
Alia melihat ke arah jam dinding yang ada di dalam kamar dan ternyata masih jam setengah empat pagi.
"Astaghfirullah... barusan itu apa? kenapa di pikiranku bisa terlihat hal seperti itu?" gumam Alia pelan.
Alia kembali melihat suaminya yang masih terlelap di pangkuannya. Tangan kanannya mulai membelai rambut Azam dengan perlahan.
"Suamiku... bangun..." ucap Alia dengan pelan sembari terus membelai rambut Azam.
Karena suara Alia begitu pelan, jadi Azam tidak bergeming sama sekali sampai Alia mengulanginya untuk yang ketiga kali barulah Azam membuka matanya.
"Ragasy... kenapa? kamu nggak bisa tidur yah?" tanya Azam yang langsung bangkit dari pangkuan Alia.
Alia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Lalu kenapa? kamu marah yah karena aku ketiduran?".
"Sudah pagi, bagaimana kalau kita tahajud bersama?" tanya Alia.
"Masyaallah... bidadari surga ku... tapi bukannya kamu masih berhalangan?"
"Kebetulan kemarin sore sudah bersih, jadi sekarang aku akan mandi dulu, mudah-mudahan sudah bisa untuk sholat" ujar Alia.
Azam hanya tersenyum melihat Alia, sementara itu Alia pun segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk bersuci.
Mereka berdua melaksanakan sholat tahajud bersama dan untuk yang pertama kalinya sejak mereka menikah, setelah selesai mereka tetap berdzikir sambil menunggu datangnya waktu Subuh.
Sekitar jam 8 pagi Alia sudah siap dan sedang menunggu Azam di ruang tamu untuk berangkat bersama menuju ke makam kedua orangtuanya Azam.
Mereka berdua pergi dengan berjalan kaki karena letak pemakaman tidak jauh dari rumah Azam.
Begitu sampai, Azam langsung memimpin Alia untuk bersama-sama membacakan tahlil dan juga surat Yasin, lalu setelah itu mereka bersama membersihkan beberapa daun kering yang terjatuh di atas makam dan juga menaburkan bunga yang baru, setelah itu mereka kembali berjalan pulang.
"Ragasy, kamu kenapa? wajahmu terlihat cemas, apa karena semalam tidak bisa tidur?" tanya Azam.
"Emmm aku..."
"Cerita saja" ujar Azam.
"Kamu bilang Mba Fajri itu punya dua anak kan? tapi kemarin aku cuma lihat satu, yaitu Luthfi" ucap Alia.
Luthfi adalah anak pertama dari kakak perempuan Azam yaitu Fajri, umurnya masih 6 tahun dan baru menginjak TK. Kertas lipat berwarna hitam yang digunakan Alia untuk membuat burung kertas dulu adalah miliknya Lutfhi, keponakan perempuan yang paling dekat dengan Azam.
"Ya, soalnya kemarin Arsya lagi di tempat neneknya, orang tua dari suaminya mba Fajri" jawab Azam.
__ADS_1
"Namanya Arsya? berarti laki-laki yah" ujar Alia.
"Kamu kenapa? sepertinya tertarik sekali dengan anaknya mba Fajri?".
"Apa Arsya itu umurnya sekitar 1 tahun setengah dan belum lama baru bisa berjalan?" jelas Alia.
Azam terdiam mendengar ucapan Alia, dia menatap istrinya itu dalam-dalam seolah tak percaya bagaimana bisa Alia mengetahui semua hal itu dengan tepat padahal dirinya sama sekali tidak pernah menceritakan apapun soal Arsya.
"Kamu lama-lama itu seperti peramal yah, bisa tahu semuanya!" ujar Azam yang mengejek Alia.
"Aku serius! itu benar atau nggak?" ucap Alia sembari mencubit hidung Azam dengan kencangnya karena merasa di ejek oleh suaminya.
"Aw sakit!! iya iya... itu emang benar!" jawab Azam sembari memegangi hidungnya.
"Kita ke rumah mba Fajri sekarang yah!" ucap Alia sembari mempercepat langkahnya.
Azam merasa bingung saat melihat wajah Alia yang langsung berubah menjadi serius, langkah kakinya bahkan menjadi sangat cepat seperti orang yang sedang di kejar-kejar waktu.
"Ragasy kamu kenapa?" tanya Azam sembari memegang tangan Alia dan memintanya untuk berjalan lebih pelan.
