Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pernyataan Chika


__ADS_3

"Melamun aja terus!"


Tiba-tiba terdengar suara Afi yang ternyata sudah duduk di samping Alia. Alia tidak bergerak ataupun kaget sama sekali, dia masih dengan ekspresi wajah yang sama meskipun sudah menyadari kehadiran Afi.


"Kamu kenapa si?" tanya Afi.


"Nggak papa" Alia menjawab dengan singkat, pandangan matanya bahkan masih saja kosong.


"Terus?"


"Oh iya Fi hari Minggu kamu ikut aku yah"


"Kemana?"


"Ada acara di organisasi keagamaan"


"Ih ogah banget deh, emangnya aku siapa? orang aku bukan anggota juga"


"Udah deh nggak papa, aku lagi males aja ketemu sama wajah-wajah mahasiswa keagamaan itu sendirian, temenin aku yah?" Alia mencoba memohon pada Afi.


Afi terdiam, dia bingung harus menjawab apa, sementara Alia memasang wajah melas pertanda bahwa ia sangat mengharapkan persetujuan dari Afi.


"Ayolah my best friend please....." pinta Alia.


Setelah cukup lama berfikir akhirnya Afi pun menyetujuinya, Alia tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.


"Lagian kamu kalau nggak suka kenapa ikutan si?" tanya Afi.


"Huh itu si sebenarnya karena semua alumni MA di wajibkan buat ikut organisasi itu sama ketuanya, jadi lebih kaya membentuk persatuan dari alumni MA gitu si" jelas Alia.


"Alah udahlah terserah kamu, yang penting sekarang aku mau makan!"


Afi bangun dari tempat duduknya dan memesan makanan, tak lama kemudian sosok Chika kembali muncul dan duduk di depan Alia. Lagi-lagi dia datang dengan membawa beberapa buah Cherry di tangannya.


"Hei kamu dari mana? kenapa tadi pergi nggak bilang?" ucap Alia pelan sembari menengok kanan kiri karena tidak ingin ada orang lain yang melihatnya bicara sendiri.


Chika hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang memegang buah Cherry.


Alia hanya diam, dia mulai paham kalau Chika tiba-tiba menghilang mungkin karena memetik Cherry.


"Al... kamu ngomong sama siapa?"


Tiba-tiba Afi datang dengan membawa makanan pesanannya dan duduk di sebelah Alia.


"Eh Afi, em hehe" Alia menjadi salah tingkah dan tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Ngomong aja kali, aku juga nggak kaget kok"


"Yah aku ngomong sama Chika"


"Chika? belum pernah dengar kamu punya teman namanya Chika!"


"Dia teman baru aku, emm dia itu cucunya dari kakek penjaga kampus yang tengkoraknya ada di bawah pohon Cherry itu" jelas Alia.


"Uhuk uhuk!! apa!?"


Afi kaget sampai tersedak makanan yang sedang ia makan, dia juga berteriak sampai beberapa orang yang ada di kantin mulai menatap ke arah mereka.


"Sssttt!!! jangan keras-keras kali, tadi katanya nggak kaget!" ucap Alia dengan pelan sembari menengok kanan kiri.


"Sorry sorry, spontan aja hehe"


Afi melanjutkan makannya dan Alia menceritakan bagaimana dia dan Chika bisa berteman. Meskipun Afi tidak bisa melihat Chika, namun ia tidak merasa takut ataupun canggung, dia juga ikut bicara seolah bisa melihat Chika.


Chika sendiri juga terlihat tidak keberatan saat Alia menceritakan tentang dirinya pada Afi, Alia menjadi perantara dari percakapan Chika dan Afi, mereka bertiga mengobrol dengan baik karena Afi bisa merasakan kalau Chika tidak memiliki niat jahat pada Alia.


Beberapa saat berlalu, mereka masih asyik mengobrol, namun tiba-tiba raut wajah Chika berubah, dia terlihat marah dan membenci sesuatu.


"Chika kamu kenapa?" tanya Alia heran.


"Tapi kenapa..."


Belum sempat Alia menyelesaikan pertanyaannya, sosok Chika kembali menghilang begitu saja.


Alia melihat ke arah orang yang di tunjuk oleh Chika, dia ternyata adalah Irfan.


"Eh kenapa kalian lihat aku kayak gitu? aku baru datang loh?" ucap Irfan.


