hanya digunakan untuk hal-hal tertentu saja, Alia bahkan jarang sekali menggunakannya.
"Udahlah lupakan! aku mau tanya sama kamu"
"Tanya apa?" Sifa masih fokus menonton K\-Pop di ponsel nya.
Sifa memang sangat suka sekali dengan artis Korea, terutama boyband Korea yang saat ini sedang naik daun. Dia bahkan memenuhi ponselnya dengan banyak gambar dan video artis K-Pop tersebut.
"Kamu tau Azam?"
"Azam arrafi? kok tiba\-tiba kamu tanya dia? wah jangan\-jangan kamu suka sama dia ya?" Sifa langsung meletakkan ponselnya dan mendekati Alia.
"Huh langsung deh kalo suruh ngegosip aja cepet banget!" Alia mulai sewot.
"Ya abis, kamu kan biasanya cuek sama orang" Sifa kembali meraih ponselnya dan menonton lagi.
"Yee nonton lagi! aku mau ngomong serius ini!" Alia kesal dan merebut ponsel yang sedang di pegang Sifa.
"Iya deh aku dengerin! ya udah ayo cerita!"
"Aku denger kalau kamu dulu pernah satu kelas sama dia di Mts (Madrasah Tsanawiyah/ sederajat dengan SMP)"
"Iya, kenapa?"
"Anaknya nyebelin ya?"
"Ngga kok, baik orang nya, pinter juga, dia juga ngga pernah marah apalagi teriak. Pokoknya berwibawa banget deh ngga heran juga karena dia anaknya kyai besar" Sifa menjelaskan sambil senyum-senyum ngga jelas.
__ADS_1
"Masa sih? kok aku lihatnya ngga gitu! atau kamu suka sama dia?"
"Aku mana pantes! cuma pernah kagum aja kok, lagian yang suka sama dia itu juga banyak tapi sampe sekarang belum pernah dengar dia punya pacar atau suka sama seseorang"
"Masa sih?" Alia menjadi semakin penasaran.
"Iya! bahkan salaman secara langsung sama anak perempuan aja dia agak anti. Aku ya dulu meskipun satu kelas selama tiga tahun belum pernah tuh nyenggol tangannya sekalipun" Sifa masih saja bicara dengan nada yang sangat cepat.
Sifa memang orang yang sangat terbuka dan terang-terangan dengan pendapatnya. Dia selalu teguh pada pendiriannya dan agak kekanak-kanakan.
"Tapi kok tadi siang..."
"Tadi siang apa? kamu ketemu sama dia?" Sifa langsung memotong ucapan Alia yang belum selesai.
Alia terdiam, dia keceplosan berkata dan itu membuat Sifa menjadi penasaran ingin mendengar kelanjutan nya.
"Hehe kamu percaya ngga si kalau dia punya mata batin?"
"Ya dengar-dengar si gitu, lagian dia kan emang dari keluarga kyai, ngajinya juga pinter, ngga kaget juga si"
"Oh gitu ya" jawab Alia dengan singkat.
"Kenapa si kamu nanya-nanya dia?" Sifa masih penasaran.
"Kalau aku bilang sifat aslinya ngga sama kaya yang kamu omongin tadi, percaya?"
"Tadi siang jelas-jelas dia megang tangan aku! huh dasar pembohong!" Alia menggerutu kesal.
"What! apa kamu bilang? coba ngomong lagi, aku kurang jelas" Sifa merasa tidak percaya dengan ucapan Alia.
"Ngga kok, aku ngga ngomong apa-apa" Alia berbaring membelakangi Sifa dan berpura-pura tidur.
"Hey jangan bohong kamu! apa bener tadi siang dia megang tangan kamu!?"
"Kalau aku bilang iya, kamu percaya?"
Sifa terdiam, dia berpikir bahwa orang yang selama ini ia kagumi tidak mungkin mengecewakan nya, namun dia juga merasa kalau Alia sudah menjadi sahabat nya dan tidak akan berbohong padanya.
