
Setelah lama menunggu, perawat akhirnya datang untuk memberikan hasil tes laboratorium.
Alia mempercayakan Bu Yanti untuk membaca hasil tes tersebut. Perlahan Bu Yanti mulai membuka amplop itu dan membacanya.
Bu Yanti terdiam dan menatap Alia seolah keheranan, Alia pun bingung dengan sikap Bu Yanti.
"Gimana hasilnya Bu? saya sakit apa?" tanya Alia yang sudah sangat penasaran.
"Kamu sebelumnya pernah kaya gini?" Bu Yanti balik bertanya.
Alia hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Disini kamu dinyatakan sehat, ngga sakit apa-apa" jelas Bu Yanti.
"Jadi saya sudah boleh pulang?"
"Iya sudah boleh pulang. Kamu mungkin kecapean atau tubuhmu kaget jadi mengalami hal seperti tadi, ini resep vitamin nanti tolong di ambil di apotik" perawat itu menjelaskan kepada Alia dan Bu Yanti.
Alia merasa tenang karena ia tidak harus menjalani rawat inap.
"Alia memang rumah kamu dimana? kamu ngga tinggal di pesantren?" tanya Bu Yanti.
"Ngga Bu, rumah saya sekitar satu jam kalau naik motor" jelas Alia.
"Oh pantas saja mungkin kamu kecapean tiap hari bolak-balik kaya gitu, ya sudah ayo Ibu antar kamu pulang sekarang".
Setelah mengambil obat di apotek, Bu Yanti kemudian mengantarkan Alia pulang kerumahnya.
"Assalamualaikum..."
"Walaikunsalam..."
"Lho Alia, kok kamu pulang sore sekali,, ini siapa? lho motornya dimana?" Bu Mia kaget melihat Alia pulang diantar seseorang, dia langsung mengajukan begitu banyak pertanyaan.
"Saya Yanti bu, gurunya Alia. Saya antar Alia pulang karena hari ini dia sakit jadi saya ngga tega kalau suruh dia pulang sendiri" jelas Bu Yanti.
" Oh silakan masuk dulu bu" Bu Mia mempersilahkan Bu Yanti untuk masuk.
Mereka mengobrol diruang tamu sementara Alia langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Bu Yanti menceritakan semuanya yang dialami Alia hari ini.
"Oh jadi begitu,, terimakasih sekali Bu Yanti sudah mau repot-repot mengantarkan anak saya pulang"
"Sama-sama Bu, sudah tugas saya juga, oh iya jadi mungkin ibu bisa mempertimbangkan saran saya tadi"
"Ah nanti saya coba diskusikan dulu dengan papanya Alia ya Bu"
__ADS_1
Setelah selesai mengobrol, Bu Yanti pun berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah semakin sore.
Bu Mia menengok ke kamar Alia dan dia sedang tertidur.
"Kamu kenapa nak?" ucap Bu Mia dalam hatinya.
Malamnya... Bu Mia menceritakan semua yang terjadi pada Alia hari ini kepada Pak Aji.
"Jadi tadi gurunya Alia menyarankan buat Alia tinggal di pesantren Pak" ucap Bu Mia.
"Ya kita tanya sama anaknya dulu mau apa tidak, kan yang mau menjalankan dia Bu"
"Iya juga si"
Tiba-tiba Alia keluar dari kamarnya dan mendengar sedikit tentang percakapan Mama dan Papanya.
"Lagi pada ngomongin apa si Mah?" tanya Alia.
"Kamu kalau tinggal di pesantren mau?" tanpa basa-basi Bu Mia langsung bertanya ke Alia.
"Engga!" Alia langsung menjawabnya dengan tegas.
"Kamu itu kenapa si? kan bagus kalau tinggal di pesantren, bisa sambil ngaji, dan ngga capek bolak-balik pulang, mana jauh juga" Pak Aji langsung bicara panjang lebar.
"Mah, Pah, pokoknya Alia ngga mau! Alia bisa kok cari kost di deket situ!" ucap Alia.
"Iya, tapi kalau ngga boleh juga ngga papa, aku pulang pergi aja" Alia langsung masuk ke dalam kamar dan meninggalkan papa dan mamanya.
"Bu, coba Ibu yang ngomong baik-baik, siapa tau berubah pikiran" ucap Pak Aji.