"Mas... aku nggak mau suudzon ataupun bicara hal buruk, tapi aku benar-benar merasa kalau anak itu sepertinya sedang sakit sekarang" jawab Alia.
Azam hanya terdiam ketika mendengar pernyataan Alia, sejak tadi pagi dia memang merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, seperti sedang terjadi hal buruk pada orang terdekatnya, namun dia sendiri tidak tahu hal apa itu.
Mereka berdua pun bergegas menuju ke rumah Fajri. Begitu mereka berdua sampai, Fajri sedang berada di ruang tamu dan berdiri sambil menggendong anak keduanya yang baru saja tertidur.
"Iya Zam, badannya lumayan panas" jawab Fajri yang masih mengayun-ayunkan gendongannya.
"Sejak kapan?"
"Dari semalam sekitar jam 10 sampai pagi rewel terus, ini baru saja mau tidur".
Azam terus saja bertanya tentang keadaan keponakannya, sementara itu Alia hanya diam sembari terus menatap anak laki-laki yang ada dalam gendongan Ibu nya itu.
"Alia? kamu kenapa diam saja?" tanya Fajri.
"Eh nggak papa mba, emm apa saya boleh tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa?"
"Apa kemarin Arsya main lari-larian di luar sampai menjelang Maghrib?"
"Iya soalnya kemarin dia main di rumah mas Fauzi, dia kan baru bisa jalan, jadi lagi seneng-sengnya lari-larian di halaman" jelas Fajri.
"Mba boleh saya pegang?" tanya Alia lagi.
"Boleh..."
__ADS_1
Fajri menunjukkan anak laki-lakinya yang baru memejamkan mata di pelukannya, Alia melihat wajah anak itu sambil melirik kanan dan kiri. Tangannya berusaha untuk menyentuh kepala anak itu, namun belum sampai Alia menyentuhnya, tiba-tiba saja seseorang datang.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam..."
Alia pun terkejut saat melihat kakak laki-laki Azam yang datang, dia pun segera menjauh dari Arsya dan tidak jadi menyentuhnya.
Tatapan Fauzi terlihat begitu sinis terhadap Alia, namun ia sama sekali tidak mengerti kenapa Fauzi bersikap seperti itu padanya, dan jika diingat-ingat Alia juga merasa tidak melihat Fauzi di hari pernikahannya dan juga kemarin.
"Alia...lebih baik kamu pulang saja dulu, nanti aku menyusul" ucap Azam pelan.
Alia pun hanya mengangguk, dia lalu berpamitan kepada kedua kakak Azam, dia bahkan tersenyum kepada Fauzi sebagai rasa hormatnya, namun Fauzi terlihat tidak peduli sama sekali.
"Kenapa? apa mas Fauzi tidak suka padaku?" ucap Alia dalam hati.
Alia kembali ke rumah sendirian dan masuk ke dalam kamar, dia duduk termenung dan masih memikirkan soal sikap kakak iparnya.
Dia sebenarnya sangat ingin memberitahu Fajri soal apa yang ia lihat tentang Arsya, namun setelah melihat Fauzi, perasaannya berubah menjadi tidak percaya diri dan takut akan di anggap sok tahu oleh mereka.
"Assalamualaikum.. "
Tak lama kemudian terdengar suara Azam yang masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam..."
Alia langsung keluar dari kamar dan menghampiri Azam. Raut wajahnya masih terlihat cemas karena mengkhawatirkan keadaan Arsya.
"Gimana Arsya?" tanya Alia.
"Tadi sudah di urus sama mas Fauzi, dia cuma di ganggu sama mereka yang nggak terlihat" jawab Azam.
Alia hanya diam, dia sudah mengira bahwa Fauzi pasti akan lebih tahu tentang hal yang terjadi pada Arsya daripada pada Alia.
"Kamu kenapa? kelihatannya masih cemas, mikirin apa?" tanya Azam.
"Emm masuk dulu yah, aku buatin minum buat kamu" ujar Alia sembari berjalan ke dapur.
Azam duduk di ruang tengah dan tak lama kemudian Alia datang dengan membawa segelas teh hangat lalu duduk di samping Azam.
"Aku... aku boleh tanya sesuatu nggak?" ucap Alia dengan nada pelan.
"Tanya apa?"
"Kayaknya aku nggak lihat mas Fauzi di acara pernikahan kita, dan tadi sikapnya..."
Belum selesai Alia bicara, Azam langsung meraih tangan Alia dan memegangnya dengan erat, hal itu membuat Alia merasa semakin bingung.
__ADS_1