"Al kamu ngga bohong kan?" Sifa bertanya dengan nada serius.
"Apa untungnya aku bohongin kamu?"
"Oh jangan-jangan Azam suka kamu Al!"
"What!? ngarang kamu! ngga mimpi juga aku kalau dia suka sama aku!" Alia langsung bangun dari tidurnya dan duduk kembali.
__ADS_1
"Oh iya kamu kan udah punya Aldi ya"
"Apaan si kamu! Aldi itu cuma anggap aku adiknya, aku juga sama"
"Jadi masih ada harapan dong buat Azam?" Sifa kembali meledek Alia.
"Nggak lah dibandingkan Azam kayaknya mendingan..." Alia tiba-tiba teringat wajah seseorang yang menabraknya tempo hari. "Duh kok tiba-tiba keinget dia ya?"
"Woy! malah bengong! mikirin siapa!?" Sifa menepuk pundak Alia dan mengagetkan nya.
"Nggak, aku ngantuk tidur dulu lah!" Alia kembali berbaring.
Sementara Sifa kembali menonton K\-Pop favorit nya. Tak butuh waktu lama untuk Alia terlelap dalam tidurnya, namun tiba\-tiba Alia kembali melihat sosok perempuan yang selalu ia sebut mawar.
"Sudah lama aku tidak melihatnya, kenapa sekarang ia muncul lagi?" ucap Alia dalam hatinya.
Sosok itu menatap Alia sambil tersenyum dan berkata "Kamu harus berhati-hati".
Alia merasa bingung, apa makna dari peringatan itu. Tak lama kemudian sosok itu kembali menghilang. Alia terbangun dari tidurnya dan melihat ke sekeliling.
"Ternyata mimpi lagi!"
Alia melihat kearah jam di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, ia lalu membangunkan Sifa yang masih tertidur dan mengajaknya untuk sholat subuh bersama.
Setelah selesai sholat, Alia membereskan kamarnya dan menyapu lantai, sementara Sifa membantu nenek Mida menyiapkan sarapan pagi. Saat selesai menyapu lantai, tanpa sengaja Alia melihat beberapa mawar merah yang baru mekar di depan rumah.
"Indah sekali!" ucap Alia dalam hati. Dia langsung mendekat dan memetik sekuntum mawar merah yang baru mekar itu lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat Alia langsung melahap habis mawar itu.
"Uh ini manis sekali" ujar Alia sambil terus mengunyah mawar yang masih berada dalam mulutnya.
"Kamu makan apa Al?" Sifa tiba-tiba datang dan mengagetkan Alia.
Dengan cepat Alia langsung menelan mawar yang tersisa. Dia tidak ingin Sifa tahu tentang dirinya yang suka memakan bunga mawar.
"Bukan apa-apa kok, aku mandi dulu yah" Alia langsung pergi meninggalkan Sifa dengan tergesa-gesa.
Sementara Sifa hanya terdiam melihat kelakuan Alia yang masih saja aneh.
Hari itu seperti biasa Sifa dan Alia berangkat ke sekolah bersama, sebelum Alia dan Sifa berpisah ada salah seorang teman sekelas Sifa yang mendekat.
"Hai Sifa, kekelas bareng yuk" ucapnya sambil menggandeng tangan Sifa.
Sifa hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu, sementara temannya itu mendekat kearah Alia dengan tatapan yang sangat dingin.
"Kamu sebaiknya hati-hati!" ucapan itu sangat lirih dan hanya Alia yang dapat mendengar nya, perempuan itu lalu pergi bersama Sifa untuk menuju ke kelas mereka.
__ADS_1
"Siapa si! kenal juga kagak!" Alia berusaha untuk tidak menghiraukan ucapan dari teman sekelas Sifa dan bergegas menuju ke kelasnya.