Bu Mia mengangguk dan mencoba menghampiri Alia di kamarnya.
"Mama datang bukan buat bujuk aku kan?" Alia langsung berucap ketika mamanya baru di depan pintu kamarnya.
Bu Mia lalu menghampiri Alia dan duduk di sampingnya.
"Jadi kamu benar ngga mau tinggal di pesantren?" tanya Bu Mia.
"Mah aku punya alasan!" jelas Alia.
"Oh ya? apa? apa karena itu kamu jadi ngga bebas keluar?"
"Bukan, intinya aku ngga cocok kalau harus tinggal disana mah" Alia masih kekeh dengan keputusan nya.
"Ya sudah, kamu coba cari kost saja" Bu Mia akhirnya menyerah dan mencoba menuruti keinginan Alia.
"Beneran mah?"
__ADS_1
Bu Mia mengangguk sambil tersenyum.
"Temen sekelas aku punya nenek, rumahnya deket banget dari sekolah, jalan ngga sampe lim menit mah"
"Terus? kamu mau tinggal di sana?"
"Ya kalau mama sama papa setuju, mereka cuma tinggal berdua, jadi aku rasa pasti boleh kalau aku numpang tinggal disana" jelas Alia.
"Ya sudah, besok kamu coba ngomong deh" ucap Bu Mia.
Alia merasa senang akhirnya dia tidak dipaksa untuk tinggal di Pesantren lagi.
Keesokan harinya, Alia berangkat sekolah diantar oleh Pak Aji karena motornya ditinggal di sekolah.
Begitu sampai di sekolah, Alia langsung menuju ke kelasnya dan duduk di bangku, kebetulan Nida belum datang, jadi dia duduk sendirian.
"Loh Alia kamu berangkat? udah sembuh sakitnya?" tanya Sifa, salah satu teman sekelas nya.
"Ngga kok udah ngga papa,, oh iya Sif, nanti aku boleh minta kamu temenin aku ke rumah nenekmu yah?"
"Kenapa? kamu mau ngekost dirumah nenekku?" tanya Sifa.
"Hehehe" Alia hanya tertawa.
Tiba-tiba Nida datang dan langsung menghampiri Alia.
"Alia kamu berangkat? emangnya udah sembuh? kalau masih sakit harusnya ngga usah berangkat dulu!" Nida terus bicara dan bahkan menjadi lebih rewel daripada mamanya Alia.
"Aku ngga papa kok, makasih udah khawatir sama aku" ucap Alia singkat.
Nida kini memang sudah menjadi teman baik Alia, mereka bahkan sudah sangat dekat dan menjadi sahabat, di sekolah itu rasanya hanya Nida yang bisa mengerti Alia.
Mereka bertiga mengobrol dan tak lama kemudian bell masuk kelas berbunyi. Mereka mengikuti pelajaran seperti biasa.
Setelah pulang sekolah, sesuai janjinya Sifa mengantarkan Alia untuk pergi kerumah neneknya, Alia bicara pada neneknya Sifa untuk tinggal dan dia pun menyetujui, dia juga menyuruh Sifa untuk tinggal agar bisa menemani Alia.
Tadinya Sifa tidak mau, namun setelah Alia membujuknya akhirnya dia mau. Alia merasa senang sekali dapat tinggal satu kamar dengan teman sekelasnya.
Alia langsung bergegas pulang dan memberitahu Mama nya. Mama dan papanya pun setuju untuk membiarkan Alia tinggal dirumah nenek dari temanya.
Malam harinya Alia dan Pak Aji berangkat kerumah neneknya Sifa yaitu nenek Mida, Alia juga sudah membawa beberapa baju dan keperluan sekolahnya.
Pak Aji mengantarkan Alia untuk tinggal disana dan bisa pulang saat akhir pekan.
Saat sampai disana, mereka di sambut baik oleh nenek Mida dan suaminya, Pak Aji bicara dengan suami nenek Mida yaitu Pak Udin, sementara nenek Mida mengantar Alia ke kamar yang akan dia tinggali.
Ternyata Sifa juga sudah ada di sana, dia lalu membantu Alia membereskan barang-barang nya.
__ADS_1
Setelah cukup lama mengobrol, Pak aji akhirnya berpamitan untuk pulang.