"Nggak papa kok" jawab Alia.


Afi hanya diam saja, dia merasa keberadaannya di situ mungkin akan menggangu Alia dan Irfan, jadi dia segera berpamitan untuk pergi.


Tadinya Alia meminta Afi untuk tidak pergi, namun Afi tetap saja pergi dengan banyak alasan.


Alia terdiam, dia kembali di buat bingung oleh perkataan Chika barusan.


"Tadi Meisya, sekarang Irfan, sebenarnya apa si maksudnya Chika? kalau Irfan dulu memang orang yang suka bermain dengan hal-hal mistis, tapi sekarang kan dia sudah berubah? dan lagi sekarang dia selalu baik sama aku, tapi kenapa Chika bilang dia jahat?" Alia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Melamun terus! mikirin apa si?"


Perkataan Irfan membuat Alia terkejut karena dia memang sedang melamun.

__ADS_1


"Ah nggak papa kok, cuma lagi mikirin itu..."


"Apa?"


"Emm Sabtu besok kita jadi kan pergi nonton konser band favorit aku?" Alia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh ya jelas jadi dong,, kan Sabtu besok anniversary kita" jawab Irfan sambil tersenyum.


"Ya bagus deh"


Perkataan Alia menjadi sangat singkat dan secukupnya saja. Tadinya ia ingin menceritakan tentang teman barunya yaitu Chika kepada Irfan, namun setelah melihat ekspresi wajah Chika yang ketakutan dan menganggap dia orang jahat, Alia mengurungkan niatnya itu.


Alia memang sangat menyayangi Irfan, baginya tidak ada orang lain lagi yang mungkin bisa mengisi hatinya, meskipun sejak awal banyak teman dan orang terdekatnya yang mengingatkan bahwa Irfan tidaklah baik untuknya, bahkan Afi pun sebenarnya tidak suka saat melihat Alia berpacaran dengan Irfan, namun Alia merasa bahwa hanya dirinya saja lah yang bisa memahami mana yang baik dan tidak untuk nya.


"Ah sudahlah mungkin saja karena Irfan memang sering berperilaku buruk terhadap mahluk tak kasat mata, sehingga Chika merasa takut dan menganggap Irfan itu orang jahat, tapi yang terpenting kan dia tetap bersikap baik padaku" Alia bergumam dalam hati.


"Kok melamun lagi, kamu itu sebenarnya lagi mikirin apa?" tanya Irfan yang mulai kesal.


"Nggak papa kok beneran"


"Kamu tahu nggak, akhir-akhir ini aku sering lihat sosok anak kecil"


"Anak kecil?"


"Ya! dia pakai baju merah, rambutnya juga di ikat pakai pita merah, udah gitu wajahnya jelek banget lagi!"


Alia terdiam, dia merasa bahwa sosok anak kecil yang sedang di bicarakan oleh Irfan adalah Chika. Namun di berusaha untuk berpura-pura tidak tahu karena dari ekspresi Irfan saat menceritakan Chika juga terlihat bahwa dia membencinya.


"Rasanya ingin aku tangkap terus aku masukin ke dalam cincin batu ini buat jadi peliharaan!" imbuh Irfan.


"Eh kok gitu si?"


Wajah Alia mulai berubah saat mendengar pernyataan Irfan, sejak dulu Irfan memang suka menangkap mahluk halus dan mengurungnya dalam sebuah benda agar mahluk itu tidak bisa berkeliaran dengan mudah lagi.


"Kok kamu kaya kaget gitu si?" tanya Irfan yang mulai heran melihat tingkah Alia tidak seperti biasa.


"Ah nggak papa, tapi dia kan anak kecil, perempuan lagi, masa mau kamu kurung juga?"


"Yah mau gimana lagi, aku risih aja melihat wajah jeleknya itu!"


"Jelek?"


Irfan kembali berkata panjang lebar, dia bercerita bahwa sosok anak kecil itu berwajah sangat buruk, kedua bola matanya sangat besar sampai mau keluar, mulutnya begitu lebar dan terus meneteskan darah sampai membasahi bajunya, aroma yang keluar dari tubuhnya juga sangat anyir karena dipenuhi darah.


Alia hanya terdiam saat mendengar cerita itu, dia tidak merasa kaget atau heran sama sekali karena dia sendiri sudah pernah melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2