Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Aku kembali


__ADS_3

Alia kembali terdiam dan menatap sosok anak kecil itu, dia terlihat malu\-malu namun akhirnya memberanikan diri untuk menampakkan wujudnya secara jelas pada Alia.


"Woy! Kamu kenapa si kok malah diam aja!" ucap Afi sambil menepuk pundak Alia.


"Ngga papa kok" jawab Alia singkat.


Afi kembali menarik tangan Alia dan mengajaknya untuk duduk sambil mengobrol bersama dengan teman-teman yang lainnya.


Banyak hal yang dikatakan pada saat seperti ini, karena momen ini tentu tidak terjadi setiap hari.


"Jadi kamu lanjut kemana Al?" tanya Afi.


"Aku deket kok, di IAIN"


"Yang di kota sebelah itu?"


"Ya"


"Wah kok sama si? Aku juga kemarin ikut tes masuknya dan di terima!"


"Serius kamu?"


Afi mengangguk sambil tersenyum gembira karena akhirnya mereka berdua bisa kuliah di tempat yang sama meskipun dengan jurusan yang berbeda.


Perlahan-lahan perhatian Alia mulai teralihkan dari sosok anak kecil yang mengikuti Aldi karena dia begitu sibuk bercerita dengan sahabat lamanya. Dia juga mulai lupa bahwa waktu terus berjalan dan sudah semakin larut, hingga saat ia melihat ke arah jam tangannya ternyata sudah jam 9.30 malam, ia teringat pesan papanya untuk pulang sebelum jam 10 malam.


"Eh Fi, udah malam nih kamu mau pulang ngga ayo aku antar" ucap Alia


"Oh iya, ya udah ayo kita pamitan dulu sama yang lainnya"


Mereka berdua pun pergi untuk berpamitan dengan teman-teman yang lain, Alia juga tak lupa berpamitan kepada Aldi dan memberitahu sesuatu.


"Oh iya nanti pulangnya jangan lupa mampir ke sungai dekat rumahmu yah, dan cuci tangan kamu pake airnya" ucap Alia.


"Eh kenapa? " tanya Aldi yang heran.


"Hehe udah ikutin aja biar tenang"


"Eh tapi masa malam-malam aku harus ke sungai si..."


Aldi belum selesai bicara namun Alia sudah meninggalkannya dan bergegas untuk mengantarkan Afi pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Setelah selesai mengantarkan Afi, Alia langsung pulang karena waktu sudah semakin malam.


Alia sampai di rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Dia duduk sambil menghela nafas dan meraih ponselnya.


Dia merasa belum mengantuk dan bosan, jadi ia memainkan ponselnya dan tanpa sengaja menemukan sebuah foto lama saat ia menjalani kegiatan di Mts.


"Eh foto ini, kok masih ada aja ya?"


Terlihat sebuah foto prasasti batu tulis yang dulu di ambilnya saat melakukan kegiatan outdoor.


Ia jadi teringat akan sosok Mawar yang selalu muncul di hadapannya semenjak ia pulang dari tempat itu.


"Kok aku tiba-tiba jadi ingin banget ke tempat itu yah?"


Alia berpikir bahwa mungkin sudah saatnya dia mengembalikan Mawar itu ke asal saat dia menemukannya, karena kalau dipikir-pikir sudah cukup lama dia mengikuti Alia sampai sekarang.


Alia lalu mengambil ponselnya dan menelpon Afi, dia meminta Afi agar mau menemaninya pergi ke situs batu tulis itu dan melakukan sesuatu yang sudah diinginkannya.


Setelah cukup lama membujuk Afi, akhirnya dia pun mau menemani Alia, maskipun tadinya sempat menolak.


Setelah selesai menelfon Afi, Alia membaringkan tubuhnya di lantai yang hanya beralaskan kasur tipis, dia melihat ke arah langit-langit kamarnya sambil mengingat kembali semua yang telah ia lihat di kamarnya itu.


Alia sebenarnya sudah merasa lelah dengan kemampuannya, namun apalah daya karena dia tidak bisa menghilangkan itu begitu saja, jadi dia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik menurutnya.


**********


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Alia bersiap untuk pergi ke rumah Afi. Sekitar jam 9 pagi dia sampai dirumah Afi dan langsung mengajaknya pergi setelah berpamitan dengan Mama nya Afi.


Mereka berdua pergi naik sepeda motor milik Alia, Kini Alia sudah bebas pergi kemana saja tanpa rasa takut saat mengendarai sepeda motornya karena sebelum kelulusan ia sudah berhasil mendapatkan surat ijin mengemudi untuk kendaraan beroda dua.


Sekitar 45 menit melakukan perjalanan akhirnya mereka berdua mulai memasuki kawasan situs batu tulis yang di sekitarnya hanya ada perkebunan dan sawah. Karena lokasinya yang terletak jauh dari jalur kendaraan besar jadi sangat jarang sekali rumah ataupun bangunan lain.


"Kawasan ini masih sama yah, alami!" ucap Afi.


"Iya, ngga banyak berubah, tapi jalannya sudah bagus"


"Eh Alia stop deh, bukannya itu tempatnya?" sambil menunjuk ke arah pintu gerbang berwarna hitam yang terbuka sedikit.


"Masa sih? tapi seingat aku dulu di depan sana ngga ada warungnya deh?"


"Ya itu kan dulu! sekarang udah berapa tahun!"

__ADS_1


Setelah lama berdebat akhirnya Alia memutuskan untuk masuk ke dalam pintu gerbang itu, dan benar saja memang tempat itu yang mereka tuju.


Suasana di tempat itu masih saja sama, begitu sepi dan dingin dengan dikelilingi banyak pepohonan tinggi yang membuat tempat itu terlihat agak gelap.


Alia dan Afi berjalan menuju sebuah rumah kecil yang dulu digunakan oleh penjaganya untuk tinggal.


"Rumah ini masih sama yah?" ucap Alia pelan.


"Udah cepat ketok pintunya!"


Alia mengangguk dan perlahan mulai mengetuk pintu, tak lama kemudian seorang bapak tua dengan rambut panjang sebahu dan sudah berwarna putih keluar membuka pintu. Raut wajahnya terlihat menakutkan dan sangat dingin.


"Eh kok orangnya beda si? ah mungkin saja sudah ganti pengurus!" gumam Alia dalam hati.


Bapak itu hanya terdiam melihat kedatangan Alia dan Afi, jadi Alia pun memulai untuk bicara dan menceritakan semua yang ia alami sejak kepulangannya dari tempat itu.


Bapak itu bahkan tidak mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan hanya bicara sambil berdiri di depan pintu saja.


Setelah Alia selesai menceritakan semuanya, bapak itu hanya mengatakan satu kalimat saja.


"Kamu petik lah satu tangkai bunga kantil yang ada di depan itu, lalu kamu datang lagi ke tempat prasasti batu tulis dan taruh bunga kantil di atas batunya, kemudian jangan lupa berdoa"


Setelah mendengar kalimat itu ia langsung berpamitan dan pergi, bapak tua itu hanya mengangguk lalu menutup kembali pintu rumahnya.


"Itu orang aneh banget si! masa ada tamu ngga di suruh masuk sama sekali!" gerutu Afi.


"Udahlah lagian tujuan kita ke sini juga bukan untuk bertamu kan" jawab Alia.


Alia dan Afi berjalan dan menuju ke pohon kantil yang ditunjukan oleh bapak tua tadi. Alia lalu memetik satu tangkai dan langsung berjalan menuju ke belakang tempat itu, ia menuju ke sebuah tempat yang berada agak masuk ke dalam hutan.


Tempat itu terlihat masih sama, sebuah batu besar yang dikelilingi pagar besi berwarna hijau tua dan pohon besar yang sangat tinggi di sampingnya.


Perlahan Alia mendekati batu itu, dia membuka pintu pagar besi itu dan meletakkan bunga kantil yang ia petik tadi. Dia juga tidak lupa untuk berdoa dan berharap yang terbaik.


Setelah selesai ia keluar dan berdiri di depan pagar besi sambil menatap batu itu.


"Hari ini aku kembali, dan semoga saja aku tidak mengganggu kalian, sejujurnya aku hanya ingin terlepas dari semua ini, maaf jika aku tidak bisa membantu." Alia berucap dalam hatinya sambil terus memandangi batu besar itu.


Tak lama kemudian ia mulai melihat ada sebuah asap putih tebal yang mengelilingi batu besar itu dan perlahan mulai masuk ke dalamnya.


Alia segera mengajak Afi untuk meninggalkan tempat itu dan pulang.

__ADS_1


__ADS_2